Times {Something Wrong}

 

 

 

COVER

 

 

 

Seoul,25 december 2014        

Aku termenung ,duduk sendirian di pinggir jendela kaca dengan segelas Capuccino di atas meja sambil menopang dagu lesu. Suasana yang tentram dengan lantunan lagu yang di nyanyikan oleh salah satu penyanyi favoritku Britney Spears mengema di ruangan ini membuat suasana terasa sedikit… melankolis. Di luar turun salju. Salju pertama di tahun ini. Memutihkan pepohonan serta jalanan umum. Orang-orang di luar terlihat sangat senang, anak-anak kecil memekik kegirangan sambil melonjak-lonjakan tubuhnya seakan-akan mereka baru saja kejatuhan permen. Semua orang menyukai salju, tetapi tidak denganku. Mungkin aku aneh, karena semua orang menyukai salju sedangkan aku tidak. Mereka selalu menantikan salju turun.Tetapi aku berharap aku bisa tinggal dimana tidak akan adanya yang namanya salju.Aku benci kedinginan.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.Dan ia terlambat.Aku sudah sangat kebosanan disini.Capuccino yang aku pesan bahkan sudah mendingin.Seharusnya ia tahu,kalau aku tidak suka menunggu apalagi sendirian.Itu sangat membosankan.Aku kembali melirik arloji di tanganku memutuskan untuk tidak menunggunya lebih lama lagi karena ada seseorang yang juga sedang menungguku.Aku sudah berjanji padanya untuk merayakan natal bersama keluarganya dan aku sudah sangat terlambat.

Aku bangkit dari tempat duduk, mengambil mantel bulu tebal dan bergegas keluar dari Caffe tersebut.Cuaca di luar sangat dingin.Mungkin karena salju yang baru saja turun bertepatan dengan malam natal.Tanganku bergerak mengambil kunci mobil di dalam tas sambil berjalan menuju mobil yang aku parkiran di pinggir jalan.

Ketika mendapatkan barang yang aku cari,aku mendongak dan menemukan orang yang dari tadi kutunggu muncul di hadapanku.Aku menatapnya datar,sedikit memiringkan kepala.Sejujurnya aku ada begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.Tapi aku menunggunya bicara dan menyampaikan alasannya agar aku tidak marah padanya.Tetapi ia diam seperti tidak berniat bicara sama sekali.

Aku mengela nafas sejenak”Aku harus pergi.Dia sudah menungguku”kataku datar berjalan melewatinya tetapi pria itu menahan pergelangan tanganku.

“Jangan pergi”

Aku menoleh dan dia melakukan hal yang sama.

”Kenapa?”

“Karena aku membutuhkanmu”

 

 

 

Seoul,27 Desember 2011

 

Ini bukan pertama kalinya untukku,mungkin ini sudah menjadi ribuan kali aku menunggunya. Entah kenapa walaupun aku tahu ia akan datang terlambat tetapi aku tetap saja menunggunya. Terdengar bodoh? Iya! Menjengkelkan? Sangat! Ini sangat menjengkelkan ditambah lagi aku hanya berdiri seperti orang bodoh di depan Cafe yang biasa menjadi tempat kami bertemu. Kadang-kadang pejalan kaki memandangku aneh dan aku hanya bisa menundukan kepala menahan malu. Siapa yang tidak akan memandangmu aneh karena hanya berdiri di depan Cafe selama satu jam lebih ditambah dengan cuaca dingin yang bisa membekukanmu?

Aku bisa saja masuk dan menunggunya di dalam, tetapi aku lebih suka menunggunya di luar dan berjalan masuk ke dalam bersamanya. Karena aku menyukai caranya menggengam tanganku dan membukakan pintu untukku. Dia selalu memperlakukan aku semanis itu. Dan. aku menyukainya. Ah… ralat! Aku selalu menyukai apapun yang ada di dalam dirinya.

Cuaca dingin membuat tubuhku membeku sampai ke tulang. Walaupun tubuhku sudah dilampisi pakaian hangat tetap saja dinginnya membuatku mengigil. Aku pikir sebentar lagi aku bisa mati membeku kalau aku menunggunya lebih lama. Rasa kesal mengegerogoti hatiku, membayangkan wajah pria itu membuat emosiku naik ke ubun-ubun. Berbagai tindakan kejam tergiang dikepalaku untuk memberinya hukuman atas keterlambatannya yang sudah menjadi kebiasaan. Laki-laki itu… benar-benar menyebalkan!

Aku semakin merapatkan mantelku menegok ke kiri dan ke kanan mencari bayang-bayang pria itu di tengah keramaian pejalan kaki, tetapi aku sama sekali tak menemukan sosoknya. Tanpa sadar, aku menghentakan kakiku, hal yang selalu aku lakukan kalau kesabaranku sudah berada di batas maksimal. Aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa mataku berair seperti ingin menangis. Tetapi, sentuhan seseorang yang memelukku dari belakang membuat tubuhku tegang. Rasa marah dan kesal berganti menjadi rasa nyaman yang membuatku melupakan segala penderitaan yang aku alami selama satu jam lebih. Tangannya yang berada di perutku serta dagunya yang ia letakan di pundakku membuatku jauh lebih hangat. Sungguh… ini lebih nyaman dari pada aku berbaring di tempat tidurku nan empuk dengan selimut tebal, pelukannya lebih nyaman dari itu. Aku bisa merasakannya, deru nafasnya di leherku memberikan sensasi yang menggelitik perutku seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam sana. Membuat jantungku berdetak lebih cepat dari batas normal.Wangi tubuhnya mengeruak di indera penciumanku. Ini adalah parfum yang aku pilihkan untuknya. Aku menyukai wangi parfum itu bercampur dengan wangi tubuhnya.

Aku masih terdiam membeku tidak tahu reaksi apa yang harus berikan sementara aku harus menundukan kepalaku dalam-dalam karena semua orang melihat kami. Oh… tuhan apa yang ada di kepala pria itu hingga memelukku di tengah keramaian seperti ini. Apa dia pikir dia sedang syuting drama?

“Maafkan aku,” bisiknya. Bahkan, sebelum ia meminta maaf aku sudah memaafkannya terlebih dahulu. Ia selalu seperti ini, meminta maaf sebelum aku sempat memarahinya sehingga aku tidak jadi marah padanya dan langsung luluh saat melihat tampangnya yang polos saat meminta maaf padaku.

Aku menelan ludah seperti menelan batu besar, berusaha untuk membasahi tenggorakanku agar bisa bicara dengan normal. Aku tidak ingin terlihat gugup di depannya. Memalukan! Ketika aku akan membuka suara ia membalikan tubuhku secara tiba-tiba hingga saat ini aku berhadapan dengannya, tangannya menangkup kedua pipiku membuat jantungku kembali menggila.Oh… ayolah ini bukan pertama kalinya ia melakukan ini!

“Kenapa kau tidak menunggu di dalam? Kau pasti sudah lama berdiri disini sampai-sampai bibirmu memutih seperti ini!” ujarnya dengan tampang khawatir yang sangat kantara sambil mengusap permukan bibirku dengan ibu jarinya. Aku tidak dapat bersuara,aku merasakan pasokan oksigenku menepis atas perlakukannya yang harus membuatku menahan nafas. Brengsek! Aku selalu seperti ini setiap bersamanya!

Aku mengenggam tangannya yang berada di wajahku, bagus ini permulaan yang bagus,batinku. Dengan keras aku menghentakan tangannya. Iya seperti ini ,kau tidak bisa memaafkannya terus-terusan. Ia menatapku terkejut atas perlakuanku yang ‘tidak seperti biasanya’.

“Kalau kau benar-benar peduli denganku,” aku menghembuskan nafas lega karena suaraku terdengar biasa-biasa saja”tidak seharusnya kau terlambat”lanjutku menatapnya dengan tampang kesal mengerucutkan bibir.

Aku bersorak dalam hati karena berhasil membuatnya terdiam. Ia diam beberapa detik tanpa ekspresi apapun diwajahnya sehingga aku harus menebak-nebak apa yang sedang ia pikirkan. Dia selalu seperti ini,tanpa ekspresi hingga aku harus bermain tebak-tebakan dengan otakku mencari tahu apa yang ia pikirkan di kepalanya itu.

Ia menatapku dengan mata tajamnya  mamasukan tangannya ke dalam saku mantel yang ia pakai dan membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu “Kalau begitu…apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?” tanyanya menatap mataku serius.

Dia adalah pria yang selalu pada intinya.       Ia bukanlah pria yang suka bertele-tele dan aku menyukai sifatnya yang ini.         Aku menyunggingikan senyum tipis berusaha menahan tawa ketika melihat wajahnya yang begitu polos ketika bertanya padaku.Bagaimana bisa aku marah padanya kalau ia bertingkah semanis itu dihadapanku?

“Kau hanya perlu berjanji padaku” Ia mengangkat alisnya, mengarahkan bola matanya ke atas seperti berpikir  lalu kembali menatapku.

“Berjanji untuk tidak terlambat lagi?” tebaknya menatapku.

Aku menggelengkan kepala menatapnya dengan senyum misterius. Ia berdecak kesal karena tebakannya salah lalu memandangku mengerutkan alis.

“Lalu?”

“Berjanjilah kalau kau…hanya mencintai aku seorang!” Ia terdiam sedikit shock mungkin, lalu tersenyum dan sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak membuat aku menatapnya bingung. Ia mengarahkan kepalanya ke atas masih dengan tawanya. Aku pikir aku sudah mengatakan hal yang sangat romantis tetapi kenapa ia tertawa? Apa aku mengatakan sesuatu salah bicara?

Pria itu mencubit pipiku dengan gemas lalu mengelusnya lembut sedangkan aku hanya menatapnya masih bingung. Tangannya menarikku ke dalam dekapannya hingga jantung kembali menggila. Lagi-lagi aku merasakan pasokan oksigen disekitarku menepis. Ia mengelus pucak kepalaku lalu berbisik di telingaku.

”Bagaimana bisa kau meragukanku Han Hye Joo? Bahkan otakku hanya memikirkanmu!”

***

 

Seoul,14 January 2012

 

Ini hari ulang tahunnya dan aku tidak tahu apa ia menyukai hadiah  yang akan aku berikan padanya atau tidak. Aku pikir dia sudah memiliki segalanya dan ia tak kekurangan apapun. Dia terlahir dari keluarga kaya dan keluarganya termasuk dalam keluarga chaebol di Korea, orang tuanya adalah jenis orang tua yang suka memanjakan anak. Apapun yang di inginkannya akan terpenuhi seperti Alladin yang memiliki lampu ajaib. Walaupun orang tuanya sibuk tetapi mereka selalu memperhatikannya, kadang-kadang ia dan ayahnya akan menyempatkan waktu untuk pergi bermain Golf bersama atau menonton pertandingan bola bersama. Dan ibunya sangat perhatian padanya, walaupun beliau jarang di rumah tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk menelfon anaknya menanyakan hal-hal yang dianggap sepele oleh setiap orang tetapi sangat bearti oleh pria itu. Tidak seperti keluarga kaya yang kalian lihat di televisi atau kalian baca di novel. Di beruntung dan kehidupannya nyaris sempurna. Keluarga yang harmonis, populer di sekolah, dan banyak gadis yang begitu tergila-gila padanya. Dan, aku sangat senang karena begitu banyak gadis yang memujanya tetapi ia lebh memilih aku untuk memilikinya.

Dia selalu tersenyum ketika ibunya menelfon dan mengangkatnya dengan penuh kegembiraan. Aku menyukainya ketika ia bicara dengan ibunya melalui telfon. Melihat senyumnya membuat aku ikut tersenyum atau mendengar tawanya membuat aku juga ingin tertawa. Sikapnya selalu berpengaruh padaku dan dia beruntung karena memiliki orang tua seperti mereka.

Ayahku dan ayahnya adalah sahabat sejak masuk Universitas. Keluarga kami sudah sangat dekat, ibuku dan ibunya pun berteman. Aku bertemu dengannya pertama kali waktu orang tuanya merayakan hari pekawinan mereka yang ke-8. Dan kami tidak pernah dekat saat itu.Waktu  itu kami hanya saling memandang satu sama lain dengan memegang mainan masing-masing seakan itu adalah benda beharga yang nilainya sama seperti nyawa kami. Tetapi saat memasuki sekolah menengah pertama aku satu kelasnya dengannya, dan sejak itu kami berteman. Walaupun tidak terlalu dekat tetapi diantara semua gadis yang ia kenal aku adalah gadis yang paling dekat dengannya.

Orang bilang tidak ada persahabatan antara wanita dan laki-laki. Aku sempat menentang mereka yang bicara seperti itu, karena menurutku persahabatan bukan hanya antara perempuan dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki, perempuan dan laki-laki pun bisa bersahabat. Tetapi ternyata aku salah dan mereka benar bahwa tidak ada persahabatan murni antara perempuan dan laki-laki. Seperti aku dan dia. Kami mulanya bersahabat…dan siapa menyangka ternyata kami berubah menjadi sepasang kekasih? Orang tua kami pun tak menyangka dan sangat mendukung hubungan kami. Teman-temannya pun mendukung hubungan kami. Tidak dengan… gadis-gadis yang memujanya. Sejak aku menjalin hubungan dengan pria itu aku tidak memiliki teman wanita disekolahku. Mereka semua membenciku dan aku sama sekali tak peduli

Aku memandangi kotak persegi yang telah dihiasi  dengan pita besar berwarna merah di tengahnya. Hadiah yang akan aku berikan padanya ada di dalam. Hanya hadiah kecil yang mungkin sudah ia miliki. Aku membuatnya dengan penuh kesabaran, walaupun hasilnya tidak terlalu bagus tetapi masih nampak layak kalau di pakai. Berulang kali tanganku tertusuk jarum karena aku yang masih belum terampil dalam menjahit dan aku sangat berterima kasih pada ibuku yang membantu dengan penuh kesabaran.

Tanganku mendorong pintu memasuki cafe, berjalan ke arahnya yang melambaikan tangannya ketika mataku bertemu dengannya. Ia tersenyum padaku dan akupun melakukan hal yang sama padanya. Dengan langkah pasti aku berjalan ke arahnya sambil memegang kotak tadi. Aku dapat mendengar berbagai ledekan keluar dari mulut teman-temannya yang memang berkumpul untuk merayakan hari ulang tahunya. Hingga sekarang aku sudah berdiri di hadapannya ia masih tersenyum padaku.

“Aku takut mulutmu akan robek karena senyumnya terlalu lebar, Kim Jong In!” ledek Baekhyun, yang membuat semua orang tertawa.Aku memandangi Baekhyun yang masih tertawa karena berhasil meledek Kai. Rasanya aku ingin ikut tertawa mendengar ledekan Baekhyun tetapi aku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.

“Dia bahkan tidak tersenyum sama sekali saat bersama kami, tetapi langsung tersenyum lebar ketika kau datang” kali ini suara Chanyeol yang bicara membuat Kai hanya menundukan kepalanya karena malu. Membuat  aku tak tahan untuk tidak ikut tertawa.

“Kau tahu dia selalu menolehkan kepalanya ke belakang ketika mendengar suara pintu terbuka! Aku sampai khawatir dengan kepalanya!” ucap Kyung Soo menimpali yang membuat tawa mereka semakin meledak. Mereka bertiga adalah sahabat kentalnya, mereka berteman sudah sangat lama. Dan aku tidak mengerti kenapa mereka bertiga bisa begitu kompak dengan sifat yang bertolak belakang.

“Hei… kalian! Hentikan… kalian membuatnya malu,” ujarku melerai mereka yang terus meledek Kai sehingga mereka bertiga bersorak karena aku membela pria itu membuat pengunjung cafe menolehkan kepalanya ke meja kami, karena kami yang terlalu berisik. Aku duduk di sebelah Kai melatakan hadiah yang aku siapkan di samping tempat dudukku yang kosong. Ada Cake ditengah-tengah meja dan banyak lilin di sekitarnya. Aku menolehkan kepalaku memandang Kai yang sedang bicara dengan Kyung Soo.

“Kau belum meniup lilin?” tanyaku ketika mendapati sumbu lilin itu masih bersih.

“Ah…itu,” ia kaget tampak gugup  mengusap bagian belakang kepalanya. Aku mengernyitkan dahi, melihat tingkahnya. Entah kenapa hari ini, ia begitu manis. Dengan sikap malu-malunya tadi dan sekarang melihatnya salah tingkah.

“Dia bahkan melarang kami memesan  makanan sebelum kau datang!” aku tekekeh kecil melihat raut wajah Chanyeol yang kesal, dia selalu sensitive mengenai makanan.

“Baiklah… Baiklah… aku minta maaf karena menimbulkan banyak masalah karena keterlambatanku!” ucapku menyesal. Biasanya aku tidak pernah terlambat, tetapi karena semalaman aku terjaga hingga larut malam menyiapkan hadiah untuk Kai.Aku sampai bangun kesiangan.

“Eeeiii, kenapa kau begitu serius? Kami hanya bercanda, sebenarnya kami masih menunggu seseorang lagi,” ujar Baekhyun membenarkan letak topinya yang ia pakai secara terbalik dan Baekhyun tampak keren ketika ia memakai topi secara terbalik. Aku menatap Baekhyun sambil mengerutkan dahi, setahuku Kai tidak mengatakan apapun soal tamu ‘baru’ ini.

“Siapa?” tanyaku, mendekatkan sedikit wajahku menatap Baekhyun penasaran.

Baekhyun menatapku menutup bibirnya rapat-rapat sambil menggelengkan kepala tidak ingin memberitahu.Aku mendengus kesal.Kemudian,aku melirik Chanyeol yang duduk di sebelah Baekhyun tetapi pria itu mengangkat bahunya acuh kemudian ber-highfive ria bersama Baekhyun karena aku semakin menekuk muka kesal.Lalu beralih pada Kyung Soo yang tadinya memainkan Iphone tetapi ketika dia sadar kalau aku menatapnya ia langsung menatapku. Kyung Soo memberikan reaksi yang sama seperti Chanyeol dan aku kembali medengus dan yang terakhir aku menatap Kai yang berada di sebelahku.

“Kau akan tahu ketika dia datang,” ujar Kai memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan keinginanku. Aku mengercutkan bibirku memandang mereka semua kesal, sejak kapan mereka bermain rahasia denganku. Menyebalkan!

“Apa itu hadiah untukku?” tanya Kai melirik benda persegi di sebelahku mengalihkan perhatian agar aku tidak terlalu memikirkan seseorang yang mereka katakan. Aku menganggukan kepalaku hendak megambilnya tetapi suara Baekhyun menghentikanku.

“Oh…itu dia!” ujarnya menunjuk seseorang di belakangku. Aku menengok ke belakang dan  menemukan seorang pria tampan yang umurnya mungkin sama seperti kami. Rambutnya berwarna merah tetapi tidak terlalu menyala dan kulitnya putih.Ia terlihat tampan walaupun hanya menggunakan sweater berwarna biru tua dan jeans berwana hitam.

Aku merasakan jantungku berdegup dengan kencang. Aku memegang dadaku merasakan jantung semakin berdegup ketika ia semakin dekat. Aku terpana untuk sesaat ketika ia tersenyum, aku berusaha untuk berpikir normal. Tidak… tidak seharusnya aku terpesona pada pria lain sedangkan disebalahku adalah kekasihku. Tetapi, rasa ini… Rasa ini… Sama seperti saat aku…

“Hye Joo? Han Hye Joo?” aku tersentak ketika Kai memegang pergelangan tanganku. Aku menatap Kai yang terlihat khawatir denganku ”Kau baik-baik saja?” tanyanya. Aku tersenyum menganggukan kepalaku.

”Aku baik-baik saja! Ada apa?”

“Hadiahmu,” aku melirik kotak persegi itu yang aku letakan di sampingku dan ternyata ia berdiri di sebelahku menungguku mengambil kotak itu karena ia akan duduk disana. Dengan cepat aku mengambil kotak itu dan meletakannya di atas meja. Ini aneh…Ada yang aneh dengan pria ini.

“Wah… aku benar-benar tak menyangka kalau kau akan datang demi ulang tahunku!” ujar Kai senang sedangkan aku hanya diam menatap meja masih berusaha mengendalikan jantungku yang tidak karuan.

“Ya! Han Hye Joo! Kenapa kau hanya diam? Apa kau gugup karena di’apit’ oleh dua pria tampan di sebelahmu,” aku mengangat kepalaku memandang Baekhyun yang terlihat sangat senang karena bisa mengerjaiku. Untuk hari ini aku benar-benar benci dengan mulut comelnya, kadang-kadang aku memang menyukai mulutnya yang selalu bicara dan membuat kami tertawa. Tapi, untuk kali ini aku ingin menyumpal mulutnya dengan apapun agara ia berhenti bicara.

“Ya! Byun Baekhyun!” pekikku kesal, Baekhyun hanya tertawa melihat tampang kesalku.

“Hye Joo-ya! Dia Luhan teman baikku,” aku mengalihkan kepalaku pada Kai yang menyuruhku untuk berkenalan dengan pria di sebelahku. Dengan ragu aku menolehkan kepalaku menatap pria itu yang ternyata tengah menatapku juga.

“Lu, Dia Hye Joo. Wanita yang aku ceritakan padamu,” aku tidak dapat mendengar dengan jelas suara Kai karena perhatianku hanya terfokus pada pria ini. Ada apa ini? Ada Apa denganmu Han Hye Joo?

Pria itu mengulurkan tangannya lalu tersenyum membuat aku lupa bagaimana caranya bernafas dengan benar. Hye Joo sadarlah!

“Aku Luhan. Xi Luhan,“

“Hye Joo. Han Hye Joo,”

~

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s