Somewhere only we know

 

“…lets fly with me to Somewhere only we know”

 ****

Kris tersenyum setelah bersulang dengan crew lainnya, berbeda dengan yang lain, Kris hanya mengabaikan gelas kristal yang ia genggam dibalik telapak tangannya. Tidak ada niat baginya untuk meneguk cairan berwarna itu, setidaknya dia harus mengontrol pola makannya untuk beberapa hari ke depan.

Kris sesekali menanggapi obrolan teman bicaranya, jika di perlukan saja. Ini bukanlah sebuah bentuk ketidak-nyamanan ataupun kegugupan ketika menghadapi suasana baru. Kris memang seperti itu, dia tipe manusia pasif. Jarang bicara dan hanya mengeluarkan suaranya jika memang dibutuhkan.

“kita bisa bekerjasama, kan ? kau bisa belajar dari senior-mu terdahulu. Orang yang lebih dulu di depak dari group-nya sebelum kau bergabung, mungkin” wanita disebelah Kris mengakhiri kalimatnya dengan nada ragu dan Kris hanya menanggapinya dengan senyum simpul.

Mungkin akan menjadi langkah awalnya untuk memulai karier baru setelah diremehkan dan ditendang kesana-kemari oleh sekelompok orang yang dulu mengklaim diri mereka sebagai penggemar. Kris tidak peduli itu. mungkin dirinya egois, tapi tidakkah mereka diluar sana sadar kalau dirinya lah yang paling menderita disini. Digerogoti oleh rasa sakit yang menerjangnya berkali-kali lipat ketimbang yang mereka rasakan.

Kris memutuskan untuk memulai semuanya di Prague, melupakan Seoul yang pernah menjadi saksi bisu kebahagiaan –sesaatnya. Juga menghapus jejak-jejak perasaan yang pernah diberikannya kepada seorang gadis. Gadis brengsek yang entah bagaimana bisa membuatnya hatinya begitu sesak ketika memutuskan untuk pergi meninggalkannya.

Kris sedikit mencondongkan tubuhnya untuk meraih botol cola, satu senti lagi jemarinya menyentuh botol itu, namun ia mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk seperti posisi awalnya, menegaskan dirinya untuk tidak menyentuh minuman bersoda itu. meski tidak menutup kemungkinan kalau itu adalah minuman favorite-nya.

Kris terdiam. Tanpa ia duga memori otaknya memutar tawa renyah yang dulu –menurutnya terdengar berisik. Kris masih ingat jelas bagaimana ekspressi geli gadis itu ketika mentertawainya hanya karena ia menyebut cola sebagai black soda.

Saat itu Kris sangat kesal sampai-sampai ia pulang dari apartement gadis itu tanpa pamit. Dan gadis itu, dengan rasa tak berdosanya langsung memeluk Kris dari belakang. mencegah kepulangan pria itu dan mengatakan bahwa dirinya tidak suka makan sendirian.

Kris sempat mengabaikan rengekan gadis itu, tapi toh akhirnya ia menurut saja. Masuk kembali dan menemani gadis itu sampai selesai makan. Bisa dikatakan kalau gadis itu titik lemah Kris.

“ada masalah, Kris ?”

Kris berpikir kalau wanita disebelahnya berusia sekitar tiga puluh lebih. Matanya sipit, hidungnya tidak terlalu mancung. Rambut pendeknya yang berwarna coklat caramel memberi kesan fresh. Namun beberapa kerutan di wajah wanita itu menegaskan semuanya, bahwa dirinya tidak semuda Kris.

“tidak ada” Kris menyahut singkat. dia tidak mungkin mengaku kalau dirinya tengah dirundung rindu, sangat bukan dirinya sekali.

***

Kris baru akan merebahkan tubuh letihnya ketika suara bel memaksanya untuk bangkit dan menemui siapa subjek dibalik pintu kayu itu. Dia membeku, terdiam tepatnya. Seakan Tao menggunakan kekuatan magisnya, waktu disekitarnya terasa berhenti. Tidak ada objek apapun dalam jarak pandangan kecuali sosok sempurna. gadis itu benar-benar mengunci seluruh fokusnya.

“apa kabar, Kris ?”

Suara yang berasal dari orang yang sama dengan tawa renyah itu. Suara yang sudah sangat lama ia rindukan, suara yang berusaha dihapusnya dari ingatannya hanya untuk mempertahankan keegoisannya. Suara dari gadis yang demi Tuhan ia cintai mati-matian.

“sorry, but I’m not Kris”

Terdengar gadis itu melepaskan napas beratnya, ekspressi wajahnya terlihat lelah. Bukan lelah yang disebabkan oleh suatu pekerjaan, melainkan lelah yang disebabkan oleh pikiran. Gadis itu memiliki kantung mata lengkap dengan lingkaran hitamnya, wajahnya sembab –sangat jauh dari kesan fresh seperti biasanya.

“apa itu penting ? aku hanya mengenal Kris disini, jangan memaksaku untuk memanggilmu dengan nama Wu Yi Fan” setelah mengakhiri kalimatnya, gadis itu melenggang masuk tanpa mau repot-repot meminta izin dari Kris. Ia melepaskan leather coklatnya, mendudukkan tubuh mungilnya yang kini hanya dibalut kaos putih polos di sisi ranjang. “tidak berniat menutup pintunya ? kau seorang selebriti kan ? sekarang ini orang-orang sedang sibuk mengorek informasi tentang mu, bagaimana jika mereka menemukanmu berada di hotel bersamaku ? aku tentu tidak mau repot-repot terlibat skandal dengan mu”

“siapa yang memberi umpan disini ? kau berkata seolah aku yang menggodamu hingga kita berakhir di hotel”

Gadis itu mengedikkan bahunya tak peduli, Kris jelas tidak mau ambil pusing dengan perdebatan tidak penting ini. jadi yah.. dia memutuskan untuk menutup pintunya dan berhenti menanggapi debat gadis itu.

Kris berjalan ke ranjangnya, satu-satunya tempat yang dari tadi sangat diidam-idamkannya. Gadis itu nampak tidak setuju ketika Kris memutuskan untuk merangkak naik ke ranjang dan tidur dengan nyenyak.

“kau tidak tau seberapa jauh penerbangan dari Seoul ke Prague ?”

“apa itu penting ?” Kris menyahut dengan suara beratnya yang terdengar tidak terlalu jelas karena teredam oleh guling. Gadis itu mengerang, tentu saja, Kris sudah memutar balik ucapannya dengan sangat tidak berdosa.

“tentu saja. Aku mengorbankan uang juga tenagaku” gadis itu menyahut dengan suara cukup keras, melayangkan protes pada Kris yang sama sekali tidak memperdulikan omelannya.

“apa aku menyuruhmu kemari ? tidak, kan ? lalu kenapa kau tidak pergi dan lenyap dari hadapanku ?” Kris mengibaskan tangannya diudara, memberi gerakan mengusir pada gadis itu. jika normalnya gadis itu akan mengamuk lalu detik berikutnya mereka kembali berdebat, kali ini berbeda, gadis itu hanya diam tanpa melepas Kris dari pandangannya.

“aku merindukanmu” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir gadis itu, membuat Kris reflex membuka matanya. “aku merindukanmu, sangat! Dan aku membenci hal itu”

Kris kehilangan kata-kata, terlebih ketika suara gadis itu terdengar bergetar. Dia merasa bersalah, juga berdosa. Dia ingin sekali memeluk gadis itu, sungguh. Tapi pada kenyataannya ia tetap saja mempertahankan keegoisannya, berdiri teguh pada keputusannya.

“aku… membencimu”

Kris tidak sanggup. Dia sudah tidak tahan. Dia mengaku bahwa ia kalah, kalah dalam perdebatan dengan dirinya sendiri karena kini kedua tangannya sudah menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mendekap erat gadis itu, takut jika sesenti saja ia melepas tubuh mungil itu, maka selamanya dia akan kehilangan gadis itu.

“maaf”

Ini sebuah pernyataan atas rasa bersalah dari lubuk hati Kris yang paling dalam, berharap kalimat itu mampu mewakili seluruh kesalahannya hingga dirinya termaafkan.

Sebuah senyum tipis tak kasat mata terukir diwajah dinginnya ketika gadis itu balas memeluknya tidak kalah erat. “aku mencintaimu –Shin Seungrin” aku Kris sembari menempelkan dagunya di pucuk kepala Seungrin, menghirup sebanyak mungkin aroma bunga corporel yang menguar dari tubuh gadis itu. dia benar-benar merindukan aroma ini, aroma yang sangat digilainya.

“kau brengsek” gumam Seungrin disusul kekehan ringan dari Kris. “aku hampir mati mencarimu” gadis itu melanjutkan dibalik suaranya yang teredam oleh dada bidang Kris.

“lets fly with me, then”

Seungrin mendongakkan wajahnya, mengedipkan matanya beberapa kali seolah tak percaya dengan ucapan Kris. “aku tau di EXO kau seorang dragon dan lambangmu sayap, tapi tidak seperti ini juga Kris. Jangan membuat lelucon”

“I’m serious” Kris melayangkan satu kecupan ringan di kening indah Seungrin, gadis itu tersenyum kecil sebagai respon. “lets fly with me to somewhere only we know” Kris melanjutkan.

Kalimat itu jelas sebuah lamaran, Seungrin menyadari itu. gadis itu tidak menyahut, ia lebih memilih mengalungkan kedua tangannya di leher Kris lalu menyatukan kedua bibir mereka. Kembali tenggelam dalam manisnya pergulatan bibir.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s