Oscar Part 2

Cast: Kim Jongin, Oh Sehun, Lu Han, Han Hye Joo, Lee Sera.
Author: Dvirginanda.
Length: Chapter.
Genre: Shool life, Romance, Family, Au.

 

Kim Jongin berjalan keluar dari ruang guru melintasi koridor lantai dua yang terlihat sepi karena proses belajar-mengajar sedang berlangsung. Heechul songsaenim yang menyeret ia dan Luhan ke ruang guru berpesan kepada mereka untuk segera masuk ke kelas dan memberi peringatan tegas pada keduanya untuk tidak berkeliaran selama proses belajar-mengajar berlangsung.

Jongin melewati kelasnya begitu saja, dengan langkah ringan dan santai. Oh tentu saja bukan Jongin namanya kalau tidak membangkang. Dia bukan tipe pria penurut, saat Heechul songsaenim berpesan tadi dia bahkan tidak mengiyakan sama sekali. Hanya diam menunggu pria setengah wanita itu mempersilahkan mereka keluar.

Yang mengherankan disini, bagaimana Luhan yang biasanya patuh malah mengekor dibelakang Jongin –mengikuti langkah Jongin yang sepertinya menuju rooftop sekolah.

“masih ingin memukulku ?” Jongin berbalik tepat setelah mereka berdua sampai di rooftop, dibalik kedua tangannya yang terselip di saku celana, ia memandang Luhan dengan santai. Seolah lelaki di depannya itu sahabat karibnya, bukan musuh sebagaimana mestinya.

Siang itu matahari begitu terik, membakar permukaan kulit mereka serta menambah hawa panas yang berkobar di dalam diri mereka. sejatinya Luhan ingin sekali menghabisi wajah keparat Jongin, tapi setelah dipikir-dipikir sepertinya percuma saja. Pria keras kepala seperti Jongin tidak mempan diumpat ataupun dipukuli.

“tinggalkan Hye Joo” kata Luhan tenang.

Jongin membuang mukanya sambil terkekeh, mengejek Luhan secara tersirat. Ketika ia kembali memandang Luhan, pria itu masih bertahan dengan wajah tenangnya. Sangat berbeda dengan ekspressi ketika mereka berkelahi di cafetaria tadi.

“pardon ?” sahut Jongin tak peduli –sengaja memancing emosi Luhan. Mungkin berkelahi sudah masuk ke dalam list ‘hal yang ia sukai’ …. Ya mungkin.

“kau tidak cukup bodoh untuk mencerna kata-kataku kan, Kim Jongin ?”

Jongin mendesis, “dia calon adikku, kami hanya melakukan suatu pendekatan. Ada masalah, Luhan Wu ?”

“Kim Jongin!”

“apa pedulimu ?!” balas Jongin tak kalah membentak. “oh aku ingat, kalian berdua pernah pacaran. Jadi katakan, kau masih menyukai Han Hye Joo ?” Jongin menunggu respon Luhan dengan tangan yang masih terselip dibalik saku celanya.

Ia menyaksikan bagaimana wajah Luhan berubah merah, tangan pria itu mengepal kuat menahan emosi. Jongin semakin memandangnya rendah, menghitung dalam hati sampai Luhan memuntahkan emosinya.

Luhan tidak membuka suaranya pun tak ada pergerakan dari pria itu. Dia benci jika orang-orang mulai mengungkit masa lalunya bersama Hye Joo –membuatnya selalu merasa sebagai objek yang tersalahkan.

Dia memejamkan matanya, menarik dalam napasnya lalu menghembuskannya bersamaan dengan kelopak matanya yang terbuka, “Han Hye Joo, dia takut kekerasan” jelas Luhan singkat lalu berbalik –berjalan menjauh meninggalkan Jongin yang kalah telak dibelakangnya.

***

“Lee Sera si otak udang”

“aku sangsi kalau dia mengandalkan bakatnya dalam dunia entertainment”

“wajah cantiknya hasil operasi!”

“dia berhasil debut setelah menggoda anak CEO Kim”

Lee Sera melempar asal tabletnya, memejamkan matanya berusaha untuk mengabaikan komentar pedas yang dilayangkan netizen padanya. dia tidak berharap berita ini sampai ke telinga Mom dan Dad-nya atau dia terpaksa keluar dari dunia entertainment lalu menetap di New York dan dikurung bersama guru killer lengkap dengan tumpukan buku yang menggunung. Membayangkannya saja sudah membuat tubuh Sera bergidik.

Sera merosotkan tubuhnya yang awalnya bersandar tegak di atas sofa menjadi sedikit berbaring. Dia mencintai karirnya, tetapi ada saat dimana dia menjadi begitu frustasi dan sempat terpikir untuk keluar dari dunia yang sedang di jalaninya. Contohnya seperti sekarang, ketika semua orang merendahkannya ketingkat yang paling bawah.

Don’t give up, Lee Sera!

Sera selalu melafaskan kata-kata itu setiap kali merasa terjatuh, menjadikan kalimat itu sebagai motivasi dirinya. Dia bukan gadis lemah! Maka dari itu dia tidak akan pernah menyerah semudah itu. seorang Lee Sera tidak akan menyerahkan apa yang telah diraihnya dengan susah payah begitu saja.

“Sera! Ahh.. aku tidak tau harus berkata apalagi sekarang” CEO Kim mengacak rambutnya frustasi. entah sudah untuk yang keberapakalinya Sera membuat masalah, terakhir kali gadis itu membuat masalah dengan beredarnya foto-foto yang menunjukkan bahwa dirinya mengunjungi bar yang akhirnya bisa ditepis dengan menyangkal kalau itu bukan Sera, hanya seseorang yang kebetulan mirip.

“do what you want then” Sera menyahut dengan nada datarnya, memandangi kuku cantiknya yang kala itu dipoles dengan nail art berbentuk stroberry. Mengesampingkan keangkuhannya, Sera sangat menyukai sesuatu yang berbau cute dan girly. Gadis itu sebenarnya kekanakan sekali.

“kau ingin lepas tangan lagi dari masalahmu ? menurutmu aku gudang alibi ?”

“bukankah itu salah satu tugas CEO, melindungi ‘anak asuhnya’ ?” kata Sera ringan. Ia mengalihkan pandangannya pada CEO Kim ketika mengingat sesuatu “ahh… satu lagi Jumyeon ahjussi, untuk masalah kali ini bukankah kau dalangnya ? kau memanfaatkan ketenaranku untuk meraup banyak keuntungan, memberiku jadwal yang super padat hingga aku tidak punya waktu untuk sekedar membuka buku. Kau bahkan tidak memberiku waktu untuk tidur nyenyak”

Sera mengalihkan pandangannya pada Shindong, melirik tajam pria tambun itu seolah memaksanya untuk menyetujui ucapannya. “Sera benar. setiap pagi dia selalu mengeluhkan mata pandanya karena kurang tidur. Kupikir sudah seharusnya kau mengurangi schedule-nya, paling tidak sampai dia menamatkan sekolahnya”

Sera bertepuk girang dalam hatinya, Shindong memang bisa diandalkan. Sera benar-benar menyayangi manager tambunnya itu.

“aku harus pergi” pamitnya seraya menyambar tas sekolahnya yang sempat tergeletak tak berdaya di atas meja. Ia melirik Shindong lagi, mengisyaratkan pria itu untuk segera membawanya pergi dari gedung ini. manager-nya yang selalu pro padanya itu tentu saja langsung setuju, lagi pula Shindong sudah kelaparan karena terlalu lama mendengar celotehan CEO Kim.

“Lee Sera!”

“kau bisa menghubungiku setelah membuat keputusan tentang jadwal gila ini, Kim Junmyeon ahjusshi

***

Pukul dua pagi dini hari. Suara bising dari mobil-mobil sport yang saling menyalip satu sama lain memecahkan keheningan malam yang begitu dingin. pengendaranya mengendarai mobil mereka masing-masing dengan kecepatan di atas rata-rata. Membelok tajam di persimpangan dengan sudut sempurna tanpa menurunkan kecepatan mereka.

Tidak ada yang takut mati diantara mereka. Tidak peduli nyawa menjadi taruhannya selagi mereka bisa memenangkan balapan liar dan menyandang predikat sebagai pembalap tangguh yang tak terkalahkan.

Sebuah Lamborghini orange berhasil melintasi garis finish pertama kali dengan begitu anggun disusul ferarri merah dan mobil-mobil sport lainnya dibelakang, terdengar decitan nyaring ketika Lamborghini itu menghentikan lajunya.

Pengemudi Lamborghini tersebut keluar dari mobilnya dengan begitu angkuh, menunjukkan kepada orang-orang kalau dialah pemenangnya malam ini. ia tersenyum miring ketika padangannya menangkap objek incaran rutinnya. Langkah besarnya membawanya menuju Audi R8 Spyder yang terparkir manis di sudut jalan.

“kau disini ?” Kim Seok Jin menyandarkan tangannya yang terlipat di atas pintu Audi tersebut, memandang pemiliknya dengan tatapan kagum seperti biasa.

Gadis itu menolehkan kepalanya sambil mengunyah permen karet lalu sedikit menurunkan kaca mata yang ia pakai, “ada masalah?” Sera balik bertanya, membuat Jin terkekeh kecil karenanya. “ini bahkan tidak lucu, sir!” ejeknya.

“tapi kau cukup lucu” Jin menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah lengkungan yang sangat indah. Tangannya meyentuh wajah Sera lalu mencubit pipi gemas pipi gadis itu, dia kembali tertawa ketika Sera memutar bola matanya jengah.

Asal kalian tau saja, Kim Seok Jin bukanlah tipikal pria yang mudah peka. Dia selalu melakukan apapun yang ia mau tanpa menghiraukan pendapat orang-orang disekelilingnya. Contohnya seperti saat ini. Dia bahkan tidak sadar kalau Sera sudah muak sekali melihat wajahnya. Berapakali pun Sera mengungkapkan betapa bosannya dia pada Jin, pria itu tetap saja bersikap seperti biasa. Menempel pada Sera seakan tak pernah mendengar umpatan-umpatan pedas yang gadis itu layangkan untuknya.

“ngomong-ngomong dimana Nissan Veilside RX-7 mu ?” Jin mengerutkan keningnya bingung, biasanya Sera selalu membawa mobil kesayangannya itu ke arena balap meski gadis itu hanya datang untuk menonton pertandingan.

Daddy-ku yang tampan itu menyitanya” sahut Sera ringan.

Lee Sera adalah anak tunggal dari pasangan Aiden Lee dan Shin Seungrin. Ayahnya pemilik Volkswagen Group yang memasarkan mobil-mobil mewah bernilai jutaan dollar sejenis Lamborghini, Audi, Bugatti dan Porsche. Sedangkan ibunya mantan supermodel kenamaan Korea yang meraih kesuksesannya sebagai model Victoria Secret di New York.

Dari latar belakang Sera yang sangat luar biasa, kau bisa membayangkan betapa sempurnanya gadis itu.

“menyingkir” Sera menggerakkan tangannya di udara, membuat gerakan mengusir pada Jin. “as your wish, princess” sahut Jin yang membuat Sera mendelik tajam kearahnya. Alih-alih merasa terancam atas delikan Sera, Jin malah mengangkat bahunya tak peduli dan menyingkir dari jalan Sera secara teratur.

“tumben sekali kau kalah” Sera mengarahkan telunjuknya pada pria yang baru saja menuruni ferarri merahnya dengan rambut yang tidak tertata rapi seperti biasa. Mood pria itu terlihat buruk sekali, tapi meskipun begitu tetap saja tidak mengurangi ketampanannya.

“penting untukmu ?” pria itu –Kim Jongin menyahut tanpa menghilangkan kilatan amarah di matanya. Dia terlalu kacau hari ini, tidak fokus seperti biasa.

Sera mengedikkan bahunya tak peduli “sampai dunia kiamat pun kau tidak akan menang jika berlomba dengan keadaan mood seperti itu” komentar Sera. Dia tidak asal berkomentar, dulu dia juga pernah ikut balapan liar dengan keadaan kacau seperti Jongin. Berharap dengan menyalurkan seluruh emosinya pada balapan itu dia bisa merasa bebas dan terhibur, tapi setelah berakhir dengan kekalahan yang ada dia malah semakin emosi.

Jongin mengibaskan tangannya tanda tak tertarik menganggapi komentar Sera.

“Han Hye joo ?” Sera menjengitkan sebelah alisnya.

Jongin menghentikan langkahnya ketika pendengarannya menangkap gumaman Sera yang sejujurnya memang tertuju untuknya. tidak bisakah orang-orang berhenti menyebut nama Han Hye Joo di depan wajahnya ? Jongin muak mendengarnya.

“karena gadis itu ? yang benar saja!” Sera menganga tak percaya.

Jongin memandangnya dengan tatapan tidak bersahabat, namun Sera sama sekali tidak menghiraukannya. Mengenal Jongin selama tiga tahun sudah cukup baginya untuk mengenal tabiat pria itu. Jongin tidak akan pernah berbuat kekerasan terhadap wanita. Sera mempercayai fakta itu.

“urusi saja masalah otak udangmu” Jongin melengos setelah melemparkan sindiran pedas itu. Sera menggigit bibir bawahnya, menghela napas dalam untuk menetralkan emosinya. Dia tidak ingin meledak di tempat umum seperti ini karena hal itu dapat memperkeruh masalahnya. Siapa sangka jika ada paparazzi yang membuntutinya sampai disini ?

Bisa-bisa besok keluar berita yang mengatakan kalau selain bodoh Sera juga emosian dan suka mengumpat. Uhh… para ibu diluar sana pasti mewanti-wanti putra mereka untuk tidak mendekati Sera karena tabiat buruk gadis itu.

Ayolah dia tidak bisa tidur karena komentar-komentar pedas itu, dia datang kemari sengaja untuk mencari udara segar. Beruntung jika tempat ini bisa sedikit menetralkan pikirannya dari masalah yang ia hadapi. Tapi setelah mendengar sindiran Jongin barusan, Sera jadi terserang mental breakdown lagi.

Sera secara reflex menoleh ketika seseorang dari arah belakang menyelimuti tubuh mungilnya dengan jaket kulit, saat itu ia hanya mengenakan hotpants serta kaos coklat tipis berleher Sabrina yang sedikit turun disisi kanan. Tiga detik berikutnya, dia bisa merasakan sepasang tangan melingkar di pinggul rampingnya.

Kim Seok Jin memeluk Sera dari belakang, menempelkan dagunya dibahu gadis itu lalu mengecup pipinya kilas, “kau yang terbaik, ra” gumamnya menyemangati.

Sera kembali memejamkan matanya, baru sadar kalau udara malam ini begitu dingin hingga membuat tubuh mungilnya menggigil dibalik jaket kulit milik Jin. Dia merasa begitu rapuh dan menyedihkan dengan keadaannya sekarang. Terlebih saat Jin mengasihaninya seperti itu.

“brengsek kau, Oh Sehun!” Sera mengumpat dalam hati sebelum akhirnya melepas kasar pelukan Jin dan berjalan menuju Audi putihnya. Berada disini malah membuat moodnya semakin buruk. Kim Jongin dan Oh Sehun sama brengseknya ternyata. Mereka berdua memang sekutu.

***

Tidak biasa Hye Joo datang sepagi ini ke sekolah.Hal ini hanya ia lakukan ia sedang memiliki masalah.Hye Joo tidak tidur semalam.Ada kantong mata di bawah mata gadis itu.Ia berjalan memasuki gedung yang masih tampak sepi.Gadis itu menghela nafas.Ia tahu Luhan mengikuti dari belakang.Tetapi gadis itu memberiakannya.

Luhan sudah sangat mengenal Hye Joo walaupun hubungan mereka terbilang singkat.Ia tahu,saat gadi itu memiliki masalah ia akan datang sangat pagi ke sekolah.Luhan masih ingat semua hal yang disukai Hye Joo dan tidak disukainya.Pria itu hanya diam mengkuti langkah Hye Joo yang pelan.Melihat punggung gadis itu yang begitu rapuh serta rambutnya yang ia ikat satu.

Hye Joo membalikan badanya ketika merasakan Luhan masih mengikuti padahal mereka sudah sampai di dalam gedung.Ia menatap Luhan kesal.Hye Joo tidak peduli dengan fakta kalau pria itu sudah menolong kemarin.Ia bisa melihat wajah Luhan yang lebam.Ia membencinya.Ia menbenci Luhan melakukan itu karenanya.Ia benci penyebab dari luka diwajah pria itu adalah dirinya.

“Aku minta maaf”Gadis itu melongos mendengar sebuah permintaan maaf keluar dari bibir Luhan.

“Dan aku menyesal”lanjutnya menundukkan kepala.

Hye Joo berdecak kesal menatap Luhan”Permintaan maafmu di tolak dan penyesalan sudah terlambat, Luhan Wu”

Luhan mengangkat kepalanya menatap Hye Joo dengan penuh penyesalan.

“Aku tahu!Tapi aku bisa menjelaskannya padamu”

“Apapun itu!Kau sudah terlambat untuk melakukannya” Hye Joo membalikan badanya kembali berjalan meninggalkan Luhan.

***

Pintu perpustakaan terbuka, menampakkan sosok anggun yang berjalan melewati barisan rak kayu yang menjulang tinggi. Semua pasang mata memperhatikannya, menjadikannya sebagai objek yang paling menarik.

Lee Sera menyusurkan telunjuknya pada jejeran buku lama yang begitu tebal dan berdebu. Mengabaikan pandangan setiap orang yang menatapnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Suara bisik-bisik dari mereka lumayan membuat gaduh perpustakaan hingga Kangin songsaenim yang bertugas sebagai penjaga perpustakaan menegur mereka, mengingatkan untuk tidak bersuara di dalam perpustakaan. Dalam hati Sera bersyukur atas teguran yang dilayangkan Kangin songsaenim, meski tidak menutup kemungkinan beberapa siswa masih menggosipinya sambil sesekali meliriknya.

Sejarah. Dalam kamus hidup Sera, Sejarah didefinisikan dengan satu kata: membosan. Sera menggeleng kecil begitu menemukan targetnya berada pada jejeran paling atas. Buku itu, sudah tebal, berdebu, sulit dicapai pula. Benar-benar keputusan yang salah untuk datang kemari, pikir Sera.

Dia mendesah berat, kemudian berjinjit untuk meraih buku itu. tubuh mungilnya berbalik secara mendadak ketika seseorang dari arah belakang merebut targetnya. Merasa kesal atas gangguan yang didapatnya, Sera lantas berbalik –mendongak untuk sekedar melihat wajah si jakung itu.

“kembalikan” Mengabaikan pandangan sepasang manik hitam pekat itu, Sera berkata dengan dingin. Tak ada alasan baginya untuk berlaku manis dihadapan pria ini. “aku sedang tidak ingin berurusan denganmu, jadi kembalikan” Sera kembali berujar seraya berjinjit untuk menggapai buku yang terangkat tinggi di udara.

“dan terima kasih untuk pujiannya kemarin, Oh Sehun. Aku tersanjung” Sera tersenyum sinis dibalik mata samudranya yang mengukir smiling eyes. Indah dan memukau, namun Sehun tidak cukup bodoh untuk mengartikan senyuman itu sebagai senyum persahabatan, dia sadar gadis itu tengah menyindirnya.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Sera, Sehun berkata dengan dingin dan penuh ancaman “singkirkan ponsel kalian”

Kening Sera berkerut, ketika gadis itu melihat sekelilingnya untuk memastikan apa yang terjadi barulah dia sadar kalau suasanya kembali gaduh seperti saat ia memasuki perpustakaan tadi.

Anak-anak yang mendengar peringatan Sehun langsung menyimpan ponsel mereka dan pura-pura tidak tau ketika Sehun memandang mereka satu persatu dengan pandangan penuh ancaman.

Sera baru akan bereaksi ketika ponselnya berdering, ia memandang Sehun kilas sebelum akhirnya menjauh dan menyahut panggilannya yang diterimanya.

“ya, kenapa mom ?”

Sehun sempat menoleh saat pendengarannya samar-samar menangkap suara Sera. Gadis itu terlihat begitu kacau menanggapi ucapan ibunya dari sambungan telepon. Sehun tidak berniat untuk mengetahui lebih jauh percakapan Sera dengan ibunya apalagi ikut campur, tapi tidak tau kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Seolah dia akan kehilangan sesuatu yang paling berharga. Herannya lagi hatinya malah menuntut untuk mencari tau alasan dibalik ekspressi kacau gadis itu.

***

Luhan memarkirkan Porsche hitamnya dengan sempurna di basement. Tempat yang pengap dan gelap namun cukup membuatmu tercengang dengan kehadiran deretan mobil mewah yang entah berapa banyak lembar dollar yang dikeluarkan oleh pemiliknya hanya untuk membeli sebuah mobil. Sejenak basement ini terlihat seperti showroom mobil, jika saja terdapat banyak penerangan.

Sera tidak berniat menunggu Luhan untuk memembukakannya pintu, dia terlalu kacau. Lagipula hal itu terlihat begitu romantis dan memberi kesan manja padanya. Sera tidak suka terlihat seperti itu, dia lebih suka terlihat angkuh dan menantang di depan orang-orang.

Dengan emosi yang menyelimutinya serta sisa-sisa tenanga yang dimilikinya, Sera berusaha mempercepat langkah kecilnya. Terkesan begitu tergesah-gesah dan tidak sabaran, hingga membuatnya memutuskan untuk berlari menuju lift. Dibelakangnya Luhan ikut berlari, berusaha menyamai langkah Sera meski beberapa menit yang lalu gadis itu sudah memberinya peringatan tegas untuk tidak mengantarnya sampai ke depan pintu apartement seperti apa yang sering Luhan lakukan. Sera sedikit menyesal meminta Luhan untuk mengantarnya pulang, tapi siapa lagi yang bisa dimintainya tumpangan ketika Shindong menghilang entah kemana.

Sera meringsek masuk ke dalam lift, menekan salah satu tombol yang membawanya ke lantai sepuluh. pintu lift nyaris saja tertutup jika Luhan tidak menyelipkan sepatunya diantara pintu lift, pria itu tertunduk dengan nafas terengah, mencoba mengontrol deru nafasnya yang memburu lalu berjalan tertatih ke dalam lift. “I’m okay, Lu” ucap Sera merasa bersalah dan tidak enak.

“kau memintaku mengantarmu, aku harus bertanggung jawab dengan memastikanmu memasuki apartement dengan selamat” Sera menarik napas pelan, Luhan memang sahabat yang baik. Terlalu baik sampai Sera merasa kalau pria itu terlalu berlebihan terhadapnya. Sera sendiri bahkan tidak pernah berlaku sebaik itu pada Luhan.

“thanks, anyway. Aku hanya menemui Mom, dan bisa dipastikan kalau aku akan baik-baik saja”

“aku tau”

Sera memutar bola matanya, dia berusaha mereka apa yang ada di dalam pikiran Luhan. Kalau pun pria itu tau dia akan baik-baik saja, jadi untuk apa repot-repot mengatarnya sampai ke depan pintu. “lalu kenapa mengabaikan peringatanku ?” Luhan berdecak sebal, Sera sudah terlihat seperti bos yang memarahi bawahannya, bagi Luhan.

“hanya ingin bertemu ibumu” sahutnya singkat yang membuat sebelah alis Sera terangkat ke atas, gadis itu menatapnya penuh selidik. “lihat saja di internet” kali ini Luhan yang memutar bola matanya jengah. “aku ingin melihat ibumu secara langsung, miss

“well.. well.. aku fans berat ibumu. Masalah ?” Sera terbahak mendengar pernyataan Luhan. Pria ini pandai sekali membuat mood-nya kembali membaik.

Pandangan mereka teralih pada pintu lift ketika terdengar bunyi kecil yang menandakan kalau mereka sudah sampai di lantai sepuluh. Sera melangkah keluar lebih dulu, diikuti oleh Luhan di belakangnya. Luhan sudah berdiri sejajar dengan Sera ketika gadis itu menekan beberapa digit angka pada passcode.

Pintu apartement terbuka, Sera sudah meyarankan Luhan untuk pulang dan menyakinkan pria itu kalau dia akan baik-baik saja. Tetapi Luhan tetap saja batu, dia berjanji akan pulang setelah bertemu dengan ibu Sera. Karena dengan begitu dia bisa memastikan Sera sampai dengan selamat, begitu kata Luhan.

Sera menghela nafasnya pelan, “well come in. anggap saja fanmeeting kecil-kecilan sebagai hadiah untukmu yang sudah mengantarku dengan selamat” Sera sengaja menekankan kata terakhir, bermaksud menyindir Luhan yang terlalu protective padanya. Luhan sudah seperti kekasih yang takut kalau gadisnya lecet secuil pun itu.

“sudah pulang ?” Sera hanya bisa menghembuskan nafasnya saat melihat ibunya berbaring dengan santai di atas sofa bludru warna merah ditemani segelas anggur dari Chateau d’Yuqaem yang harganya tidak ingin Sera sebut dalam hitungan won.

Shin Seungrin, ibu Sera berjalan ke arah Sera dengan langkah anggunnya. Menarik gadis itu ke dalam pelukan singkatnya lalu memberi kecupan kecil di pipi kanan Sera. Tipikal seorang ibu yang merindukan anaknya setelah nyaris satu tahun tidak bertemu.

Sera mencoba berontak dari perlakukan ibunya, mengingat ia masih kesal terhadap keputusan orang tuanya. Tapi entah kenapa tubuhnya tidak bergerak sedikit pun untuk melakukan hal itu. dia berpikir kalau.. ternyata dia sangat merindukan ibunya, semenyebalkan apapun wanita itu.

Luhan tidak bergeming sedikit pun, dia hanya memperhatikan kedua wanita itu, menatap mereka dalam diam. Ada perasaan sakit di hatinya saat melihat wanita itu memeluk dan mencium pipi Sera. Dia ingin diperlakukan seperti itu. mendapat tatapan penuh kasih sayang dan rasa khawatir dari seorang ibu. Luhan menginginkan ibunya. Iya, ibunya yang sudah lama pergi meninggalkan dia dan ayahnya.

“siapa ?” Seungrin menuntut penjelasan lebih dari Sera mengenai Luhan, ia menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan penuh selidik. “namanya Lu. Sahabatku” sahut Sera singkat tanpa mau menceritakan lebih detail tentang Luhan kepada ibunya. Dia masih ingat kalau dia telah mengibarkan bendera perang untuk orangtuanya beberapa jam yang lalu.

Luhan membungkuk singkat, memberi penghormatan kecil kepada Seungrin yang dibalas senyum ramah dari wanita itu. jika dilihat dari spesifikasinya, ada bagitu banyak kemiripan antara Sera dan ibunya. Seperti cara mereka tersenyum, langkah anggun mereka, rambut coklat mereka yang sehalus sutra, kulit mereka yang seputih susu, serta tubuh proposional mereka. benar-benar terlihat sempurna. Jika dilihat lebih dalam lagi, sepertinya sifat penghambur uang serta keangkuhan yang dimiliki Sera menurun dari ibunya.

Secara keseluruhan mereka terlihat seperti saudara kembar jika saja Seungrin sedikit lebih muda. Hanya satu yang membedakan mereka, iris mata. Seungrin memiliki iris mata coklat, sedangkan Sera memiliki iris mata hitam. Sepertinya Sera mewarisi mata ayahnya, walau begitu tetap saja dia mewarisi smilling eyes Seungrin yang selalu terukir indah setiap kali dia tersenyum ataupun tertawa.

“senang bertemu denganmu… Lu ?” sapa Seungrin sedikit ganjal saat menyebutkan nama kecil Luhan yang sering digunakan Sera. “aku juga” Luhan tersenyum kaku. “well, aku pulang ra-ya. Semoga harimu menyenangkan” pamit Luhan disusul dengan lambaian kecil dari Sera.

“temanmu mirip seseorang di masa laluku” gumam Seungrin.

***

Sehun meletakkan dua kaleng cola di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa bludru miliknya yang berwarna coklat. Ia menyambar psp-nya yang sempat terkapar di sofa lalu kembali melanjutkan permainannya yang sempat tertunda. Ekor matanya memperhatikan bagaimana tubuh Jongin meliuk-liuk dengan indah mengikuti alunan musik hingga akhirnya ia mengerang kecil karena kalah akibat tidak fokus pada game-nya.

Jongin menghentikan gerakannya, berbalik dan menatap Sehun yang kini kembali fokus pada psp-nya. Berpura-pura sibuk dengan dunianya agar Jongin tidak berbicara yang macam-macam.

“kau masih mencintai dunia lamamu, bung!” Jongin mengejek. Dia tau persis isi kepala Sehun, mau sekuat apapun sahabatnya itu menyangkal kalau dia sudah tidak tertarik dengan dunia tari, sorot matanya tetap saja mengatakan kalau dia masih mencintai dunia itu. Jongin berani bertaruh untuk hal ini.

“begitukah ?” sahut Sehun seadanya. Mencoba tidak tertarik dengan pembicaraan mereka kali ini. “menurutmu ?” balas Jongin tak kalah dingin.

Jongin membuka kaleng colanya, meneguknya tidak sabaran. Dia begitu kehausan, tubuhnya yang terasa begitu gerah mengeluarkan keringat yang begitu banyak sehingga kaos V neck-nya basah dan melekat sempurna ditubuh atletisnya. Sehun sempat berpikir kalau kaus Jongin bisa saja diperas.

“Krystal-”

“kau tau aku tidak suka membahas masalah ini” Jongin mengangguk setuju begitu Sehun memotong ucapannya dengan nada yang tidak bersahabat. “Krystal bukanlah alasan untuk keluar dari dunia lamamu” Sehun mem-pause-kan game-nya, menarik tubuhnya hingga kini bersandar tegak pada sofa. Jongin sadar pembicaraan mengenai gadis itu sangat sensitive diantara mereka, Jongin tidak bermaksud memancing keributan. Dia hanya tidak bisa mengontrol mulutnya, dia tidak bisa melihat Sehun terus bersembunyi di balik rasa bersalahnya.

“aku tidak pernah menjadikannya sebagai alasan” bantah Sehun seolah tak bisa disangkal lagi. Jongin menghempaskan tubuhnya di atas karpet berbulu, mengatur pernafasannya yang masih memburu sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “well, aku tidak peduli. Hanya ingin memberitau kalau dunia tari sangat menyenangkan” Jongin sengaja memanasi.

“bicara soal Krystal, aku cukup terkejut mengenai kedekatanmu dengan Sera. Kau tidak pernah mau berhubungan dengan gadis manapun setelah kejadian itu, tapi Sera ? sepertinya pengecualian” Jongin berkata dengan pandangan menerawangnya, mengingat bagaimana sikap Sehun terhadap Sera serta perlakuan –khusus- Sehun terhadap gadis itu. Setau Jongin, Sehun paling anti berurusan dengan kehidupan orang lain, apalagi wanita.

Dia hanya berteman dengan Jongin dan beberapa anak lelaki lainnya, Sehun benar-benar menutup diri dari para gadis.

“aku tidak ingin membahas apapun… Kai” Sehun sengaja menekankan nama kecil Jongin, dia selalu menggunakan nama kecil itu untuk menghentikan ocehan Jongin. ‘Kai’ seakan menjadi titik lemah Jongin, pria itu akan mengalah dan diam jika seseorang memanggilnya dengan nama kecil itu. Kai adalah panggilan kecil yang diberikan oleh ibunya. Hatinya akan bergetar lirih jika mendengar nama itu.

“Sera mungkin akan pulang ke New York dan aku yakin kau tau persis siapa dalang di balik semua ini” Jongin akhirnya kembali membuka suara setelah keterdiaman menyelimuti mereka untuk waktu yang cukup lama.

Jongin berkata begitu bukan berarti dia berpihak pada Sera, dia tidak pernah berpihak dengan siapapun kecuali Sehun. Jadi sudah jelaskan untuk apa dia mengatakan semua ini.

Sehun diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Separuh pikirannya seolah mengajaknya mengulang peristiwa dua hari yang lalu, separuhnya lagi masih bersikeras untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi pada gadis itu.

“jangan merusak masa depan orang lain seperti apa yang pernah kau lakukan di masa lalu” ucap Jongin bijak. Jongin terkekeh sendiri dengan ucapannya yang terdengar begitu aneh ditelinganya.

“sekarang semester pertama di tingkat akhir, dia tidak bisa pindah begitu saja” sahut Sehun masih bertahan dengan egonya dan hanya dibalas gedikan bahu tidak peduli dari Jongin.

Jongin merogoh saku celananya ketika deringan ponsel menginstruksi obrolan mereka, ia menatap layar ponselnya, mendebat keputusannya untuk mengangkat atau tidak panggilan itu. ucapan Luhan kemarin menimbulkan seberkas perasaan bersalah di hatinya.

“kenapa ?” Jongin memutuskan untuk mengangkat panggilan itu meski dia sendiri masih canggung, bingung harus berbuat apa.

Melihat gerakan mata Jongin yang berputar, Sehun bisa menebak inti dari percakapan itu. pasti sesuatu yang membosankan, dan jika tebakannya tidak meleset pasti yang menghubunginya adalah Han Hye Joo.

“aku tidak janji” Jongin lalu memutuskan sambungan mereka begitu saja.

“makan malam ala keluarga bahagia” papar Jongin seakan bisa membaca isi pikiran Sehun. Ia menggeleng tidak percaya dengan kehidupan barunya. “kau hanya perlu duduk manis bersama mereka dan mendapatkan jatah makan malammu, apa susahnya ?” Sehun tau hal ini cukup menyakitkan, mengetahui kalau ayahmu akan menikahi wanita lain yang secara otomatis akan menggantikan posisi ibumu. Tapi menurut adalah keputusan yang jauh lebih baik ketimbang terus memberontak seperti Jongin. Tidak ada guna dan membuang-buang waktu saja.

“itu jika aku menjadi dirimu” sangkal Jongin lalu kembali meneguk cola-nya dengan santai.

***

“sist ?” Jongin menghentikan langkahnya di tangga keempat, menatap Hye Joo dibawah sana dengan tangan yang terselip di jeans-nya –Memberi pandangan sok bersahabat yang malah memberi kesan menakutkan bagi Hye Joo.

“kau disini ? ku pikir sedang tidak ada dirumah” Han Sang Mi, ibu Hye Joo menyela ucapan Jongin dengan senyum ramahnya. Hye Joo yang berada disebelah Sang Mi menyikut lengan wanita itu, mencoba menyeretnya langsung ke meja makan. Bukan karena ia kelaparan atau semacamnya, melainkan karena Jongin yang kini kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga untuk menghampiri mereka. Hye Joo muak melihat seringaian Jongin.

“ini rumahku, tentu saja aku berada disini. Ada masalah… my step mother soon ?”

“Kim Jongin!” bentakan itu berhasil menarik perhatian Hye Joo dan Sangmi hingga mereka secara reflex menoleh ke sumber suara. Hye Joo menyeringai ketika melihat Kim Jongsuk, ayah Jongin –yang sebentar lagi akan menjadi ayahnya juga- berjalan ke arah mereka. Hye Joo mungkin membenci pria paruh baya itu, tapi dia cukup lega dengan kehadiran pria itu. setidaknya dia dan ibunya tidak perlu merasa ditindas oleh Jongin.

“its okay, Jongsuk. Hye Joo juga sering seperti itu” Sang Mi berkata sambil melirik Jongin sekilas, mencoba mengambil sedikit hati anak lelaki itu. Han Sang Mi tidak membenci Jongin hanya karena perlakuan buruk anak itu terhadapnya. Hal seperti ini sudah lazim terjadi jika dua keluarga yang berbeda bersatu, apalagi persatuan mereka dilandasi dengan bisnis.

Dia tidak meminta Jongin untuk menyukainya sebagai mana Jongin menyukai ibunya sendiri, dia hanya ingin Jongin menghargainya sebagai mana mestinya.

Jongin melengos ketika pembelaan itu meluncur bebas dari mulut Sang Mi. Pembual adalah kata yang dipilih Jongin untuk mendeskripsikan bagaimana perilaku Sang Min di depan ayahnya.

“aku minta maaf atas perlakuan Jongin” Hye Joo dan Jongin sama-sama memutar bola mata mereka jengah ketika Jongsuk memberi kecupan singkat di kening Sang Mi. “bagaimana kalau kita mulai saja makan malamnya” Jongsuk merangkulkan lengannya di tubuh Sang Mi, membuat Hye Joo membuang wajahnya dan Jongin yang memberi penolakan singkat namun tegas “aku sudah cukup kenyang melihat kalian berdua”

“Kim Jongin” Jongin lagi-lagi menyeringai. Ia semakin mendekat ke arah Hye Joo lalu mengacak kecil tatanan rambut gadis itu. “aku bercanda. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan adik kecilku, benarkan… Hye Joo ?”

***

“Mom!”

Sehun membuka pintunya tepat ketika Sera meneriakkan nama ibunya dengan kesal. Wanita paruh baya yang masih kelihatam cantik dengan kesan glamour-nya hanya mengangkat tangannya di udara tanpa mau berbalik dan menanggapi panggilan Sera yang terus menyerukan namanya. Sehun berpikir kalau sepertinya Sera dan ibunya habis bertengkar.

Sera mengalihkan pandangannya pada Sehun saat ibunya sudah menghilang di balik lift, dia muak melihat Sehun. Terlebih saat pria itu memergokinya memanggil-manggil ibunya dengan kesal seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan.

“Don’t get any closer!” Sera membentak ketika Sehun berjalan mendekat ke arahnya. Ia mengarahkan telunjuknya pada Sehun seolah memberi peringatan tegas untuk pria itu. alih-alih meladeni peringatan Sera, Sehun malah semakin memperpendek jarak diantara mereka –melangkah santai dengan tangan yang terselip di saku celana. Rasanya ingin sekali Sera memukul Sehun secara anarkis sampai pria itu mengaduh kesakitan.

“I warn you, Oh-” Sehun menarik pergelangan tangan Sera yang masih menunjuknya, ia menempelkan telunjuk itu di bibir Sera –Membuat Sera terdiam secara mendadak dengan mata yang mendelik tajam ke arahnya. “kenapa kau berisik sekali ?” Sehun berkomentar.

Sera membeku, tidak bisa melakukan apapun kecuali menggigit bibir bawahnya saat Sehun menunduk untuk menyamakan tinggi mereka dan menatap langsung ke manik matanya. Aku gugup, hanya itu yang dirasakan Sera.

“kau masih bisa melotot dengan mata sembab seperti itu ?” Sera menggeram kesal atas ejekan Sehun, pria itu berhasil merendahkannya ketitik yang paling bawah. Sera membuang mukanya, dia terlalu terbawa emosi hingga tidak menyadari wajah sembabnya. Sekarang dia tidak berani menunjukkan wajahnya di depan Sehun, terlalu gengsi. Dia tidak suka seseorang memergokinya menangis, karena dia selalu merasa harga dirinya jatuh. Ingatkan kalau Sera lebih suka terlihat angkuh ?

“menyingkir” desis Sera. Sehun menangkap nada getar dibalik suara rendah itu, dia menegakkan tubuhnya hingga kini Sera hanya sebatas dagunya. Gadis itu sudah cukup tinggi tanpa bantuan heels. “aku tidak menghalangi jalanmu” sahut Sehun.

“kau masih menggenggam tanganku brengsek!” Sehun melirik tangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan Sera, dia benar-benar tidak sadar dan bahkan tidak tau kapan tepatnya ia menggenggam tangan itu. Sehun melepas genggamannya secara teratur, terlebih saat Sera membentaknya di sela-sela isak tangis gadis itu.

“aku tidak bermaksud- baiklah kita bicara di dalam” suara Sehun merendah seiring mengakhiri ucapannya, bermaksud meminta sedikit pengertian dari Sera. Ia sedikit mendorong tubuh Sera dan menutup pintunya begitu mereka sudah berada di dalam.

Sera masih terisak tanpa mau menatap Sehun yang kini hanya berjarak beberapa senti di depannya. “aku membencimu. Sangat membencimu” Sera begumam dengan suara gemetarnya, tidak kuat menahan isakannya. Dia tidak menangis karena dia lemah, dia menangis karena.. dia terlalu emosi dan kesal dengan kehidupannya.

“kupikir kau akan membantuku…” Sera menggantungkan ucapannya, menarik nafas dalam bermaksud menenangkan dirinya. Tapi yang di dapatnya hanyalah suara sesegukan yang malah terdengar konyol, benar-benar memalukan. “nyatanya kau menghancurkan hidupku dalam sekali kedipan mata” lanjutnya yang kini menatap Sehun penuh emosi. Sera menyeka air matanya yang kembali lolos karena terisak.

De javu, itu adalah apa yang Sehun rasakan saat ini. dia pernah mengalami ini sebelumnya dan Sera berhasil menariknya kembali ke masa-masa menyakitkan itu.

“aku minta maaf”

“semudah itu ?” Sera menganga tak percaya.

“jadi apa yang kau inginkan ? aku akan memperbaiki semuanya” Sehun berjanji yang sayangnya hanya ditanggapi dengan gelengan tidak percaya dari Sera. “pergi!” Sera menggerakkan dagunya ke arah pintu keluar, mengisyaratkan Sehun untuk segera enyah dari hadapannya. “oke. Aku pergi” balas Sehun setuju dengan nada tanpa dosa.

***

“apa maksudmu menyeretku kemari ?” Hye Joo memandang sekelilingnya dengan tatapan datar meski dia sendiri tidak bisa menyangkal kalau pemandangan di hadapannya begitu indah. Jongin mengabaikan pertanyaan Hye Joo dan lebih memilih melewati jalan setapak yang tersusun dari batu alam dan di kelilingi mawar di sisi kanan dan kirinya. Sekitar dua meter dari sisi kiri jalan setapak itu terdapat kolam berukuran sedang yang diisi dengan ikan Koi dan di perindah dengan patung Neptunus di atasnya.

“kau lebih baik duduk manis disini dari pada banyak berkomentar” Jongin sudah lebih dulu terlentang di atas Porch lalu menepuk sisi kosong di sebelahnya untuk di duduki Hye Joo. Dia memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya dengan suasana malam. perpaduan antara gemericik air kolam dan suara jangkrik berhasil menciptakan ketenangan yang luar biasa. Terlebih ketika semilir angin yang membawa aroma mawar menyapa indra penciumanmu.

“kau pikir aku mau duduk disana ?” Hye Joo berkata dengan nada mengejeknya. Jongin membuka matanya, mengarahkan pandangannya pada Hye Joo yang masih betah berdiri di teras belakang “aku hanya menyelamatkanmu dari makan malam itu, berhenti berpura-pura pro dengan pernikahan itu Han Hye Joo!”

“aku lebih baik berpura-pura ketimbang memberontak sepertimu, Kim Jongin! Memalukan!”

“kau benar-benar tertarik untuk mengganti margamu, ya ? jangan sampai Han Hye Joo berubah menjadi Kim Hye Joo” peringat Jongin. Pria itu bangkit dari tidurnya hingga kini duduk bersandar di atas porch dengan tangan terlipat.

“Hye Joo ?” Hye Joo menoleh kebelakang ketika seseorang menyerukan namanya, sedangkan Jongin sudah membuang wajahnya, dia muak! Hye Joo sedikit mendongak untuk memastikan siapa pria jankung yang berada di belakangnya. “oppa. Sudah pulang ?” tanya Hye Joo ramah dan disahut anggukan kecil oleh pria itu.

“masuklah, disini dingin” pria itu, Cho Kyuhyun. menyentuh bahu Hye Joo yang sedikit terbuka karena tangan bajunya yang memang hanya sebatas bahu. “dia disini bersamaku, Cho Kyuhyun!” Kyuhyun melirik ke arah Porch, baru sadar dengan kehadiran Jongin disana.

“kau hanya membuatnya masuk angin, Jongin-ah. Masuklah, appa dan Sang Mi sedang minum teh bersama di poolside” Kyuhyun memberitau, sekaligus mengisyaratkan kedua anak itu itu bergabung bersama Jongsuk dan Sang Mi di dalam.

“ada sesuatu yang masih ingin kami bahas, oppa” Hye Joo mengelak. Menutupi kebohongannya dengan senyum kecil yang terukir diwajah cantiknya Dia lebih memilih kedinginan disini dari pada bergabung dengan kedua manusia tua yang tidak pernah ingat umur itu.

Disisi lain, Hye Joo mual sendiri dengan ucapannya. dia berkata seolah sudah bersahabat dekat dengan Jongin. Demi apapun, sampai mati nanti pun Hye Joo tidak sudi beteman dengan pria brengsek itu, apalagi bersahabat.

Jongin memamerkan seringaiannya pada Kyuhyun begitu Hye Joo berjalan menghampirinya. “terseralah” ucap Kyuhyun sebelum berlalu ke dalam.

“manis sekali” sindir Jongin setelah Hye Joo duduk disebelahnya.

Hye Joo tidak menanggapinya pun melirik saja tidak. mereka sama-sama terdiam, membiarkan kesunyian malam menyelimuti mereka untuk waktu yang cukup lama.

“apa aku mengganggumu ?” Jongin merasa bodoh atas kalimat yang barusan meluncur dari bibirnya, tapi kepalang sudah terjadi kini ini menunggu respon dari Hye Joo.

“eoh ?” saat itu Hye Joo merasa pendengarannya bermasalah, Kim Jongin mana mungkin bertanya seperti itu. sejak kapan pria itu peduli dengan ‘mangsanya’ ?

“maaf”

Seperti sebuah bisikan, gumaman Jongin terdengar begitu halus ditelinga Hye Joo.

***

Park Shin Hee meletakkan peralatan golf-nya di sebelah Hye Joo yang kini sedang meneguk air mineralnya. Siang itu udaranya sangat panas hingga Shin Hee memutuskan untuk menguncir rambutnya. “Jin menghubungimu ?” Hye Joo menutup kembali botol minumnya, mengarahkan pandangannya pada Shin Hee yang tampak mengingat kapan terakhir kali Jin menghubunginya.

“kenapa ?” Shin Hee menyerah. Dia tidak bisa mengingat kapan tepatnya terakhir kali Jin menghubunginya. Dia sendiri cukup sering menghubungin pria itu, brengseknya semua panggilan serta pesan yang ia kirim untuk Jin sama sekali tidak direspon oleh pria itu. membuat Shin Hee bosan dan bersumpah tidak akan menghubungi Jin duluan lagi.

“dia memeluk Sera” Hye Joo memberitau. Dia berdiri dari duduknya, mengambil stik golfnya lalu mengayunannya secara teratur. Bermaksud merenggangkan otot-ototnya sebelum bermain. Di sebelahnya, Shin Hee tampak terkejut “a-apa ?” gadis itu menganga tak percaya.

Well, Shin Hee sering memergoki Jin bersama Sera, hal ini sudah lazim terlihat olehnya. Bukan hanya dirinya, tapi seisi sekolah yang mengenal Jin dan Sera juga mengetahui hal ini. setiap melihat mereka berdua, Shin Hee berpura-pura tidak tau. Menutup rapat-rapat mata dan pendengarannya seolah dia tidak peduli dengan Kim Seok Jin.

Shin Hee tipe gadis yang tertutup. Meski dia berteman baik dengan Hye Joo, tidak pernah sekali pun dia menceritakan isi hatinya pada gadis itu. yang mereka bahas hanyalah, fashion dan saham. Tidak lebih.

Lagi pula dimata Hye Joo, Shin Hee tidak tertarik sedikit pun mengenai Jin. Bagi Hye Joo, Shin Hee dan Jin hanya sebatas pasangan yang ditunangkan secara paksa atas dasar bisnis –ayah Shin Hee pemilik salah satu stasiun tv terbesar di korea, sedangkan ayah Jin pemilik salah satu agensi terkemuka di korea- Tidak ada ketertarikan diantara keduanya, apalagi cinta.

Yeah.. Hye Joo salah jika beranggapan seperti itu. Shin Hee mungkin tidak pedulian dan terlihat tidak tertarik pada Jin. Tapi jauh di dalam sana, dia begitu menyukai Jin. Ahh tidak, dia mencintai pria itu.

“kau melihat mereka ?” Shin Hee menormalkan suaranya, mencoba terlihat biasa-biasa saja di hadapan Hye Joo. Hye Joo menggeleng kecil, “Jongin bertemu Jin dan Sera di arena balap. Dia bilang Jin memeluk Sera setelah ia merendahkan gadis itu”

“hubungan kalian membaik ?” Shin Hee meraih stik golf-nya, sengaja mengalihkan pembicaraan untuk menutupi getaran lirih dihatinya. “aku dan Jongin ? mana mungkin!” Hye Joo menggeleng tidak percaya lalu mengayunkan stik golfnya pada bola hingga bola putih berukuran kecil itu terlempar beberapa meter dari tepat ia berdiri saat ini.

“cukup baik”

“apa ? hubungan kami ?” Hye Joo memastikan. “bukan. tapi kemampuanmu bermain golf” sahut Shin Hee seiring gerakan tangannya yang mengayun stik golf pada bola. Dia menyeringai senang ketika bolanya terlempar lebih jauh dari bola milik Hye Joo dan mendarat sekitar setengah meter dari hole. Hye Joo bergumam ‘wow’ setelah menyaksikan bagaimana kelihaian Shin Hee dalam bermain Golf. “kemampuanmu menunjukkan kemajuan” komentar Shin Hee dengan seyum kecilnya. Shin Hee memiliki lesung pipi yang kecil, sehingga ketika ia tersenyum wajahnya terlihat jauh lebih manis.

“pujian atau ejekan ?” Shin Hee tertawa mendengar pertanyaan Hye Joo yang terkesan sinis. “I’m serious, dear” balasnya masih dengan kekehan menyebalkan.

“Hya! Tunggu aku” Shin Hee menoleh ke sumber suara. Dia tau persis siapa pemilik suara itu, tanpa melihat pun Shin Hee berani bertaruh kalau suara itu milik Jin. Dia terdiam, pandangannya hanya terkunci pada satu titik dimana Jin berlari mengejar Sera yang semakin mempercepat jalannya.

Dulu Sera juga mengkuti ekstrakulikuler golf tapi setelah namanya meroket dan dia sudah kelewat sibuk walau hanya untuk memejamkan matanya saja. akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kegiatan tambahan ini.

“Lee Sera ? dia ikut club golf lagi ?” Hye Joo bergumam sambil mengikuti arah pandang Shin Hee. Hye Joo mengalihkan pandangannya pada Shin Hee karena gadis itu tak kunjung merespon ucapannya. sebelah alisnya terangkat keatas, Hye Joo mencoba menebak isi pikiran Shin Hee. Gadis itu tidak mungkin cemburu pada Jin kan ? atau jangan-jangan Shin Hee sudah mencintai Jin tanpa sepengetahuannya.

“kau menyukainya ? Kim Seok Jin ? atau kau mual melihat Sera sok imut di depan pria ?” Shin Hee menarik napas dalam setelah diserang pertanyaan beruntun dari Hye Joo. “nan molla!” sahutnya kemudian meletakkan kembali stik golfnya ke dalam tas lalu pergi tanpa memberi ucapan selamat tinggal. Hye Joo menarik kesimpulan kalau sahabatnya itu menyukai Jin.

***

Shin Hee menapaki anak tangga terakhir dengan satu tangan terselip di saku blazer dan tangan lainnya yang menempelkan ponsel di telinga. Oke, dia sudah melanggar sumpahnya untuk tidak menghubungi pria itu terlebih dulu. Hatinya yang begitu sakit tanpa ia sadari mengambil langkah terkutuk ini.

Shin Hee baru menyadari semua ini, keputusan konyol yang membuatnya terlihat sangat membutuhkan pria itu. Dia mengumpat dirinya sendiri. Jarinya hampir menyentuh kotak merah pada layar touch screen jika saja pria itu tidak merespon panggilannya.

“Hallo.. hallo.. Park Shin Hee ?” Shin Hee menatap layar ponselnya, mendengar suara pria itu tanpa tau berbuat apa. Ini keajaiban, iya keajaiban dimana Jin merespon panggilannya setelah mengabaikan semua panggilan serta pesan yang gadis itu kirim untuknya.

“eoh ? aku di..” Shin Hee menyahut begitu benda itu kembali menempel di telinganya. Dia terlihat kesulitan menjawab pertanyaan Jin ketika pria itu menanyakan dimana dia berada sekarang. Dia ingin bertemu Jin, mengobrol akrab dengan pria itu persis seperti yang sering pria itu lakukan bersama Sera. Tapi disisi lain kenangan-kenangan buruk dirinya dengan pria itu membuatnya malas bertemu Jin.

Maksudku.. pertemuan Shin Hee dan Jin hanya sebatas makan malam formal bersama keluarga mereka, itu pun hanya membahas perkembangan bisnis yang mereka geluti. Sisanya hanya pertemuan singkat biasa yang berakhir dengan pertengkaran.

“aku di rooftop. Bisa temui aku disini” sekali lagi. Shin Hee mengutuk mulutnya yang berbicara diluar kendali. Kenapa tubuhnya tidak ada yang berpihak padanya ? kenapa tubuhnya selalu berlaku seenaknya tanpa bisa ia kendalikan ?

Shin Hee menggenggam erat-erat ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih begitu pria itu mengiyakan ajakannya dan memutuskan sambungan mereka. dia menghembuskan nafasnya perlahan. Menatap langit musim semi yang tiba-tiba menjadi gelap. Padahal di lapangan golf tadi cuacanya sangat panas sampai-sampai Hye Joo menggerutu karena lupa membawa sunblock.

“ada apa ?” Jin bertanya dengan langkahnya yang terkesan tergesa-gesa. Terlihat dari nafasnya yang masih tersenggal –yang Shin Hee yakini kalau pria itu kemari sambil berlari serta cara pria itu yang bertanya langsung ke intinya. Pasti karena Sera, iya pasti!

“hanya… ingin bertemu” sahut Shin Hee begitu berhasil menemukan alasan yang tepat atas pertanyaan Jin. Kedua alis Jin terangkat, kemudia pria itu mendesah kesal. Terlihat terkejut dan menyesali keputusannya untuk menyetujui ajakan Shin Hee. “astaga Park Shin Hee, aku meninggalkan Sera di kantin bersama si keparat Luhan dan berlari kemari hanya untuk mendengarmu bilang kalau kau hanya ingin bertemu denganku ? kau benar-benar sakit jiwa!” Shin Hee merasa hatinya ditusuk ribuan jarum, dia beralih menatap Jin. Tepat dimanik mata pria itu. ‘sakit jiwa’ katanya ? harusnya pria itu tau kalau dinomor-terakhirkan lebih menyakitkan ketimbang umpatan sejenis sakit jiwa.

“harusnya aku memang tidak menyahut panggilanmu” Jin menggeleng tidak habis pikir. melengoskan wajahnya dan terus menyesali keputusannya “ya harusnya kau bersama Sera sekarang” Shin Hee menambahi dengan nada rendahnya, kalau saja Jin peka.. ya kalau saja, dia pasti menangkap getaran lirih dibalik kalimat itu.

“ya kau be-” Jin merendahkan suaranya di kata terakhir, bahkan kata-katanya terputus begitu dia beralih ke wajah Shin Hee dan menemukan gadis itu menggigit bibir bawahnya. Berusaha mati-matian untuk membendung air matanya hingga matanya memerah.

“kau menangis ? yang benar saja!” Jin tertawa hambar. Rasanya bukan Park Shin Hee sekali kalau tidak mendebatnya seperti biasa. “bisa tidak kita membicarakan ‘kita’ dan tidak melibatkan gadis itu di dalamnya ?” tanya Shin Hee pelan. Berharap otak Jin yang lamban dapat mencerna setiap kata-katanya.

“kita sudah membicarakan ini sebelumnya… Park. Dan dalam pembahasan itu kita tidak pernah melibatkan kata ‘kita’ karena kau dan aku tidak saling mencintai. Hubungan kita hanya sebatas pertunangan yang dilandasi bisnis, tidak lebih. Dan kau tau apa artinya ? pertunangan ini bisa saja batal”

“jadi jangan pernah menganggap lebih” Jin memang pria yang paling kurang ajar, mementingkan egonya tanpa mau memikirkan perasaan orang lain. dia tipe pria yang langsung ke intinya, jika dia tidak suka dia akan langsung menolak keras tanpa mau berbasa-basi dan jika dia menyukai suatu hal.. dia akan mengejarnya sampai dia berhasil memiliki apa yang diinginkannya. Katakanlah kalau Jin pria yang ambisius dan penuh obsesi.

“dengan kata lain.. aku sama sekali tidak berarti bagimu ?” kini getaran suara Shin Hee terdengar begitu jelas. Tidak membutuhkan ke-peka-an pun Jin berani bertaruh kalau gadis itu sebentar lagi akan menangis.

“aku minta maaf” hanya itu yang bisa diucapkan Jin. Memangnya apalagi yang bisa diharapkan dari pria brengsek sepertinya ? Shin Hee salah menempatkan hatinya, harusnya gadis sebaik dirinya tidak terjebak dalam melodrama ini. yah.. cinta memang buta.

Shin Hee masih terpaku disana, memperhatikan punggung Jin yang semakin jauh dan menghilang di balik tangga.

Dia menadahkan tangannya diudara begitu tetesan air hujan mengguyur tubuhnya. air hujan itu membasahi tubuhnya, bercampur dengan tetesan air matanya. Uhh.. kenapa hidupnya seperti melodrama murahan seperti yang sering dilihatnya di televisi. Menangis dibawah guyura hujan setelah dicampahkan pria!

***

Audi R8 Spyder milik Sera melintasi gerbang besar yang menjulang tinggi. Terlihat begitu kokoh dan megah. Dia perlu melintasi kurang lebih lima puluh meter untuk sampai di pelataran rumahnya. Di kanan dan kiri jalan selebar dua meter itu terdapat pohon-pohon pinus yang sangat rindang. Sera menghempaskan pintu mobilnya dengan kasar, dia mengernyit begitu menemukan Bugatti merah terparkir di depan rumahnya. apa ayahnya berniat menyogoknya dengan mobil ini ? tapi mobil itu tampak familiar bagi Sera.

Sera mengedikkan bahunya, entahlah dia tidak peduli. Lagi pula dia masih emosi lantaran ibunya yang memaksa untuk datang ke mansion mereka ditengah-tengah jadwal syutingnya yang padat dengan alasan Daddy-nya yang menyuruh.

Sera melepaskan kaca matanya, memandang Mansion mereka yang sudah lama tidak dikunjunginya setelah kepindahannya ke penthouse yang diberika secara Cuma-Cuma oleh ayah Sehun. Sera lebih menyukai tempat tinggalnya yang sekarang ketimbang mansion mewah mereka. Seoul’s city light is the best thing that I ever found in Korea. Itu adalah alasan utama Sera kenapa dia lebih memilih penthouse-nya, lagi pula mansion mereka kelewat luas untuk ditinggalinya hanya seorang diri. Dia selalu mengagumi bagaimana kinerja para arsitek-arsitek terkenal yang disewa ayah Sehun untuk membuat bangunan pencakar langit itu.

Sera tidak perlu memencet bel, mengetuk pintu apalagi berteriak dengan keras hanya untuk meminta seseorang membukakan pintu untuknya. dia hanya membutuhkan ibu jari kanannya, meletakkannya pada finger print dan boom! Pintu kokoh itu terbuka dengan sendirinya disusul sambutan “welcome home, Lee Sera” dari sound system. Sound system itu berhubungan dengan finger print ketika finger print mengidentifikasi siapa pemilik sidik jari itu maka secara otomatis sound system akan menyambut mereka. hal ini hanya berlaku pada, Sera dan orangtuanya. Para tamu dikhususkan untuk menggunakan bel.

“hey dear” Sera mendapatkan pelukan singkat dari Seungrin begitu ia tiba di ruang keluarga. Ia memutar bola matanya jengah, malas berbasa-basi. Bukan karena dia membenci ibunya, tapi karena dia sudah tau apa yang akan dibahas oleh ayah dan ibunya. Pasti kepulangannya ke Manhattan.

“jadi.. dimana Dad ?” Sera mengitari pandangannya ke setiap sudut yang dipenuhi dengan barang-barang antik bernilai jutaan dollar. “di Main Theater” Seungrin memberitau.

Dia menarik pergelangan tangan Sera begitu anak itu hendak berlalu ke lantai atas, menyusul ayahnya di mini bioskop mereka. “kau tidak tertarik dengan Louboutin yang aku pesan langsung dari Italy untukmu ?” sebelah alis Sera terangkat ke atas, dia begitu tertarik. Siapa yang tidak suka kalau dihadiahi barang favorite mereka secara Cuma-cuma ? well, Sera is Heels addict. Sama seperti ibunya, mereka akan menjadi wanita yang paling boros ketika berkunjung ke outlet-outlet sepatu. Tinggalah Aiden yang menggeleng tidak habis pikir bagaimana dua wanita terpenting dalam hidupnya menguras uangnya dalam sekejap mata. Tapi yahh.. chaebol tetaplah golongan chaebol, mereka tidak akan pernah jatuh miskin, malah sebaliknya. setiap tahun hidup mereka semakin Berjaya.

“aku sedang tidak tertarik” sahut Sera singkat. sayangnya ia sadar kalau heels itu diberikan oleh ibunya sebagai sogokan agar dia tidak merajuk lagi dan dengan sukarela mau tinggal Di New York bersama mereka.

Sera melepaskan genggaman ibunya secara perlahan, tangannya yang baru saja akan menggapai pembatas tangga kini menggantung di udara setelah mendengar suara dari wanita itu “jangan marah-marah pada daddy-mu seperti biasa, sedikit bersyukurlah karena sepertinya dia membatalkan keputusannya” Sera tersenyum kecil mendengar penjelasan dari ibunya.

“masih sepertinya. Aku akan menjadi anak manis selagi kalian membiarkanku melanjutkan duniaku” Sera berkata dengan nada gembiranya, mengecup singkat pipi ibunya lalu berlari dengan semangat menaiki tangga. “jangan berlari!” teriak Seungrin. “I’m okay mom!” sahut Sera. Seungrin hanya bisa menggeleng melihat anaknya berlari menaiki tangga dengan heels setinggi 12cm. anak itu benar-benar cari mati.

Sera menggigit bibir bawahnya, mengusap bingung tengkuknya. Dia sudah lama tidak berkunjung kemari dan sepertinya dia lupa dimana letak main theater mereka. Sera menggeram kesal, ia memutuskan untuk menarik salah satu pintu di lantai tiga. Ia terdiam, melongo tepatnya “Oh Sehun ?!” gumamnya terkejut ketika menemukan Sehun yang sedang duduk manis sambil menonton film action bersama daddy-nya.

 

To be continue..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s