Icy: Gotcha!

 

“what the hell are you doing here ?”

Jin menghubunginya sekitar setengah jam yang lalu, bukan melalui sambungan telepon. Hanya pesan singkat yang mengatakan kalau pria itu sudah berada di basement apartement-nya dengan keterangan nama ‘Jin’ di pojok bawah.

Oh bagus, setidaknya aku tidak perlu menebak-nebak siapa pemilik nomor asing ini.

Tapi bukan berarti name tag itu berhasil menjelaskan semuanya, Sera masih sempat terbengong-bengong sendiri di kamarnya –rasa penasarannya membuatnya ingin mencari tau dari mana si Princess yang satu ini mendapat nomor ponselnya. Mengingat sejauh mereka saling mengenal –yang terbilang masih hitungan minggu- yang mereka lakukan hanyalah bersitegang.

Berbeda dengan member yang lain, Jin satu-satunya orang yang tidak menerima kehadiran Sera di antara mereka. disaat yang lain sibuk mengajak gadis itu bercanda –yang terkadang menjurus ke rayuan- Jin malah melengos setiap kali mereka bertemu. Jangan kan berpapasan, Jin selalu melengos setiap kali pandangan mereka tidak sengaja bertemu.

Mereka bahkan mendapat label ‘musuh bebuyutan’ dari Jimin.

“kau lebih baik masuk daripada banyak komentar” Jin menekan salah satu tombol yang secara otomatis membuka pintu mobilnya, dia balik memandang Sera dibalik kacamata hitamnya. “c’mon” ajaknya sambil mengedikkan kepala, memberi isyarat agar gadis itu segera masuk.

“dengar Jin, ayahku tidak akan segan-segan membunuhmu jika satu goresan saja bersarang ditubuhku” ini peringatan. Dan Jin tidak memperdulikannya.

***

“kau tinggal dengan siapa disini ?” tanya Jin sambil menyerahkan satu cone ice cream stroberry pada Sera. Sera sempat memandangnya sebelum menerima ice cream itu, Jin tidak bilang kalau dia pergi mencari ice cream. Tiba-tiba saja dia sudah kembali dengan satu cone ice cream yang entah di dapatnya dari mana.

“apa kita sedekat itu untuk bertukar informasi pribadi ?” Sera mengambil jilatan pertamanya tanpa melepas sosok Jin dari jarak pandangnya. Pria itu terlihat salah tingkah, mungkin dibuat kehabisan kata-kata oleh kalimat retoris Sera.

“hanya ingin tau motif dibalik kebiasaan berkunjungmu ke dorm kami. Jika aku tidak salah tangkap, kau kesepian” Jin menyahut dengan gedikan bahu ringan. Dia lantas menyandarkan tubuhnya di jok kemudi setelah lagu One Day milik grupnya mengalun indah di mobil. “jika itu benar, lalu ?”

Jin tidak menjawab. Menunda tepatnya.

Dia belum menemukan timing yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sera.

Alih-alih menghindari pertanyaan Sera, Jin melempar pandangannya ke luar jendela. Cuacanya sangat bagus, cerah tapi tidak panas. Sangat cocok untuk menyusuri lorong-lorong kecil di Hongdae dengan berjalan kaki. Tapi mereka tidak mungkin melakukannya, jadi berdiam diri di mobil sambil memandang sungai Han mungkin bisa jadi alternativenya.

“dari mana kau mendapat nomor ponselku ?” Sera akhirnya meluncurkan pertanyaan yang sejak tadi menggantung di tenggorokannya. Jin masih menjadi objek pandangnya sejak tadi. Sambil menikmati ice cream yang tersisa separo itu, dia menunggu Jin menjawab rasa penasarannya.

“apa kita sedekat itu untuk bertukar informasi pribadi” Jin menoleh ke arahnya. Mengabaikan sungai Han yang sempat menjadi pusat pandangnya

  1. S

Sera mendesis. Dia tidak suka seseorang membalikkan kalimatnya. Jadi dia memberengut tanpa mau memandang Jin lagi. Kali ini dia menjadikan Sugai Han sebegai objek pelarian diri dari pandangan Jin.

“lihat bibirmu” tunjuk Jin yang sukses membuat perhatian Sera terpusat padanya lagi. Agaknya gadis itu sudah melupakan janjinya untuk tidak menghiraukan Jin lagi.

Sera membuang ice creamnya sementara ibu jarinya hendak menghapus jejak-jejak ice cream yang tertinggal di sudut bibirnya. Jin menahan tawa saat itu. demi apapun, Sera malu sekali kepergok makan berantakan.

Diluar dugaannya, Jin menarik tangannya –mendorongnya ke pintu mobil dan mengurungnya di antara lengan besar itu. mata mereka beradu. Sera berniat melayangkan protes namun satu detik berikutnya dia bisa merasakan sesuatu yang lembab dan basah mengenai permukaan bibirnya.

Bibir itu milik Jin.

Pria itu menciumnya –tanpa izin.

“singkirkan wajahmu dariku, Jin” Sera mendesis setelah ciuman singkat mereka. Jin belum menarik tubuhnya menjauh, dia masih mengunci tubuh mungil itu diantara lengannya. Debaran jantungnya menggila dan dia dapat memastikan kalau aroma cherry yang menguar dari tubuh Sera akan selalu menjadi candunya.

“aku mencintaimu, Ra” Jin ikut mendesis. Dia tidak tau pasti timing-nya sudah tepat atau belum, tapi seperti yang sering dilihatnya, biasanya pria menyatakan perasaannya setelah mencium gadisnya. Katakanlah Jin korban drama.

Sera tersenyum samar yang mungkin tidak disadari oleh pria di hadapannya ini. “kau tau aku menolak Jungkook”

“itu bagus”

Sera terkekeh namun tidak berhasil membuat Jin kehilangan kepercayaan dirinya. Pria itu malah semakin dalam memandangnya. Dia sendiri kehabisan akal untuk mematahkan kepercayaan diri Jin yang kelewat tinggi itu. Bagaimana bisa pria itu memandangnya seolah sangat percaya kalau dia tidak akan ditolak.

“jika aku juga menolak-”

“itu tidak akan terjadi” kata Jin setelah dia berhasil memotong ucapan Sera dengan kecupan singkatnya.

Ia menyampirkan helaian rambut Sera kebelakang, gadis itu berkeringat namun tidak sedikit pun mengurangi kecantikannya.

“Jin-derella akan menemani Ra-punzel bermain di menara Jin berjanji. Dia terkekeh sendiri dengan ucapannya. tentang bagaimana dia bisa mengucapkan julukan menjijjikkan itu dengan mulus, mengingat biasanya dia benci jika dipanggil ‘Jin-derella’

Jin memang menyukai Disney, tapi bukan berati dia suka dijuluki seperti itu.

“kupikir Ra-punzel yang kesepian di menara tidak akan menolak tawaran ini, kan ?” Jin kembali bertanya dengan nada yakinnya. Dia tersenyum menunggu jawaban dari gadis itu.

Di dalam benaknya, Sera sudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaan klise ini. hanya saja dia sengaja menahannya. Dia ingin menyaksikan bagaimana perubahan ekspressi Jin jika pria itu sedang deg-degan.

Jin masih memandangnya dan Sera balik menatap manik lelaki itu lekat-lekat. Tidak ada kebohongan dibalik manik coklat terang itu, Jin mengutarakan perasaannya dengan sunggung-sungguh. Ketika Sera mengambil jeda sejenak untuk berpikir kenapa Jin kelewat percaya diri dalam hal ini, dia menemukan jawabannya. Jin kelewat tulus dengan perasaannya. Cinta yang tulus itu akan mendapatkan hasil yang bagus, bukan.

Sera menangkupkan kedua tangannya di wajah Jin, disusul ekspressi setengah terkejut dari lelaki itu. seberkas kehangatan sukses menjalar ke setiap tubuhnya ketika tangan mungil itu bersentuhan dengan kulit wajahnya. Jin menyukai itu.

“Ya, setelah kau melenyapkan koleksi Disney pinky stuff-mu itu, sayang” bisik Sera disusul kecupan singkat dipipi Jin.

 

 

 

P/s: omaigat… omaigat… part ini selesai setelah mendapat desakan dari Mita yang katanya penasaran sama kisah Jin-Sera di Icy. Tadinya sih pengen Jungkook-Sera pacaran tapi kayaknya Jungkook lebih cocok jadi TTM.

Kabar Sehun ? dia masih sibuk ngurusin TLP. Makin cakep ye dia hohoho /kiss Sehun/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s