Icy: Sunny

 

 


Di luar hujan.

Dingin dan lembab.

Pencahayaan yang sempat menemaninya semalaman kini padam begitu saja, ditengah matanya yang masih terpejam Sera mengernyitkan keningnya namun terlalu malas untuk sekedar membuka mata.

Apa lampu kamarnya putus ? atau listrik sengaja dipadamkan dari pusat ?

Terbesit beberapa pertanyaan di dalam benaknya, namun langsung diabaikannya begitu saja. Sudah kubilang, diluar hujan dan udaranya dingin. Orang gila pun pasti memilih bergulat dengan selimut mereka ketimbang berkeliaran di jalan raya. Oh jangankan jalan raya, beranjak barang sesenti pun dari kasur mereka kurasa tidak.

Sera menarik selimut Masha and the bear kesayangannya yang saat itu hanya menutupi setengah dari tubuhnya. ia lalu bergelung di dalam selimut tebal itu hingga tubuh mungilnya terlihat seperti daging salmon yang terselip dibalik susi.

“Masha and The bear, huh ?”

Tidak, tolong katakan seseorang tidak sedang memergokinya dengan selimut memalukan –namun kesayangan- ini.

Ia membuka sedikit matanya, mengintip dibalik kelopak samudranya. Seberkas cahaya mendung menyelinap masuk ke dalam ruangan bernuansa pink itu, memberi kesan horror dengan kehadiran seorang laki-laki yang kini bersandar manis sambil bersedekap di samping jendela kamarnya.

Saat itu juga nama Deathnan, si malaikat maut yang sering disebut-sebutnya ketika ia masih kecil terlitas di kepalanya. Dengan matanya yang masih enggan terbuka, Sera berdoa kalau hari ini bukanlah hari kematiannya. Jujur saja, dia terlalu cantik untuk menjadi hantu. Setidaknya tunggulah sampai ia tua, itupun kalau dia merelakan dirinya tua dan berkeriput. Kurasa makhluk penuh dosa seperti Sera tidak akan membiarkan kulit susunya keriput dimakan umur.

Dia, Lee Sera. Si gadis perfeksionist.

“kau tidak ingin membuka matamu ? kau ingin berat tubuhmu bertambah karena tidur seharian ?” suara berat itu kembali terdengar.

Persetan dengan bobot tubuhku.

“Masha and the bear itu… apa Cuma aku yang tau ?” suara berat itu mengusiknya lagi, kali ini seolah mengancam akan menyebarkan fakta nistanya jika ia tak kunjung bergerak dari kasurnya.

Kalau sudah begini, Sera pasti akan mengalah. Dia mana mungkin mau rahasia memalukan ini terbongkar di depan publik, bisa-bisa citranya sebagai gadis mempesona dan sedikit bitchy ternodai.

Kalau dipikir-pikir, pria ini jauh lebih mengerikan ketimbang Deathnan.

“sialan” umpat Sera sembari menggelinding di kasurnya untuk meloloskan diri dari gulungan selimut. Disamping itu, pria kurang ajar yang telah mengusik tidur nyenyaknya hanya terkekeh kecil. Merasa menang dari perang tak kasat mata mereka.

Sera sudah bangun, tapi tidak sepenuhnya bangun. Nyawanya masih berlari kesana-kemari dan matanya… oke jangan tanyakan matanya karena mata bulatnya kini menyipit –nyaris terpejam. Jadi sementara ia mengumpulkan kesadarannya kembali, ia menarik tubuhnya untuk bersandar pada kepala kasur.

Omong-omong, Sera tidak memiliki mata sipit seperti kebanyakan gadis korea lainnya. Dia mewarisi mata ayahnya yang masih memiliki darah barat. Jadi bisa dikatakan, seperempat dari dirinya berdarah barat.

“kita sarapan, oke ?” kata pria itu langsung ke intinya.

“Kim Seok Jin, kau tidak puas ya mengganggu tidurku ?” tanya Sera sarkastik setelah ia menyadari kalau Deathnan jadi-jadian itu Jin, kekasihnya belum lama ini.

Jin tertawa, satu tangannya yang sempat terselip dibalik saku celana kini terangkat untuk mengacak rambut coklat caramel Sera yang berantakan.

“baiklah, kuberi waktu sepuluh menit. Kumpulkan nyawamu, basuh wajahmu dan temui aku di dapur” Kata Jin dengan serentet kalimat diktatornya. Ketika Sera baru hendak membuka mulutnya, Jin langsung memotongnya cepat “A-ah, tidak terima penolakan” lalu ia menghilang begitu saja dibalik pintu mahoni itu.

Aroma bread roasted yang baru saja keluar dari panggangan menari-nari dibawah indra penciuman Sera, gadis itu berdiri disamping konter rendah pembatas dapur dan ruang tv. Kesadarannya sudah terkumpul penuh, namun rasa kantuk itu belum bisa ditepisnya.

Jin yang menyadari keberadaan Sera disana, kini memutar balik tubuhnya lalu balik memandang Sera yang terlihat salah tingkat karena kepergok memandanginya. “jadi kita seimbang ?” alisnya terangkat sebelah meunggu jawaban dari gadis itu.

Sera membiarkan pertanyaa Jin menggantung sebentar di udara, rasa kantuk agaknya menyulitkan dirinya untuk menyerap pertanyaan pria itu. ia mengusap tengkuknya tanda bingung. “apa ?” katanya polos.

“aku mengagumimu dalam diam dan kau mengagumiku dalam diam” terang Jin percaya diri. Manik coklat terangnya seolah tersenyum hangat pada Sera dan gadis itu menyukainya.

Ada alasan kenapa dulu Jin selalu melengos, menghindar setiap kali pandangan mereka bertemu. Ini tidak seperti yang Jimin katakan kalau mereka –ia dan Sera- musuh bebuyutan. Sebaliknya, Jin menyukai Sera. Dulu dia berpikir kalau rasa sukanya terhadap gadis itu sama seperti rasa suka teman-temannya yang lain terhadap Sera. Hanya sebatas obsesi untuk memiliki kesempurnaan yang ada di dalam diri gadis itu. cinta tidak seperti itu, cinta bukan sebuah obsesi.

Jin yang tidak ingin berurusan dengan lingkaran setan bernama obsesi itu mencoba membenci Sera, menghapus gadis itu dari jarak pandangnya. Tapi sialnya dia kalah. Jantungnya menggila setiap kali melihat Sera, sekeras apapun dia mendekte dirinya untuk tidak menatap Sera pada akhirnya dia akan menatap gadis itu juga. Jin akan merasa ada yang hilang dalam dirinya jika tidak menemukan gadis itu dalam jarak pandangnya barang sehari pun. Lalu dari sanalah dia sadar kalau dia mencintai gadis itu. Perasaan yang awalnya ia anggap obsesi itu ternyata cinta.

“asumsi dari mana itu ?” Sera memutar matanya jengah lantas menggeser sedikit langkahnya untuk mencapai kursi konter. “aku tidak perlu berasumsi untuk mengungkapkan suatu fakta” sahut Jin yang juga memutar bola matanya tak kalah jengah. “seperti fakta nista Masha and the bear-mu itu” tambahnya kalem.

“Seok Jin!”

“panggil aku oppa”

“brengsek!”

“tapi tampan”

Sera sudah siap dengan tatapan membunuhnya, sedangkan Jin masih bertahan dengan tampang tidak berdosanya. Tidak ada yang tau bagaimana sulitnya menahan tawa, Sera terlihat begitu menggemaskan ketika marah.

cuties” kata Jin disusul cubitan kecil di pipi Sera yang berwarna merah seperti udang rebus. “aku tau” sahut gadis itu galak. Jin terekeh sendiri melihat gadis itu.

“beri aku selai stroberry saja” pinta Sera saat Jin hendak membuka toples choco jam. Jin mengangkat bahunya ringan, “ini untukku” balasnya dengan lirikan mengejek seolah berkata ‘kau percaya diri sekali’

Sera memberengut , lantas menyambar bread roasted tanpa selai di dalam piring yang terletak di hadapannya. Ia menguap sekilas ketika meraih toples selai stroberry, hari ini benar-benar dingin. Telapak kakinya yang telanjang serasa membeku diatas lantai marmer.

Sera baru akan membuka tutupnya ketika Jin kembali mengangkat kepalanya dan merebut toples itu dari genggaman gadisnya. Sambil menyelipkan tangannya dibalik lengan kebesaran sweater berwarna soft pink itu, Sera sama sekali tidak melepas sosok Jin dari objek pandangnya. Menonton bagaimana pria itu menyiapkan sarapan untuknya.

Jin menyodorkan sepiring bread roasted dengan selai stroberry diatasnya lengkap dengan segelas susu low fat untuk Sera.

“kau kenapa ?” tanya Jin dengan kening berkerut setelah ia duduk berhadap-hadapan dengan Sera di counter. Sera tidak langsung menjawab pertanyaan pria itu, dibalik telapak tangannya yang masih terselip di lengan kebesaran itu dia menggenggam gelas susunya. Mencoba menyerap semua energi panas itu ke dalam tubuhnya.

“aku tidak suka udara lembab seperti ini” Sera menyahut setelah meminum seperempat dari isi gelas itu. kini ia beralih ke bread roasted-nya, menguyahnya sambil menunggu respon dari Jin.

“kau aneh” ejek Jin.

“tapi kau cinta” balas Sera sekenanya.

Sudut bibir Jin terangkat, pria itu tersenyum tipis. Sera memang aneh. Aneh dalam artian gadis itu kelewat sempurna untuk dikatakan manusia. Dia bisa membuat orang membencinya dan mencintainya disaat yang bersamaan, seperti Jin contohnya. Jin telah menjadi korban dari keanehan gadis itu.

Mungkin Sera jelmaan malaikat atau mungkin dulunya dia seorang bidadari yang didepak dari khayangan karena berbuat kejahatan, lalu dia bereinkarnasi menjadi seorang Lee Sera yang mempesona. Iya, mungkin seperti itu.

“memangnya sedingin itu, ya ?” Jin merasa suhu tubuhnya normal-normal saja, tapi setelah memperhatikan Sera yang nampak tidak nyaman dengan cuaca hari ini dia jadi khawatir.

“ya, untukku. Aku memang selalu begini setiap hujan, udara lembab tidak cocok untukku. Beda lagi dengan musim dingin, salju tidak terlalu berefek sebesar ini” terang Sera.

Bola matanya mengikuti gerak langkah Jin, mulai dari pria itu beranjak dari kursinya sampai ia merasakan sepasang tangan melingkar ditubuhnya. Jin memeluknya dari belakang. Pria itu menempelkan kepalanya di bahu Sera, menghirup aroma Cherry yang begitu manis. Dan lagi, jantungnya kembali menggila.

“apa seperti ini masih kedinginan ?” tanya Jin memastikan. Sera sudah memakai sweater tebal dan Jin juga sudah memeluknya, tapi udara dingin yang menjalari tubuhnya tetap saja terasa. “sejujurnya masih, tapi terima kasih” Sera menyempatkan diri untuk sekedar menoleh, tanpa disadarinya bola mata mereka beradu.

Terjadi keheningan yang cukup panjang saat itu, namun Jin mengakhirinya dengan memutar tubuh mungil Sera dan menciumnya. Melumatnya dengan pelan dan hati-hati. Terasa manis dan memabukkan.

Sera tersenyum dibalik ciuman mereka. Entah magic apa yang dipakai Jin, Sera merasa tubuhnya dialiri oleh seberkas kehangatan.

Jin… mataharinya.

Hangat dan menyenangkan seperti musim panas.

“rasa stroberry dan… susu” gumam Jin selepas tautan bibir mereka, jarak keduanya hanya sekitar lima senti dan Sera bisa merasakan hembusan nafas Jin yang hangat diatas permukaan wajahnya. “itu sarapan yang kau berikan, ‘kan ?” kata Sera retoris.

Jin tersenyum kecil dan menutup pagi itu dengan kecupan ringan di kening Sera.

 

 

 

 

p/s: ini… nyambung ga sih ceritanya ? maaf ya kalo judulnya ga sesuai sama isi cerita, aku bingung mau kasih judul apa buat part ini -_- karakter Jin emang bakal aku buat sehangat matahari (?) dan Sehun bakal aku buat sedingin es (?) dan mungkin sepanjang cerita Icy bakal ada beberapa cowok yang nongol di part-part selanjutnya. As we know, Sera itu predator. Dan buat Jungkook maaf ya say kamu Cuma aku jadiin selingan tapi aku cinta kok :*

buat yang baru baca –kalo emang ada yang baca sih- coba deh baca dari Icy: Hell-o biar ngerti sama ceritanya. Itu juga kalo aku berhasil jelasin ceritanya sih hahaha.

oh iya, komen dong. komen kalian ngebantu banget 🙂

Thanks ya ^^

XOXO

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s