150514

 

 34e5a5181ee7b38e547edc671d9453d2

Cast : Kris Wu, Shin Seungrin

Genre : sad romance.

Length : Oneshoot

Author : Dvirginanda.

 

****

Shin Seungrin menelungkupkan wajahnya di antara lekukan kakinya, memeluk tubuhnya yang bergetar menahan isak. Ponsel yang nyaris di lemparnya kini ia genggam kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berharap dengan begitu ia akan mendapat sedikit kekuatan.

Berita picisan itu sudah keluar. Membludak di tengah-tengah masyarakat yang akhirnya terdengar sampai ke telinganya. Ini menyakitkan. Sangat. Bagaimana bisa pria itu membuat keputusan secara menadak dan menghilang tanpa jejak. Tanpa ucapan selamat tinggal.

Pagi itu dia baru selesai mandi, meraih ponselnya yang tergeletak tak berdaya di atas kasur lalu mengecek SNS-nya. Ia tertawa getir membaca isi beranda-nya. Ini konyol, pikirnya. dan entah apa yang terjadi padanya, tanpa ia sadari dirinya telah mencari tau apa yang terjadi. Ini aneh, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah tertarik dengan urusan orang lain apalagi mencari tau apa yang terjadi pada mereka. Shin Seungrin selamanya akan menjadi gadis yang tidak pedulian. Tapi hari ini semuanya berubah.

Dia syok. Dia terjatuh. Dia menghawatirkan pria itu. dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri dimana pria itu, bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja, apa dia terluka ? sungguh, pertanyaan itu sangat mengganggunya. Melukainya, tepatnya.

Awalnya pria itu tidak berarti apapun untuknya. dia hanya singgah sebentar ketika dirinya bosan dengan kehidupannya. Pelarian ? tentu saja, Shin Seungrin predator sejati. Dia gadis berkeprilakuan buruk yang menyembunyikan kedoknya dibalik wajah malaikat itu.

Tapi lagi-lagi semuanya berubah. Pria dengan garis wajah dingin itu berhasil menempati ruang kecil di hatinya. Pria itu cukup banyak mengukir kenangan di kehidupan flat-nya.

Dan sialnya, dia baru menyadari semua itu ketika pria itu sudah pergi. Penyesalah memang selalu datang terlambat. Hal itulah yang membuat gadis itu kini begitu terpukul.

Like thunder, I am too late
Now I am finally looking for you
Boom Boom Boom Boom
I’m too late as I call out to you

Seungrin mengangkat wajahnya. Menatap layar ponsel miliknya dengan wajah sembab, sepasang mata onix itu tidak pernah berhenti meneteskan air mata. Ia lalu menggerakkan jarinya yang gemetar di atas layar touch screen itu. mencari sebuah nomor dikontaknya lalu menempelkan benda elektronik itu di telinganya.

Dia membutuhkan pria itu. Dia tidak ingin pria itu pergi. Maka dari itu, untuk kali ini. ya.. untuk kali ini saja, biarlah dia membuang jauh-jauh rasa gengsi yang selama ini ia junjung tinggi-tinggi. Tidak peduli pria itu akan menertawainya, merendahkannya karena dirinya yang terlihat begitu menyedihkan. Yang terpenting saat ini, ia bisa mendengar suara berat itu lagi. Menyaksikan kalau pria itu baik-baik saja disana.

“kau ?” Seungrin terlonjak. Tidak menyangka kalau pria itu akan merespon panggilannya. Ia buru-buru mengusap air matanya meski pria itu tidak melihatnya. “where have you been, moron ? what did you do ? are you happy with all of this shit ?!”Seungrin tidak dapat menahan luapan emosinya, dia langsung menyerbu pria itu dengan pertanyaan bernada sarkastik khas dirinya.

Gadis itu melongo, terdiam ketika mendapat kekehan ringan dari sebrang sana. Mungkin pria itu sakit jiwa, tumben sekali merespon omelannya dengan kekehan ringan seperti itu. pria itu kan manusia kutub, dingin seperti es. Jarang merespon ucapan Seungrin, kalau pun merespon paling-paling balik menyindir dengan kalimat tajamnya.

“kau masih bisa tertawa ? kau gila Kris!” Seungrin kembali melempar pria itu dengan ejekan tajamnya meski dia tidak bisa menyangkal kalau kekehan ringan itu cukup menghangatkan hatinya. Seberkas perasaan lega menyelimutinya, dia bersyukur karena pria itu baik-baik saja disana.

“kau mencariku ?”

“apa ?”

“kau mencariku. Buktinya kau menghubungiku”

“dan kau bahagia ?” Seungrin merangkak ke atas ranjangnya, memeluk guling sembari menyandarkan dirinya pada sisi lain tempat tidur. Kris tidak bersuara, dan Seungrin membiarkan keheninga menyelimuti mereka. gadis itu menghela napasnya, apa sesulit itu bagi Kris untuk menjawab pertanyaannya ? ayolah pertanyaan ini bukan soal fisika yang melibatkan banyak rumus memusingkan untuk memecahkannya.

“aku tersanjung kau menghawatirkanku-”

“aku ti-”

“bisa sekali saja memberi sedikit jarak dengan rasa gengsimu ?”

dalam mimpimu, duizhang!” Seungrin menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bermaksud begitu, dia tidak ingin menyangkal. Kris benar, dia menghawatirkan pria itu. dia merindukan pria itu. bahkan dia ingin sekali memeluk Kris, setidaknya dengan begitu dia bisa memastikan kalau pria itu tidak akan pernah pergi meninggalkannya. tetapi kenapa lidahnya sangat kelu. Kenapa rasanya sulit sekali mengakui semua fakta itu.

“yayaya, kau benar. aku merindukanmu, puas ?”

Kris tidak menjawab, tapi harusnya Seungrin tau bahwa disebrang sana pria itu kini sedang tersenyum.

“jadi dimana kau sekarang ? mereka yang sok tau itu bilang kau sudah berada di Vancouver” Seungrin mendesah berat, tidak merelakan kalau fakta itu benar adanya. “menurutmu ?” itu adalah pertanyaan yang menjengkelkan bagi Seungrin. gadis itu benci kalau pertanyaanya dibalas dengan pertanyaan lain.

You were so fast like lightning
We were so different
The difference of time between us
Has become a place, in which we can’t be together

Seungrin memandang lurus ke depan, katakanlah dia menatap kosong dinding bernuansa pink di hadapannya. Ia lalu menunduk, menghela napasnya barusaha untuk mengendalikan emosinya. Dia sempat mendengar kabar bahwa Kris menderita myocarditis, sebuah penyakit kronis yang mampu merenggut nyawa pria itu kapan saja. Kalau pun boleh jujur, Seungrin sedang membayangkan Kris terbaring di rumah sakit, menghirup oksigen yang bercampur dengan bau obat-obatan. Pria itu mungkin sedang menderita disana.

Dan kalau pun hal itu benar, Seungrin ingin sekali memaki Kris yang berpura-pura baik-baik saja padahal jauh disebrang sana pria itu sedang menahan sakit.

“di Ghuangzou bersama gadis murahan disisi kanan dan kirimu” jawab Seungrin rendah. Gadis itu kini berharap telinganya mendadak tuli untuk sesaat, sungguh dia tidak kuat kalau Kris mengakui apa yang sempat terlintas di otak gadis itu tadi.

“cemburu ?”

Seungrin menelan ludahnya, “itu lebih baik dari pada mendengar kabar bahwa kini kau terbaring lemah dirumah sakit” Seungrin menghela napasnya panjang. Akhirnya kalimat itu keluar dari bibirnya, membuatnya menggigit bibirnya sendiri semakin kuat.

“aku tidak selemah itu”

“tidak cukup lemah untuk terbaring dirumah sakit, maksudmu ?!” Seungrin berteriak dengan suara seraknya. Bibirnya kembali terisak. Rasanya sakit sekali. Dia muak melihat Kris berpura-pura terlihat baik-baik saja.

“aku tidak berada di Vancouver, juga tidak dirumah sakit. aku mengujungi Galaxy untuk beberapa waktu”

“berhenti bercanda, bisa ?!”

Seungrin mendengar helaan napas disebrang sana, suara tarikan napas pria itu terdengar sangat berat. Seungrin berani bertaruh kalau Kris sendirian disana. keadaan pria itu pasti tidak jauh beda dengan dirinya. Sama-sama terpuruk. Terlebih ketika semua orang merendahkan Kris, menjadikan pria itu sebagai satu-satunya objek yang disalahkan. Menendang pria itu seperti bola sesuka hati mereka.

“kembali Kris. Atau setidaknya katakan dimana kau sekarang. Para psikopat- maksudku sasaeng tidak ada yang bisa menemukanmu. Ini aneh”

“tidak ada yang aneh. Apapun bisa terjadi”

“ya, apapun bisa terjadi. Termasuk aku yang entah bagaimana jatuh padamu. Aku.. aku mencintaimu”

Kris kembali menghela napasnya disebrang sana, “its not enough yet to make me comeback. Everything takes place at the right time”

You’ve gone too far away
You and I grow farther apart as time goes by
You’re already so far away
Probably becoming someone else’s light

“kau mencampahkanku ?”

“kau melakukan hal yang sama dulu”

“dan ini bayarannya ?”

Kris nampak tak berniat menjawab. Entah untuk keberapa kalinya mereka sama-sama terdiam. Mengisi kekosongan masing-masing dengan suara tarikan napas mereka. mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Seungrin dengan emosinya yang tak terkendali dan Kris dengan perasaan sakitnya.

Dia tidak berniat mencampahkan Seungrin. demi apapun, dia tidak berniat melakukan hal itu. mengetahui kalau gadis itu memikirkannya pun sudah cukup baginya, apalagi mendengar ketika gadis itu secara terang-terangan menyatakan perasaannya. Jika normalnya dia akan langsung memeluk tubuh mungil itu, kali ini ia hanya bisa tersenyum. Menyesali kenapa semuanya terlambat. Menyayangkan kenapa nasibnya begitu buruk. Shin Seungrin adalah alasan disetiap tarikan napasnya. Seburuk apapun tabiat gadis itu, Kris akan tetap mencintainya. Mencintaiya dalam diam dari jarak yang jauh.

“ayo bertemu di kehidupan selanjutnya”

“wo ai ni”

Tuuut…

Kris sudah memutusan sambung mereka. pria itu menghindari Seungrin. berdiri teguh pada pendiriannya meski rasanya begitu menyakitkan.

Seungrin menatap layar ponselnya, ini sudah kali kelima ia mencoba menghubungi nomor Kris. Namun yang diterimanya hanya suara operator. Pria itu me-nonaktif-kan ponselnya.

Gadis itu terisak. Terbenam dalam kesedihannya.

 

 

“if you choose to let go but don’t discard my love for you. I’ll just pretend that I understand in the end” –Rainbow by Kris and Lay.

 

 

*note: ini seberkas bayangan keadaan saya waktu denger kabar tentang Kris. I do love him. Just want to tell you, anyway.

Thanks for reading.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s