Icy: Jungkookiess

 

“oppa!”

Jeon Jungkook baru saja meletakkan ranselnya dan berniat untuk duduk ketika segerombolan anak-anak perempuan menggeruminunya tanpa ampun. Seolah dirinya sudah seperti pepatah dimana ada gula disitu ada semut.

Suasananya sangat berdesakan, Jungkook bahkan harus menarik napas beberapa kali demi mendapat pasokan udara. Sekarang masih pagi, namun gerumunan ini sudah membuatnya berkeringat. “satu-satu, oke ?” ucapnya sambil menyambar selembar kertas dan pulpen dari sembarang arah, dia bahkan tidak tau siapa pemilik benda yang disambarnya secara asal itu. yang terpenting saat ini, dia memberi apa yang mereka inginkan sehingga dia bisa membebaskan diri dari kerumunan fangirls yang lebih mirip seperti komplotan para pendemo disiang hari.

“sejak kapan pasar ikan pindah kemari ?!” suara cukup keras itu berhasil memecah riuhnya sorakan gadis-gadis yang mengklaim diri mereka sebagai fans. Nyaris semua dari mereka menoleh ke sumber suara, hanya beberapa yang memfokuskan diri mereka pada Jungkook.

“ini milikmu” Jungkook memberi selembar kertas dengan tanda tangan diatasnya kepada seorang gadis, ia hendak menyambar kertas lainnya namun terhenti ketika tak menemukan selembar kertas pun yang terjulur padanya. dia baru menyadari kalau suasananya tidak segaduh tadi, juga baru menyadari kalau semua pusat perhatian tidak tertuju padanya lagi.

“Hana-ya ribut-ribut apa ini ?” tanya gadis itu sambil meletakkan ranselnya dengan asal diatas meja. Gadis yang dipanggil Hana itu mengangkat bahunya ringan lalu mengedikkan dagunya kearah Jungkook dan kerumunan fansnya. “kau tau ? fanmeeting dadakan” sahut Hana seadanya.

Gadis itu mengikuti arah yang ditunjuk Hana, ia menyipitkan matanya ketika Jungkook memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Awalnya dia berpikir kalau Jungkook ingin melayangkan protes karena dia sudah mengacaukan fanmeeting dadakan ini, tapi nyatanya tidak. Jungkook terlihat tenang dengan tatapannya yang menjurus langsung ke manik mata gadis itu.

***

“ra, Hwang songsaenim memanggilku ke kantor. Kau oke jika ke kantin sendirian ?” Hana berkata dengan cepat ditengah hembusan napasnya yang memburu, rambutnya yang sedikit berantakan membuatnya nyaris terlihat seperti atlit lari.

Sera mengernyit kilas, mencoba menangkap apa yang Hana sampaikan. Begitu ia mendapat kejelasan, barulah ia menangguk setuju. “aku juga tidak lapar” balas Sera yang menegaskan kalau dirinya tidak berniat ke kafetaria meski Hana berbaik hati mau menemaninya.

Hana melambai dengan langkah terburu yang dibalas senyum kecil dari Sera. Ia sempat mengingatkan Hana untuk tidak terlalu terburu dan gadis itu mengangguk patuh.

Terhitung tiga hari kakinya menapaki pelataran sekolah ini dan dia sukses menjadi bahan perbincangan seisi sekolah karena tingkahnya –yang menurut mereka- sangat angkuh di pertemuan pertama.

Dia cukup dibenci, terutama di kalangan anak perempuan. Anak laki-laki biasanya berlomba untuk mencari-cari perhatiannya. Oh mungkin selain angkuh, Sera juga dibenci karena dia berhasil memikat anak laki-laki disekolahnya.

Han Hana satu-satunya gadis yang bersedia menemaninya, bukan karena sifat angkuh mereka yang secara tidak sengaja sama. Tapi karena kepribadian Hana yang tidak peduli dengan lingkungannya. Hana itu apatis, tapi tidak kaku. Dia gadis yang tidak ingin ikut campur dengan keributan yang terjadi disekolahnya. Jadi mau seisi sekolah membenci Sera, dia akan menjadi satu-satunya orang yang berdiri disamping gadis itu.

“ra ?!” saat itu Sera hendak membuka lokernya, namun tanpa disangka seseorang dari arah belakang langsung menutup lagi celah yang sedikit terbuka itu. Sera berbalik dan menemukan tubuh mungilnya sudah diapit oleh tangan besar disisi kiri dan kanannya. Dia harus mendongak untuk melihat wajah si pengganggu itu.

Namanya Jung Taesung. Sera mengetahui nama lelaki itu setelah membaca name tag yang melekat di bagian kanan atas almamaternya. “ya, ada masalah sir ?” tanya Sera dengan kepala yang sedikit menenggleng. Dia bersedekap tanpa merasa risih meski jarak keduanya hanya satu telapak tangan.

Entah kenapa pria itu sedikit kesulitan bicara, kesan menyeramkan yang sempat ditemuinya barusan kini berubah salah tingkat ketika ia balik menatap lelaki itu. ada kesan grogi yang ditangkap Sera.

“aku menunggu, Jung Taesung” desaknya malas. Terkurung di antara lengan Taesung membuat tubuhnya terasa gerah.

“seseorang menunggumu” Taesung mendesah frustasi, lantas menarik pergelangan tangan Sera untuk mengikutinya. Dia tidak menjawab satu pun pertanyaan yang dilayangkan Sera sebagai bentuk protes karena dirinya telah menyeret gadis itu tanpa izin.

Pintu rooftop terbuka satu detik setelah mereka menapaki tangga terakhir, satu tangan Sera yang saat itu terbebas dari cengkraman Taesung reflex menutupi wajahnya dari sengatan matahari yang langsung membakar kulit susunya. Sera suka musim panas, namun disatu sisi dia benci sengatan matahari.

“disana” Taesung mengedikkan dagunya sembari melepas genggamannya yang mencengkram pergelangan tangan Sera. Ada rasa aneh ketika dia melepaskan tangan itu: hampa dan tidak rela. Taesung baru beberapa menit menyentuh gadis itu, dan sekarang dia sudah dibuat candu. Sepertinya dia menyesali kesepakatan yang tadi ia buat bersama teman sebangkunya. Bahwa ia akan membatu teman sebangkunya untuk mempertemukan mereka di rooftop sekolah.

Sera menatap pergelangan tangannya yang memerah, ada goresan kecil disana. rasanya lumayan pedih. Ketika dia mendongak untuk menatap Taesung, pria itu balik menatapnya dengan rasa bersalah. Seolah meminta maaf karena menyebabkan pergelangan tangannya terluka. “setidaknya itu cengkraman bukan cekikan” gumam Sera yang menyulut tawa kecil dari Taesung. “well, tugasku selesai” ucap Taesung sebelum berlalu menuruni anak tangga.

Sera memandang ke arah yang ditujuk Taesung dengan satu tangan yang masih melindungi wajahnya. Sekitar tiga meter dari jaraknya berdiri ada seorang anak laki-laki yang menyambutnya dengan senyum hangat. Sera cukup familiar dengan sosok itu, tubuhnya memang tidak setinggi Taesung sih tapi lumanyanlah.

Sera bermaksud mengambil langkah pertamanya namun pria itu keburu menghampirinya, dengan senyum merekah diwajah tampannya.

“hai, Ra” sapanya.

Senyum itu tak luput dari bibirnya meski Sera tidak menunjukkan ketertarikan apapun atas dirinya. Dia –Jeon Jungkook, pria yang memandangi Sera tanpa henti. Bahkan sampai detik ini pun mata hazel itu masih memandang Sera begitu dalam.

Sera sempat kehilangan kesadarannya ketika memandang Jungkook, bukan… bukan karena dia tertarik dengan pria itu. tapi karena dirinya yang terlalu berekspektasi tinggi, berharap jika pria musim dinginnya bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang Jungkook lakukan padanya. senyum tulus itu, tatapan hangat itu. Sera sangat ingin melihatnya dalam diri prianya.

“ –Jeon Jungkook ?” Sera memastikan dengan alisnya yang berjengit, berharap ingatannya tidak payah. Hana sempat menceritakan sedikit tentang Jungkook ketika mereka sedang belajar tadi.

Jungkook mengangguk. Ia menjulurkan toples bening berbentuk bulat dengan pita merah diatasnya. “kau suka cookies ?” tanya Jungkook yang sebenarnya hanya kalimat retoris. Sera memandang wajah Jungkook lalu toples itu, dan kembali memandang Jungkook. Jungkook kelewat percaya diri, menurutnya.

“aku tidak mengkonsumsi cookies, termasuk makanan manis lainnya”

Bukan itu jawaban yang diinginkan Jungkook. Harusnya saat ini Sera menerima pemberiannya dengan senang hati. Dengan smilling eyes yang begitu memukau setiap kali gadis itu tersenyum ataupun tertawa. Jungkook benar-benar tenggelam dalam kelopak samudera yang indah itu, tepat pada pandangan pertamanya.

“begitu ? mau ke kafetaria ? siapa tau ada sesuatu yang kau suka yang bisa kita makan bersama. Omong-omong aku juga belum makan siang” tawar Jungkook. Dia bukan tipe orang yang mudah kehabisan bahan obrolan, jika rencana awalnya tidak berhasil maka aka nada beribu rencana lain yang terlintas di otaknya.

“aku sedang diet” Sera mengedikkan bahunya ringan yang disahut gumaman ‘oh’ oleh Jungkook. Gadis itu menjulurkan tangannya untuk menyambut toples yang sejak tadi digenggam Jungkook. “tapi terima kasih untuk cookiesnya, Jungkookies” Sera tersenyum tipis, lantas menggoyang kecil toples yang sudah berpindah ke tangannya –menandakan bahwa ia menerima dengan baik pemberian dari pria itu. setidaknya dengan begitu Jungkook tidak kecewa.

“eh ? Jungkookies ?” Jungkook merasa aneh sendiri ketika menyebut namanya dengan julukan yang diberi Sera, tapi entah kenapa ketika Sera yang menyebutkannya dia suka-suka saja. Seolah apapun yang keluar dari bibir gadis itu terdengar begitu istimewa.

Jungkookies. Jungkook dan Cookies” terang Sera tanpa melepas senyum kecilnya. Jungkook terdiam dengan kedua tangan yang terselip dibalik saku celananya, memperhatikan setiap pergerakan gadis itu. senyum itu sudah seperti zat adiktif baginya, Jungkook akan merekam dan mengingat senyum manis di pertemuan pertama mereka itu dengan baik.

“anyway, let’s be friend Jungkookies”

 “tentu” jawabnya seraya mengacak rambut coklmat caramel milik Sera yang tergerai bebas.

 

 

 

p/s: aku nulis apa sih ? bodo’ ahh, tiba-tiba dapet ilham waktu liat foto Jungkook bagi-bagi tanda tangan gratis(?) ke temen-temen sekelasnya. semua cerita Icy berhubungan ya ^^

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s