Midnight

143

Cast : Oh Sehun, Lee Sera
Genre : Romance, angst.
Author: Dee’s

Sunyi. Senyap. Sesak.

Mungkin hanya lantunan lagu yang memberi kesan tanda-tanda akan kehidupan diantara mereka. Sementara Sehun sibuk dengan kemudinya, Sera menumpu kepalanya dengan satu tangan yang bersandar di kaca mobil, memainkan permen karet yang dari tadi dikunyahnya dengan sesekali meniupnya. Setidaknya dengan begitu bisa sedikit mengikis rasa sesak yang kepalang bersarang di dadanya.

Atensinya tertuju pada Sehun tepat setelah pria itu menghentikan Porsche-nya secara mendadak, membuat tubuhnya tertarik ke depan hingga nyaris membentur dashbor seiring suara decitan yang cukup memekakan telinga.

Alih-alih mendebat, Sera meniup gelembung dari bibir tipisnya dengan sikap tenang, membuat mata elang milik Sehun semakin tajam menusuknya. Ini yang dia tunggu.

“apa yang kau pikirkan ?” Sehun membuka celah bibirnya, tenang namun tidak meninggalkan nada dinginnya. Ada yang aneh diantara mereka, Sera tidak sediam ini biasanya. Gadis itu akan terus berbicara, mengomentari setiap apapun yang dilihatnya meski Sehun sama sekali tak menanggapi.

Sera tipe gadis yang hangat, dia tidak pernah kehabisan bahan obrolan meski Sehun sering mengeluhkan keberisikannya.

Tapi kali ini ? Malam ini ?

Kenapa semuanya terasa begitu sunyi ?

Sera mengerjapkan matanya, polos. Dengan mental yang susah payah dibangunnya sejak beberapa hari yang lalu, dia mencoba menjawab setenang mungkin. Berharap kepandaiannya dalam mengontrol mimik wajah meningkat.

“berpisah. Aku berpikir untuk pisah denganmu” Sera mengatakannya dengan lantang dan serius, seolah dia tidak akan menyesali ucapannya meski jauh di dalam sana hatinya berdesir perih. Sesak, sesak, dan sesak. Rasanya seperti dihimpit oleh ribuan beton.

Tak ada reaksi apapun yang didapatnya dari Sehun, meski dia sendiri tidak bisa menyangkal kalau sikap dingin pria itu terasa begitu mencekam disaat-saat seperti ini.

“jika itu yang kau mau” suara Sehun menggantung di udara, merayap ke indra pendengaran Sera dan menusuk tajam jantung gadis itu. Hati gadis itu kembali berdesir.

Jika itu yang kau mau.

Sera nyaris hilang kesadaran, lupa dimana dia berpijak, bingung kemana nyawanya melayang. Tubuhnya terasa begitu ringan, seolah dia bisa terjatuh kapan pun.

“memang itu yang ku mau”

Sera melepas sabuk pengamannya, melesat turun begitu dirinya berhasil membuka pintu mobil tanpa mendapat pencegahan. Tidak ada kecupan untuk Sehun, tidak ada ucapan ‘sampai bertemu besok’ bernada manis seperti malam-malam biasanya. Yang ada hanya Lee Sera dengan sosok dinginnya yang belum pernah ditemui Sehun sebelumnya.

Sera merajut langkah teraturnya, berusaha menahan diri untuk tidak terlihat lemah dan bertekad untuk tidak melirik ke belakang. Sera tau, sekali saja dia melirik ke belakang maka semua pertahannya akan hancur. Mental yang susah payah dibangunnya belakangan ini akan luntur begitu saja dan tentu saja kakinya yang tidak berpihak padanya itu akan berputar balik dan membawanya berlari ke arah Sehun. Memeluk pria itu begitu erat dan berkata bahwa apa yang ia ungkapkan tadi hanya semata-mata lelucon tengah malam. Iya, Sera berani bertaruh akan kemungkinan itu.

Sumpah mati dia begitu mencintai Sehun. Begitu berarti pria itu baginya hingga tanpa sadar Sehun berperan sebagai oksigen dalam hidupnya. Sera tidak tau apa yang akan ia lakukan tanpa oksigennya. Apa dia bisa hidup normal tanpa Sehun-nya ?

Tapi Sera sudah tidak tahan. Bagaimana pria itu terlalu sering tidak mengacuhkannya, menatapnya begitu datar dan yang paling menyakitkan adalah bagaimana pria itu sama sekali tidak menahannya ketika dia memutuskan untuk pergi.

Apa selama ini hanya dia yang tertarik pada Sehun ? apa hanya dia yang kelewat antusias pada pria itu ? apa selama ini hanya jantungnya saja yang berdebar kencang setiap kali mereka bertemu ? dan apa selama ini hanya dia, Lee Sera, yang begitu mencintai Sehun ?

Disaat semua pria berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya, apa sebegitu tidak berartinya dia bagi Sehun ?

Sehun mencengkram kemudinya tanpa mengalihkan atensinya dari punggung Sera yang kian menjauh. Gadisnya sudah pergi –oh apakah kata possessive itu masih layak keluar dari bibirnya setelah semuanya berakhir ?

Jika Sehun normal—berdasarkan sudut pandang Sera- seharusnya dia menyadari ada banyak pria diluar sana yang bersiap menangkap gadis itu kapan pun dia membuangnya. Dan itu terbukti.

Satu meter dari jarak mobilnya, Audi R8 Spyder terparkir manis di sudut jalan. Pemiliknya yang sejak tadi menunggu Sera sambil bersandar pada kap mobil, menyambut kedatangan gadis itu dengan senyum hangat. Membukakan pintu untuk si gadis dan mempersilahkannya masuk.

Seharusnya Sehun bercermin pada pria itu, dia tidak pernah melakukan hal semacam itu. Jangankan membukakan pintu mobil, menyambut gadis itu dengan senyum hangat pun tidak. Dia kelewat dingin dan kaku.

Fin.

Ps: mohon tinggalkan komen ya, kritik dan saran sangat membantu.

Anyway cerita ini masih ada dua sequel lagi, so see you soon ^^

XOXO.

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s