When Love Walk In

Aiden Lee

Cast : Aiden Lassiter, Claire Cavendish

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Author : Dvirginanda

“if only I could promise forever, then we could just be we forever you and me, forever and ever”

***

Katherine Summers memasuki ruang meeting dengan tergesa-gesa setelah mengetuk pintunya beberapa kali. Ia membisikkan beberapa kalimat pada pria yang tengah berperan di depan layar infocus. Pria itu mengerutkan keningnya, lalu memutuskan sesuatu “katakan aku sedang meeting dan susun kembali jadwal pertemuanku dengannya” intruksinya.

“tapi-” Kate mencoba menyangkal, namun sepertinya CEO-nya itu tidak mau mendengar penjelasannya lebih lanjut hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui tamu yang tidak di undang itu. Kate yakin akan ada perang dunia ketiga antara dia dan tamu bosnya, dan dia lebih yakin lagi bahwa beberapa menit lagi dia akan kembali ke ruang meeting untuk membujuk CEO-nya menemui tamu itu. membayangkannya saja sudah membuat Kate sakit kepala.

Aiden kembali terfokus pada layar infocus, menjelaskan beberapa konsep tetang pembuatan pesawat untuk Europe Airlines. Dia kembali menghentikan aktivitasnya ketika deringan ponsel miliknya memenuhi ruang meeting, Aiden mengumpat kecil sebelum membuka pesan masuk.

Happy B’day, My J ^^

Untuk beberapa saat Aiden seakan terhipnotis oleh sebaris kalimat yang diterimanya. Pesan itu dari Claire, Claire Cavendish. Gadis yang menyita semua perhatiannya selama dua tahun penuh. Gadis yang ia pikir tidak pernah menengok sedikit pun ke dalam kehidupannya.

“Aiden tidak bisakah kau mengajari sekretarismu agar tidak berbuat anarkis-” pandangan Aiden reflex tertuju kearah pintu masuk yang dibuka secara paksa ketika mendengar suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia terdiam, terpaku pada satu titik yang membuatnya lupa bahwa ia sedang berada diruang meeting bersama beberapa kolega bisnisnya.

Hancurlah meeting kali ini, batin Kate yang masih berusaha menyeret Claire keluar.

“Claire ?” sebuah suara yang berasal dari salah satu koleganya, berhasil mengembalikan kesadaran Aiden. “hai, Dad. Aku tidak tau jika kau sedang menghadiri meeting si pria dari musim dingin itu” jawab Claire inosen sambil melambai kecil kearah ayahnya dengan senyum manisnya. Dia bahkan tidak peduli dengan semua pasangan mata yang tertuju padanya karena menghancurkan meeting kali ini.

“pria musim dingin ?” ulang ayahnya dengan kening yang berkerut. Claire mengangguk kecil, “Aiden Lassiter, si pengusaha muda tersukses abad ini” jelas Claire dengan pandangan lurusnya yang tertuju pada Aiden.

Aiden mempercepat langkahnya utuk menghampiri Claire lalu menyeret gadis itu keluar sebelum gadis itu mengelurkan kata-kata aneh yang dapat merusak reputasinya, “maaf, meeting kali ini sampai disini dan akan dilanjutkan setelah sekretarisku menyusun ulang jadwalku” ucap Aiden sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu bersama Claire.

***

Aiden memandang lekuk tubuh sempurna yang tengah duduk diatas meja kerjanya. mengamatinya dan merekam setiap detail gerak-gerik gadis itu. dia tidak akan melewatkan sedetik pun kebersamaannya dengan Claire.

Sebuah senyum kecil terlukis dibibirnya, dan sebuah pertanyaan simple memenuhi benaknya. Setaunya, Claire memiliki tingkat kedpedulian yang sangat rendah terhadap orang-orang disekitarnya. Kita bisa mengkategorikan Claire sebagai gadis yang tidak pedulian.

Dia hanyalah gadis sempurna yang Cuma peduli dengan berat badan, penampilan, fashion, dan kariernya. Hanya itu. bahkan Aiden pun tidak masuk kedalam daftar kepeduliannya. Tapi hari ini, kali ini, dia mengingat hari kelahiran Aiden dan itu sebuah mukjizat yang luar biasa bagi Aiden. Dan lagi, Claire tidak mau repot-repot meluangkan jadwal Show-nya hanya untuk hal sepele sejenis B’day Greetings.

“kau tidak ingin tau dari mana aku tau kalau hari ini hari kelahiranmu ?” tanya Claire seakan dia bisa membaca pikiran Aiden. Dia beralih dari kuku-kuku indahnya untuk menatap Aiden, menunggu respon dari pria itu.

Claire reflex memejamkan matanya ketika Aiden mengecup keningnya singkat, “aku lebih suka mendengar pernyataan bahwa kau pulang ke Manhattan karena kau merindukanku” gurau Aiden dengan kekehan kecilnya. Untuk kali ini, biarlah Aiden mengambil langkah serius dalam hubungan tanpa status mereka.

Claire tersenyum kecil tanpa Aiden sadari, entah sejak kapan mata teduh itu berhasil memenuhi setiap inci otak Claire. Dan mungkin Aiden tidak sadar bahwa ia sudah berhasil merubah gadis yang memiliki tingkat kepedulian sangat rendah menjadi gadis yang memiliki tingkat kepedulian sangat tinggi, termasuk hal-hal spele sejenis ulangtahun Aiden.

“bagaimana jika pernyataan bahwa aku pulang ke Manhattan karena pria musim dingin bernama Aiden Lassiter berhasil mengambil alih duniaku belakang ini ?” Claire menatap lekat mata teduh itu, lalu terkekeh pelan. Mencoba mengabaikan debaran jantungnya yang begitu kuat karena takut dengan respon Aiden yang tidak sesuai dengan keinginannya. Kini ia mencoba membuat ucapannya tadi terdengar seperti sebuah lelucon.

Aiden tidak berniat menanggapi pernyataan Claire, dia tidak bisa. atau tepatnya, ini bukan saatnya. dia lebih memilih menanggapi gurauan gadis itu, “bicara soal pria musim dingin, kenapa kau memberiku julukan aneh seperti itu ?” protes Aiden dengan ekspressi bingungnya.

Claire menatap kedalam mata teduh itu, “karena kau selalu bersikap kaku dan lebih memilih memperhatikanku secara diam-diam setiap kali kita bertemu. Kau tau Aiden ? sekarang kau jauh lebih menyenangkan dari pada sebelumnya” suara Claire terdengar begitu serius tanpa ada nada gurauan sedikit pun.

Aiden tertegun, cukup terjekut ketika mengetahui suatu fakta bahwa selama ini Claire memperhatikannya.

“aku membatalkan kerjasama dengan Donnatella Versace dan mengambil penerbangan langsung dari Itali ke Manhattan” Claire menghela nafasnya untuk mengambil jeda, lalu melanjutkan “managerku, Samantha marah besar ketika tau alasanku menolak kontrak kerja itu”

“dia bilang tidak seharusnya aku mengorbankan karirku untuk pria, karena semua pria berengsek. Tidak ada satu pun pria yang berhak untuk diperjuangkan, termasuk kau. Tapi aku- menurutku itu tidak benar” dan jika otak Aiden bisa bekerja dengan cepat, pria itu akan tau apa maksud Claire sebenarnya.

“ku pikir Samantha benar” ucap Aiden. Claire terdiam, ketakutan yang dari tadi menjalari setiap jengkal tubuhnya kini menjadi kenyataan. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menghujam hatinya.

Dia sudah mengambil jalan yang salah, dan dia mengutuk dirinya sendiri karena lebih memilih Aiden dari pada karir modelingnya. Claire berkedip, mencoba menyadarkan dirinya dari keterdiaman, “ya, seharusnya aku tidak memutuskan untuk menetap di Manhattan” ucapnya serak. Suaranya mulai terdengar parau dan ia yakin sebentar lagi tetesan butiran bening akan lolos dari mata samuderanya.

“seharusnya aku-”

“dengar, semua orang berhak menggapai karirnya tanpa ada satupun penghalang” potong Aiden. Dia memandang Claire yang sudah mengalihkan wajahnya, “kau dengan karirmu di dunia supermodel dan aku dengan karirku di dunia bisnis. Kita memiliki kesibukan masing-masing, dan Samantha benar. Sulit bagi kita meluangkan waktu untuk bersama” lanjutnya.

“mungkin aku sudah terlalu jauh berfantasi tentang kita” Claire turun dari meja kerja Aiden, membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut lalu kembali memandang pria itu. “and.. Happy B’day Aiden. If I could unmeet you.. I would” lanjut Claire sebelum berlalu melewati Aiden.

Ini untuk pertama kalinya, yeah untuk pertama kalinya seorang Claire Cavendish dicampahkan oleh seorang pria. Mungkin ini karma dari kelakuannya yang sering mempermainkan pria. Ternyata dipermainkan itu jauh lebih menyakitkan dari pada menjadi model yang tidak dianggap.

Claire menggerakkan tangannya untuk membuka kenop pintu, rasanya dia tidak kuat lagi berhadapan dengan Aiden atau air matanya akan pecah saat itu juga.

Gerakan tangannya terhenti ketika sepsang tangan melingkar ditubuhnya, dia terdiam. Mencoba beranggapan bahwa apa yang ia rasakan hanyalah sebuah imajinasi. Tapi seperti itu mustahil ketika ia kembali mendengar suara Aiden di balik tubuhnya.

“Samantha benar tentang pria yang tidak pantas diperjuangkan ataupun seseorang yang akan menghambat karir kita, tapi aku akan menentangnya. Aku akan menentangnya untuk kita” bisik Aiden.

“aku tidak serius dengan kata-kataku tadi, Claire”

“if only I could promise forever, then we could just be we forever you and me, forever and ever” lanjut Aiden yang membuat Claire berbalik lalu memeluknya erat. “I can be your tinkerberll and you can be my peterpan, and we can run away together off to neverland” balas Claire.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s