Times { I’ll be there }

Gambar

 

 

“…i’ll always think of you, and the time we spent together, as my happiest time i’do it all over again. If i had the choice…No regret”

 

25 December 2013

Pernahkah kalian di hadapan pada dua pilihan? Dimana keduanya adalah hal yang sangat penting untuk kalian. Contohnya ketika kalian sedang berada di sebuah mall dan melihat sebuah sepatu yang sangat cantik. Dan disaat yang bersamaan pula, ada sepatu yang tak kalah cantik dengan sepatu yang tadi. Sedangkan kalian hanya memiliki uang untuk membeli sepasang sepatu. Tentu saja, kalian akan dihadapan pada dua pilihan yang memusingkan.

Aku membenci situasi dimana aku harus berada pada posisi tersebut. Kalau bisa,aku ingin memiliki keduanya. Terdengar egois memang,  tetapi faktanya memang begitu. Aku menginginkan keduanya. Dan aku tidak suka memilih.

“Aku benci natal” gumamku pelan,tetapi masih dapat didengar olehnya. Pria itu menoleh mengalihkan perhatian dari film yang sedang kami nonton.  Aku tahu saat ini dia sedang menatapku. Tetapi aku tidak menoleh tetap menonton film The Santa Clause yang entah sudah berapa kali aku tonton.

“Aku tahu,karena itu aku mengurungmu disini”

Aku tersenyum sinis dan menoleh padanya “Bukan karena kau tidak ingin aku bersamanya?”

Pria itu mengangkat bahunya ringan “Mungkin itu salah satunya” jawabnya mendekatkan wajahnya, mencium keningku singkat dan menariku dalam pelukannya.

Aku tersenyum masam, tak pernah terpikirkan olehku akan melewati malam natal dengan pria lain selain dia.  Sejujurnya ini tampak asing untukku. Walaupun saat ini ragaku berada di dekatnya tetapi pikiranku melayang entah kemana. Aku sudah melakukan kesalahan dan menyesali sama sekali tidak ada gunanya.  Seperti terperangkap di dalam lubang yang sangat dalam hingga sangat sulit untuk keluar dari sana.

Singkat kata. Aku berselingkuh. Dan parahnya lagi dengan sahabat dari pacarku. Kalian bisa mengutukku,mengataiku perempuan jahat!Perempuan gila yang tidak punya perasaaan. Tetapi aku hanya manusia biasa. Setiap orang bisa melakukan kesalahan dan akan menyesalinya di kemudian hari. Aku tidak tahu sampai kapan hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat perbuatanku akan terbongkar. Dan aku akan kehilangan salah satu dari mereka atau bisa saja keduanya.

“Aku mencintaimu, Han Hye Joo. Benar-benar mencintaimu”  lirihnya semakin memperat pelukannya.

Hatiku tertohok ketika ia mengucapkan kata-kata itu. Lidahku kelu tidak dapat bicara. Ucapannya terdengar begitu tulus. Dan aku merasa bersalah. Bersalah padanya karena tidak bisa mencintainya dengan sempurna. Aku juga menyayanginya tetapi di lain sisi aku juga menyayangi kekasihku. Aku sangat menyayangi mereka berdua.

“Kau akan menyesal, Lu”gumamku pelan tetapi masih dapat di dengar olehnya.

Pria itu—Luhan melepaskan pelukannya menatapku dengan mata teduhnya. Tangannya menangakup wajahku, mengelus pipiku lembut. Menimbulkan perasaan nyaman yang selalu aku rindukan. Aku selalu merasa senang saat bersamanya.

“Dengarkan aku, Apapun yang terjadi. Aku akan selalu memikirkanmu. Dan waktu yang kita habiskan bersama…” ia menarik nafas sejenak kemudian tersenyum lembut “Aku bahagia akan hal itu. Jika pun aku harus memilih. Aku tidak menyesal karena telah mencintaimu”

Luhan kembali memelukku. Aku membiarkannya sama sekali tak membalas pelukannya. Sebesar itukah perasaannya padaku? Itu hanya membutku sedih dan semakin sulit untuk memilih salah satu dari mereka.

Aku menatap layar ponselku menatap sebuah pesan teks itu dengan pandangan nanar.

 

Marry Chirsmas and i love you.sweetheart J

                                    Kim Jongin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Maret 2013

 

Aku membuka pintu Cafe dan menemukan Min Ji yang tengah berdiri di depan counter sambil melambaikan tangannya padaku. Lengkap dengan senyum cerianya. Aku mengangkat tangan membalas lambaiannya, sambil tersenyum kecil.

Min Ji bekerja paruh waktu di Starbucks yang kebetulan sangat dekat dengan sekolahku. Sejak Min Ji bekerja disini, aku lebih sering berkunjung ke tempat ini. Min Ji tidak melanjutkan sekolahnya ke Universitas karena ia ingin bekerja dan juga ia tidak memiliki cukup banyak uang untuk masuk Universitas. Aku ingin sekali menolongnya tetapi gadis itu selalu menolaknya dengan halus dan aku tidak bisa memaksannya lagi.

Min Ji  tidak terlahir dari keluarga kaya. Ia hanya hidup sederhana bersama dengan ibu dan adiknya, ayahnya meninggalkan rumah ketika ia berumur 10 tahun dan aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika kehilangan ayahku saat berumur 10 tahun tetapi ia bisa menghadapinya dengan tabah. Ibunya adalah seorang pembantu rumah tangga. Adiknya-Young Jin-baru saja lulus sekolah menengah pertama dan akan melanjutkan ke tingkat  selanjutnya.

Gadis itu lebih memilih menunda sekolahnya dan menyuruh ibunya untuk fokus pada sekolah Young Jin terlebih dahulu. Karena ia tahu, Young Jin adalah murid pintar dan rajin akan lebih baik kalau ia sekolah di tempat yang kualitasnya tinggi dan itu memerlukan banyak biaya. Min Ji benar-benar seorang kakak yang baik.Kadang-kadang aku iri dengan Min Ji, ia selalu tampak ceria walaupun hidupnya sulit.Dan ia juga gadis  pekerja keras dan tidak pernah mengeluh tentang apapun yang terjadi padanya. Sejauh ini yang aku tahu ia memiliki 2 pekerjaan dalam sehari. Saat SMA pun ia sudah kerja part time,walaupun ia begitu sibuk dengan pekerjaannya tetapi nilainya di sekolah selalu stabil. Aku belajar banyak dari gadis itu.

“Apa kau ditegur oleh dosenmu lagi karena tidur di kelas,ha?” selidiknya ketika aku berada di hadapannya.

Gadis itu melipat tangannya di depan dada menatapku galak.Satu hal lagi yang aku suka dari Min Ji.Ia adalah gadis yang penuh perhatian dan tidak akan segan-segan menegur apabila melihat seseorang melakukan kesalahan. Dia gadis dewasa dan selalu berpikir realitis. Ia selalu berpikir sebelum melakukan tindakan.She is a good girl.

Aku tersenyum kecil, menganggukan kepalaku mengakuinya.

“Aku bahkan belum benar-benar tertidur” belaku megerucutkan bibir mengingat betapa menyebalkannya laki-laki tua itu.Okay,aku tahu itu memang kesalahanku karena tidur di setiap kelasnya. Tapi jangan salahkan aku,  pria tua itu menjelaskan pelajaran seperti mendongeng dan itu membuat mataku mengantuk.

“Hei…seperti biasa” seruku mengalihkan perhatian gadis itu agar tidak membahas masalah ini lagi karena aku tahu setelah ini ia akan memberikan siraman rohani gratis  dan aku sedang malas mendengarnya.

Min Ji menghela nafas menganggukan kepalanya mengetik pesananku setelah itu kembali menatapku menunggu pesananku datang.

“Aku merindukan masa-masa sekolah kita dulu” ujarnya menerawang sambil menunggu pesananku datang.

Bukan dia saja aku juga merindukan masa-masa sekolahku dulu. Mengingat kembali saat pertama kali aku menginjak kaki di sekolah dan bertemu dengan Min Ji yang begitu manis dan ramah. Aku yang tidak terlalu banyak bicara dan hanya mengenal Kai sebagai teman dekatku. Di kelas satu aku tidak sekelas dengan Kai. Karena aku yang pendiam teman kelasku menganggap kalau aku sombong. Seorang gadis anti-sosial yang tidak mau berbaur dengan mereka. Aku tidak peduli apapun yang mereka pikirkan karena sejak SMP pun aku tidak memiliki teman dekat selain Kai.

Kai sering berkunjung ke kelasku dan kami selalu pergi ke kantin bersama. Aku tidak terlalu sering ke kantin karena setiap aku berada disana semua orang akan melihatku dengan padangan yang sangat tidak aku inginkan. Mungkin karena aku begitu dekat dengan Kai dan juga teman-temannya.Dan aku tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Aku mengenal mereka karena saat aku berkunjung ke rumah Kai aku melihat mereka. Byun Baekhyun, Park Chanyeol, dan Do Kyungsoo. Byun Baekhyun adalah pria yang yang bermulut pedas dan juga sangat cerewet. Chanyeol tidak berbeda jauh dengan Baekhyun mereka berdua sama saja. Hanya Kyungsoo yang tidak terlalu banyak bicara dan terlihat sangat santai.

Saat itulah Min Ji datang padaku. Ia adalah teman sekelasku meskipun pada awalnya aku tidak terlalu dekatnya dengannya. Tetapi saat kami menjadi satu kelompok dalam tugas sekolah. Aku baru menyadari kalau ia berbeda dan aku nyaman ketika bicara dengannya. Dan aku mulai berteman baik dengan gadis itu. Min Ji berdampak baik untukku, karena sejak aku berteman dengannya aku lebih terbuka dengan teman kelasku.

“Maksudmu  merindukan Park Chanyeol,begitu?” godaku, Min Ji membulatkan matanya dan pipinya bersemu merah. Benar-benar lucu.

Min Ji menyukai Chanyeol tetapi ia tidak pernah berani untuk mengatakannya karena ia pikir itu akan merusak pertemanannya dengan pria itu. Tetapi aku tidak berpikir begitu. Aku pikir ada baiknya ia mengatakannya pada Chanyeol dari pada harus memendam perasaan itu selama beberap tahun. Mungkin Min Ji takut Chanyeol akan menjauhinya saat tahu kalau ia menyukai pria itu. Dan Min Ji tidak cukup percaya diri dengan status sosialnya yang berbeda dengan Chanyeol. Tetapi aku yakin kalau Chanyeol tak menilai gadis dari penampilan dan status sosilanya. Chanyeol adalah pria yang sangat easy going, ia adalah pelawak ulung bersama Baekhyun.Menurutku, mereka berdua seperti teletubies yang tidak terpisahkan selalu berdua. Bahkan mereka kuliah di Univertisas yang sama dan jurusan yang sama pula.

“Apa maksudmu ha? Aku tidak merindukannya” elaknya, aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya. Min Ji menyerahkan segelas minuman padaku dan aku menyerahkan selembar uang kertas pada gadis itu.

“Selamat bekerja Min Ji~ya” kataku menyemangati yang dibalas dengan senyum manis olehnya. Aku berjalan mengambil tempat duduk yang memang biasa aku tempati. Mencari  buku cukup tebal di dalam tas dan earphone. Salah satu kebiasaanku adalah selalu mendengar music saat membaca.

Mengambil jurusan kedokteran memang tidak mudah apalagi dengan kapasitas otakku yang standar. Aku harus lebih giat belajar agar bisa lulus dan nilai yang baik agar ayahku tidak kecewa. Aku adalah anak satu-satunya dan harapan mereka hanya aku seorang sehingga aku tidak tega untuk menolak permintaan mereka. Ayahku menginginkanku menjadi seorang dokter karena beliau juga dokter di salah satu rumah sakit di Seoul.

Sejak kecil, Ayahku adalah sosok yang sangat aku idolakan. Aku tidak menyukai tokoh-tokoh kartun yang menjadi idola anak-anak kecil. Aku menyukai ayahku dan aku mengidolakannya. Dari kecil beliau tidak pernah mememarahiku tetapi tetap tegas sehingga aku tidak pernah membantah ucapannya.

“Boleh aku duduk disini?” aku mendongak melepaskan earphone ketika merasakan seliut seseorang yang berdiri di hadapanku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa pikiranku terbang entah kemana. Jantungku berdetak lebih cepat. Seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutku.Aku merasa tolol saat ini.

“Tentu” jawabku kembali menemukan kesadaran menstabilkan detak jantungku yang menggila.

Pria itu bergerak menarik kursi di hadapannya meletakan minumannya di atas meja serta kamera SLRnya yang aku ketahui selalu ia bawa kemana-mana. Aku memperhatikan penampilan yang terlihat selalu tampan. Padahal ia hanya menggunakan Jeans hitam dengan sweater garis-garis hitam putih. Sangat santai dan juga menawan.

“Apa kau dikeluarkan dari kelas?” tanyanya datar melihat sesuatu di kameranya tak menatapku. Aku mengangkat kepalaku menatapnya bingung bagaimana bisa ia tahu kalau aku dikeluarkan dari kelas? Dan itu tidak bagus untukku.

“Bagaiamana kau tahu?”

“Aku melihat kelasmu masih belajar tadi” jelasnya  menatapku dan aku melongos  menganggukan kepala tak membalas ucapannya karena aku tidak ingin membahas kejadian memalukan itu padanya dan sepertinya mulai dari sekarang aku harus membuka mataku lebar-lebar saat pelajaran pria tua itu. Aku kembali membaca buku yang sepertinya tidak terlalu  kupahami karena pikiranku ada pada pria di hadapanku. Aku bisa merasakan kalau pria itu tengah menatapku dan aku sama sekali tak berani untuk mendongakan kepala dan balas menatapnya. Jadi yang kulakukan hanya pura-pura membaca padahal tidak ada satu kata pun yang aku baca.

Entah ini suatu kebetulan atau tidak. Aku dan Luhan satu Universitas. Dia mengambil jurusan desain interior dan aku mengambil jurusan kedokteran. Sedangkan Kai ia kuliah di Universitas Seoul karena orang tuanya menyuruhnya sekolah disana. Mungkin satu hal yang menyenangkan aku kuliah disini adalah…dia. Sejak aku bertemu dengannya saat ulang tahun Kai, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Karena Luhan berasal dari Cina aku pikir ia kembali ke Negarannya. Tapi, ternyata ia menetap di Korea melanjutkan sekolahnya disini. Aku tidak tahu ada apa dengan diriku tetapi aku senang dia disini.

Aku tahu ini adalah hal yang buruk dan aku harus segera menghilangkan perasaan ini sebelum ia merajalela. Ini tidak baik karena aku sudah memiliki Kai dan Luhan adalah sahabat Kai. Tetapi semakin aku berusaha melupakannya semakin aku terjebak di dalamnya. Membuat frustasi dan merasa kalau aku gadis yang jahat. Aku sudah memiliki kekasih yang diinginkan oleh satu sekolahku dulu dan sekarang aku mengkhiantinya. Betapa jahatnya gadis ini.

Tetapi aku tidak bisa menahan perasaan ini. Setiap kali melihatnya ada getaran aneh di hatiku. Sejujurnya aku suka memperhatikannya secara diam-diam. Saat di perpustakaan, aku sering melihatnya disana sedang membaca buku. Ia selalu membawa kamera miliknya kemana-mana apapun yang ada disekitarnya yang menurutnya menarik ia akan mengangkat kamera lalu membidiknya. Aku memperhatikannya setiap saat ditambah lagi aku tidak ada kegiatan lain dan teman sehingga hanya ia satu-satunya yang bisa aku ajak bicara. Walaupun setiap kali kami bertemu aku suka menghindarinya atau ketika ia menyapaku aku hanya membalasnya dengan senyum kecil lalu pergi. Dan jika ia mengajakku makan bersama atau apapun aku selalu mencari alasan untuk menolaknya. Karena aku tahu, kalau aku menuruti kata hati aku tidak tahu apa aku bisa kembali belakang atau tidak.

“Han Hye Joo?” aku mendengar ia mengucapkan namaku dengan nada datar dan sedikit terdengar mencekam. Aku menatapnya dengan pandangan yang sewajar-wajarnya mencari objek lain selain matanya.

“Apa kau tidak menyukaiku?” tanyanya masih memandangku dengan tatapanya yang membuat aku mengedik ngeri.

“Apa?”

“Kau tidak menyukaiku kan?” aku menatapnya bingung darimana ia mendapatkan asumsi kalau aku tidak menyukainya? Bahkan aku nyaris gila agar bisa membencinya.Menghancurkan getaran-getaran aneh saat aku dekat dengannya. Menghapus bayang-bayangnya dalam pikiranku.Aku nyaris gila melakukan semua itu.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak pernah menatapku saat aku bicara denganmu! Kau selalu diam saat aku berada didekatmu! Kau selalu menghindar ketika melihatku! Apa kau tidak menyukaiku?” Gila!Aku pikir aku benar-benar gila! Aku bingung harus menjelaskan agar ia tak salah paham dan juga tak curiga dengan perasaanku. Dan aku juga tak menyadari kalau ia adalah orang sangat peka dan bisa mengetahui kalau aku menghindarinya

“Bukan begitu-Dengar! Aku tidak membencimu sama sekali! Sama sekali tidak” ucapku tegas memberanikan diri untuk menatap matanya.Meletakan bukuku di atas meja.

“Jadi..kau tidak membenciku?”ia menyeringai dan aku nyaris gila.

”Tentu saja tidak”

“Bearti…Kau menyukaiku,Han Hye Joo?”

 

 

 

12 Mei 2011

Jongin adalah laki-laki baik dan semua orang menyukainya.Waktu aku masuk sekolah menengah pertama aku sekelas dengannya. Pertama kali aku melihatnya di kelas. Aku langsung mengenalinya, tentu saja karena kami sering bertemu saat kedua orang tua kami mengadakan acara makan malam bersama. Tapi kami tidak pernah bicara satu sama lain selain memperkenalkan diri masing-masing dan aku juga tidak terlalu tertarik untuk berteman dengannya. Karena aku pikir dia juga tidak ingin berteman denganku. Biasanya anak laki-laki tidak suka bermain dengan anak perempuan.

Aku suka memperhatikannya saat berada di kelas, ia duduk di deretan nomor dua disamping jendela sedangkan aku berada deretan empat tepat di samping barisannya sehingga aku lebih leluasa memandanginya. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya tetapi aku menyukainya. Bukan…bukan menyukai Kim Jongin tetapi aku suka memadangnya.Bisa tangkap perbedaannya?

Dia murid terpintar di kelasku semua guru menyukainya dan ia juga sangat ramah sehingga semua murid di kelasku menyukainya bukan hanya murid kelasku, tetapi satu sekolah menyukainya. Para gadis di sekolahku sering sekali meletakkan berbagai hadiah di mejanya dengan warna-warna terang sebagai pembungkus dan dia tidak pernah membuangnya. Ia akan membawa semua hadiah itu pulang tanpa ada yang tertinggal. Sehingga gadis-gadis di sekolah semakin bersemangat memberi hadiah pada Jongin.

Ia paling tidak suka pelajaran Sejarah dan ia sangat menyukai pelajaran Matematika. Setiap kali guru Sejarah menerangkan yang ia lakukan hanya menopang dagu sambil menolehkan kepalanya ke jendela. Aku tahu kalau ia sangat bosan. Dan apabila ia bosan ia akan memainkan pulpen miliknya.

Dia pintar main basket, setiap pelajaran Olahraga dia akan bermain basket dengan teman laki-laki kelasnya. Dan dia termasuk yang terhebat setelah Kris dalam memainkan bola Orange itu. Harus kuakui kalau Kris sangat hebat bermain basket dari padanya tapi tetap saja aku hanya memperhatikannya saat bermain basket. Dia terlihat keren dengan bola orange itu.

Dia selalu ramah pada teman kelasnya tetapi ia tidak pernah menyapaku. Aku merasa kalau aku kasat mata dimatanya. Aku tidak tahu kenapa ia mengacuhkanku padahal kami sering bertemu sebelumnya. Kami berdua seperti tidak saling kenal. Dan aku juga tidak berniat untuk menyapanya duluan karena itu memalukan. Walaupun aku suka memperhatikannya tetapi egoku sebagai perempuan tidak akan pernah melakukannya.

“Hei kau lihat apa?” aku tersentak ketika seseorang menepuk punggungku pelan,kutolehkan kepalaku dan menemukan Min Ji yang duduk disebelahku mengambil sesuatu di dalam tasnya dan aku memperhatikan setiap gerak-geriknya tak menjawab pertanyaannya.

“Kau tidak nonton?” tanyanya kembali  sibuk dengan tas miliknya membuang seluruh isinya di atas meja dan mencari sesuatu.

“Malas”

“Malas?Kenapa?”  ia menghentikan kegiatannya sejenak memandangku sambil mengernyitkan kening.

“Hanya malas” jawabku asal.

“Dasar” cibirnya meletakan kembali isi tasnya ke dalam tas ketika sudah mendapatkan benda yang ia inginkan yaitu sebuah kamera kecil yang aku yakini untuk memfoto Chanyeol yang sedang bermain.

“Cepat berdiri! Pacarmu pasti sedih karena kau tidak menontonnya” perintahnya sambil berkacak pinggang menatapku.

“Kai?”

Min Ji mengeram kesal mendengar pertanyaanku ” Tentu saja!Apa kau memiliki kekasih selain Kai?

Aku menganggukan kepalaku mengerling padanya “Ya.Namanya Kim Jong In.Dan aku sangat mencintainya”

“Itu lucu sekali Han Hye Joo-ssi! Kalau begitu cepat berdiri!” ujar gadis tertawa sinis menatapku kesal.

“Dia tetap akan menang walaupun aku tidak menontonnya lagipula banyak gadis lain yang akan menyemangatinya” kataku dan di balas oleh pukulan pelan di kepala.

“Ya! Han Hye Joo !Aku tahu alasanmu yang sesungguhnya bukan karena itu! Tetapi sebanyak apapun gadis yang menyemangatinya tentu saja ia hanya menginginkan kau! Seharusnya kau sudah tahu itu kan?” aku menghela nafas pelan, membenarkan ucapan Min Ji.

Sejujurnya, aku ingin sekali menontonnnya bermain basket tetapi semenjak status kami yang mulanya teman menjadi kekasih itu semua mulai berubah .Gadis-gadis yang menyukai Kai menatapku sinis dan membicarakanku setiap kali melihat wajahku dan aku tidak menyukainya.Walaupun aku berusaha untuk tidak peduli tetap saja hal itu tidak membuatku tak nyaman dan sangaat menganggu.

“Baiklah” kataku menyerah .Berdiri dari tempat dudukku sedangkan Min Ji menyunggikan senyuman cerianya dan menggandengan tanganku semangat. Di sepanjang perjalan gadis itu tak berhenti bercoleh dan kadang-kadang aku tertawa mendengar celotehannya. Mulai dari betapa tampannya Chanyeol hari ini sampai para gadis yang mendekatinya.

Min Ji bisa menjadi gadis yang sangat cerewet saat membahas seorang Park Chanyeol. Aku masih ingat, bagaimana ekspresi gadis itu saat mengatakan padaku kalau ia menyukai Chanyeol. Ia berkata sambil malu-malu dan wajahnya bersemu merah. Aku nyaris terbahak saat itu kalau tidak mengingat kami sedang berada di Perpus aku pasti sudah meledeknya habis-habisan.

Aku sangat senang mendengar kalau Min Ji menyukai Chanyeol karena ia menyukai pria yang tepat. Dan mereka terlihat sangat serasi kalau bersama. Akan tetapi, Min Ji masih belum percaya diri mengungkapkan perasaanya pada Chanyeol dan aku bisa mengerti itu. Sangat sulit bagi seorang wanita mengungakapkan perasaannya pada seorang pria.

Dari dulu, aku sangat penasaran. Apakah Chanyeol memiliki perasaan yang sama pada Min Ji? Pasalnya, Park Chanyeol adalah pria yang sangat ramah. Terlalu ramah malah. Dan itu membuat gadis-gadis salah paham atas keramahannya. Aku pernah menayakan hal ini pada Kai, dan ia berkata kalau mereka tidak pernah membicarakan ini. Tapi aku yakin, kalau sebenarnya Chanyeol juga memiliki perasaan yang sama pada Min Ji . Mereka hanya butuh waktu dan keberanian.

Saat aku dan Min Ji memasuki lapangan basket indoor. Gadis-gadis memandangku dan mereka berbisik-bisik dengan matanya yang menatapku sinis. Aku memejamkan mata sejenak lalu kembali membukanya. Meyakinkan diriku untuk tidak peduli dengan mereka. Menuruti Min Ji yang menarik tanganku mencari tempat duduk.

“Sudah…tidak usah terlalu kau pedulikan” kata Min Ji menyikut lenganku. Aku menoleh padanya dan hanya tersenyum kecil.

Para penonton mulai berdiri ketika para pemain memasuki lapangan. Aku melihat Kai yang berada di tengah-tengah pemain lainya. Dia terlihat paling menonjol di antara yang lainnya. Dan para siswi perempuan tak berhenti berteriak. Pria itu Mendongakan kepala mencari seseorang, aku melambaikan tanganku padanya ketika matanya menangkapku. Ia tersenyum padaku dan aku mengangkat tanganku di udara sambil melafalkan kata ‘fighting’ dan ia tersenyum lebar menganggukan kepalanya mantap.

Permain dimulai dan para pemain mulai mengambil posisinya masing-masing. Mungkin sudah ratusan kali aku menontonya bermain basket tetapi kata bosan tak pernah ada dalam pikiranku. Ia selalu mempunyai daya tarik tersendiri hingga aku tidak pernah bosan. Dia seperti magnet untukku, mataku selalu bergerak kemana pun ia  bergerak. Ia bermain begitu lincah menghalau semua pemain yang ada di hadapannya. Dia benar-benar keren.

Kai mencetak three poin membuat score mereka unggul dari tim lawan. Kai melihatku sambil tersenyum sombong. Aku mendesis melihat kesombongannya. Tersenyum sangat tipis hingga tak akan dilihat oleh pria itu. Semua orang bersorak apalagi para siswa perempuan yang tak henti-hentinya melafalkan nama Kim Jong In dengan keras saat pria itu ber-highfive ria bersama Chanyeol. See…aku sudah bilang… begitu banyak gadis yang menyemangati dan aku tidak sedang cemburu sekarang hanya saja popularitas pria itu sedikit…menyebalkan.

Peluit berbunyi menandakan permain berhenti. Para pemain di persilakan untuk berisirahat sebelum permain kembali dilanjutkan. Min Ji menarik tanganku menghampiri Kai. Sebenarnya itu hanya modus gadis itu, aku tahu ia melakukannya agar bisa bertemu dengan Chanyeol.Dasar.

Kai dan Timnya terlihat sedang berkumpul mendiskusikan strategi setelah selesai mereka menumpukkan tangan dan bersorak memberi semangat. Pria itu membalikkan badanya dan langsung melihatku, berjalan santai dengan handuk kecil yang berada di lehernya menghampiriku. Min Ji yang sangat mengerti keadaan pergi meninggalkan entah kemana, menumui Chanyeol mungkin?

“Aku pikir kau benar-benar tak ingin menonton” ucapnya melap keringat yang ada di pelipisnya membuat jantung berdetak tak semestinya. Sebenarnya aku sudah memberitahu Kai kalau aku tidak akan menonton pertandingannya dan menemukan sekarang aku berada disini pasti membuatnya sedikit kaget.

“Kalau kau berpikir begitu kenapa kau masih mencariku?” tanyaku tersenyum menggodanya.

Ia tersenyum mendekat kearahku. Aku merasakan tenggorakkanku kering ketika ia mendekatkan wajahnya dan berbisik di telingaku.

“Karena aku tahu Han Hye Joo tak akan pernah bisa berhenti memandang Kim Jong In”

 

 

Kai dan Timnya memanangkan pertandingan dengan score yang sangat luar biasa.Mereka merayakannya dengan membeli beberapa kotak pizza dan memakannya di sekolah. Awalnya,aku menolak untuk ikut serta merayakan kemenangan mereka. Tetapi ketika melihat raut wajah Kai yang nampak sedih ketika aku berkata ‘tidak’serta Min Ji yang memohon padaku agar aku tetap tinggal agar ia juga tinggal dan bisa bersama Chanyeol membuat aku tak bisa menolaknya.

Seperti biasa Chanyeol dan Baekhyun selalu membuat suasana menjadi menyenangkan. Dan Min Ji terlihat sangat senang memandang Chanyeol yang berkelakar bersama Baekhyun. Aku bisa melihatnya, wajah gadis itu yang berseri atau ketika Chanyeol membukakan kaleng soda dan memberikannya pada Min Ji. Gadis itu menundukan kepalanya dan pipinya memerah. Aku tersenyum kecil, merasa bahagia untuk gadis itu.

Chanyeol memang pria baik dan Min Ji juga gadis yang baik. Mereka cocok kalau bersama. Aku menoleh, ketika Kai menyenderkan kepalanya ke pundakku. Pria itu masih fokus dengan cerita lucu yang di cerita Baekyun dan sekali-kali tertawa. Aku tersenyum kecil kembali mendengar cerita Baekhyun tentang kenakalannya saa kecil.

Kami pulang sekitar pukul 8 malam. Aku sudah bersikeras untuk pulang sendiri tetapi Kai tak mau kalah dan bersikukuh ingin mengantarku. Bukannya apa, aku tahu kalau Kai sangat lelah setelah bermain basket dan pria itu butuh istrihat. Aku hanya takut kalau pria itu akan sakit nantinya. Tetapi Kai luar biasa keras kepala. Aku tidak ingin berdebat dengannya jadi aku memutuskan untuk membiarkan saja.

Saat di bus, aku menyuruhnya untuk tidur. Wajahnya terlihat sangat lelah sehingga aku tak tega melihatnya. Pria itu menurut memejamkan matanya menyenderkan kepalanya di pundakku. Aku menghela nafas sebentar, melirik Kai yang sudah tidur. Aku mulai berpikir, apa mungkin hubungan kami bisa berjalan dengan baik. Kadang-kadang aku masih belum bisa mengerti kenapa aku menerima Kai. Aku tidak yakin, kalau hubungan kami akan bertahan lama.

Aku merasa lelah, aku lelah dengan fansnya yang selalu mengangguku. Aku tidak pernah bercerita tentang ulah fans-fansnya pada Kai. Tentang mereka yang menaruh lem di tempat dudukku, menuliskan kata-kata kasar dalam buku catatanku serta meletakan buah busuk di dalam lokerku. Aku tidak pernah menceritkannya pada pria itu. Dan melarang Min Ji untuk memberitahunya. Aku hanya tidak ingin dia khawatir padaku.

Dia akan tampak sangat berbeda saat marah. Kai memang jarang sekali marah tetapi sekali ia marah maka akan sangat sulit untuk menenangkannya. Aku masih ingat saat kelas 3 SMP. Ayahnya tidak bisa hadir pada hari kelulusannya. Kai sangat marah dan tidak ingin bertemu dengan siapapun selama seminggu. Mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak ingin bicara pada siapa pun bahkan ada Ayahnya. Orang tuanya khawatir dengan keadaan Kai dan menyuruhku untuk membujuknya. Awalnya Kai menolak tetapi karena aku terus mendesaknya ia mengalah.

Bus berhenti di pemberhentian halte. Kami harus berjalan kaki untuk sampai ke rumahku.Kai mengenggam tanganku dengan tangan besarnya. Di perjalan kami banyak bercerita. Saling menceritakan tentang suasana kelas masing-masing dan membahas kekonyolan Chanyeol dan Baekhyun tadi. Hingga tak menyadari kalau saat ini kami sudah sampai di depan rumahku.

Ia terlihat enggan melepaskan tanganku. Selama 15 menit yang kami lakukan hanya diam dengan saling memandang serta tangan kami yang masih bergandengan. Aku tersenyum dan ia ikut tersenyum. Dan kami tertawa sesaat lalu kembali diam.

Entah kenapa tiba-tiba suasana terlihat awkward. Kai menganggaruk lehernya gugup sedangkan aku menoleh ke arah lain tak menatapnya.

“Selamat malam” ujarnya pelan.

“Ya…selamat malam” balasku. Aku melirik tangannya yang masih mengenggam tanganku. Secara spontan Kai melepaskan tangannya dari tanganku. Aku tersenyum padanya berjalan memasuki rumah tetapi suara pria itu menghentikan langkahku ketika akan membuka pagar rumah.

“Han Hye Joo!” Aku membalikan badan menatapnya yang berjalan mendekatiku.

Pria itu menarikku ke dalam pelukannya. Memelukku sangat erat seakan tidak ingin melepaskannya. Aku memejamkan mataku, merasa nyaman dan damai. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berpelukan tetapi sepertinya Kai tidak ada keinginan untuk melepaskannya.

“Aku tahu kau lelah” bisikknya pelan masih memelukku.

“Bertahanlah…Han Hye Joo!i’ll be there for you

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s