The Words Behind

143

Cast: Oh Sehun, Lee Sera.

Genre: Romance, Angst.

Length: Oneshoot

Author: Dee’s

 

 

Prev: Midnight, Unchanged

 

Sera tidak bisa menahan keterkejutannya ketika atensinya menangkap sosok jangkung yang kini bersandar pada pintu apartementnya. Iris cokelap gelap milik pria itu mengamatinya, membuatnya terpaku untuk beberapa jenak.

“apa aku semengerikan itu ?” Sehun menarik diri dari pintu yang sempat disandarinya, lantas pria itu mengambil beberapa langkah hingga mereka saling berhadapan. Sehun masih ingat kalau Sera begitu paranoid terhadap cerita horror dan ekspressi yang ditunjukkan gadis itu padanya kini tidak jauh beda dengan ekspressi gadis itu saat mereka menonton film horror dulu.

“aku hanya terlalu terkejut dengan kedatanganmu” mengerjapkan matanya, Sera mengangkat bahunya. Ia lalu mengajak Sehun masuk ke dalam yang tentu saja tidak akan ditolak oleh pria itu. Memangnya apa tujuan Sehun kemari kalau bukan untuk mengobrol di dalam ?

“akan kuambilkan minum” Sehun mengangguk kecil meski dia sangsi kalau Sera melihat anggukan yang merefleksikan persetujuannya. Karena begitu Sera berinisiatif mengambilkan minum untuknya, gadis itu langsung saja berlalu ke dapur tanpa menunggu respon darinya.

Netranya berpendar ke setiap sudut lain ruangan lalu sebuah senyum tipis yang nyaris tidak ketara tersemat di bibirnya tatkala pandangannya beradu pada sofa bludru berwarna krem yang masih terletak ditempat yang sama, di ruang tengah berhadapan dengan televisi.

Seberkas memori merasuki ingatannya dan kali ini Sehun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Ketika ia memandang sofa itu, ia seperti melihat visual dirinya bersama Sera sedang menonton televisi sambil dirinya membiarkan gadis itu tiduran di pangkuannya. Satu tangannya memeluk bagian pinggul gadis itu sementara jemarinya yang lain menari bebas diantara helaian rambut berwarna cokelat tembaga yang memiliki aroma semanis cherry.

Kalau sudah berada pada posisi seperti itu biasanya setengah jam kemudian Sera akan tertidur dengan dengkuran halus yang terkesan begitu tenang. Lalu Sehun akan menunduk untuk mengecup singkat kening gadis itu dengan gerakan lembut yang sangat hati-hati.

Sera terlihat begitu cantik dan manis dalam tidurnya, tapi jika disuruh memilih maka Sehun akan memilih saat-saat dimana gadis itu mengomentari hal-hal tidak penting dan bercerita panjang lebar tentang berbagai macam hal random yang-jujur-saja terkadang membuat Sehun pusing. Namun anehnya, meski pun suara berisik Sera sering kali membuatnya pusing , Sehun tetap saja menyukainya. Karena bagi Sehun, Lee Sera adalah pusat kehidupannya.

Mendengar suara gadis itu sudah seperti mendengar kicauan burung di pagi hari. Menghidupkan dunianya yang terlalu flat.

Tapi sayangnya, Sehun tidak bisa merubah karakter dirinya yang dingin dan kaku. Dia tidak tahu bagaimana cara merespon cerita gadis itu hingga terkadang dirinya terkesan tidak pedulian.

Jika kau bertanya hal apa yang paling disesali Sehun sepanjang masa eksistensinya, maka Sehun akan menjawab kebodohannya yang tidak bisa memperlakukan Sera dengan baik. Dia tidak bisa seperti Jongin yang selalu merangkai kata-kata manis untuk Hye Joo atau seperti Kyungsoo yang bersikap begitu perhatian pada Shin Hee.

Sehun begitu payah soal mengekspresikan perasaannya. Padahal setiap mereka pergi berkencan dulu, Sehun ingin sekali bilang kalau Sera terlihat manis dengan dress floral selututnya, atau bilang kalau kecan mereka hari itu begitu menyenangkan. Sehun juga ingin membisikkan kata-kata kalau dia begitu mencintai Sera dan mengatakan kalau gadis itu begitu berarti baginya.

Tapi sekali lagi, Sehun terlalu kaku.

Ketika hubungan mereka telah berjalan setengah tahun, Sehun berpikir semuanya akan baik-baik saja. Dan hal itu memang terbukti. Sera tidak pernah mempermasalahkan dirinya yang dingin dan kaku. Gadis itu tidak pernah mengeluh meski Sehun sering kali tidak merespon ucapannya. Dia juga tidak pernah menuntut Sehun untuk berlaku manis padanya. Bahkan ketika mereka bertengkar, Sera akan menjadi orang pertama yang meminta maaf.

Ya, semuanya berjalan baik-baik saja sampai suatu hari Sehun tidak sengaja mendengar obrolan Sera dengan Hye Joo dan Shin Hee. Hari itu adalah satu hari setelah ulang tahun Shin Hee yang ke delapan belas, Shin Hee bercerita tentang kejutan yang di dapatnya dari Kyungsoo. Sera bilang kalau Kyungsoo pria yang manis dan dia iri dengan Shin Hee karena Sehun tidak pernah memperlakukannya seperti itu—sebenarnya, itu hanya kalimat basa-basi semata. Sera tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Karena baginya, bisa berada disamping Oh Sehun sudah lebih dari cukup. Tapi sayangnya, Sehun terlampau serius menanggapi apa yang tidak sengaja didengarnya.

Sejak saat itu Sehun sadar kalau bersamanya, Sera tersiksa.

Dia ingin melepas Sera dan membiarkan gadis itu mendapatkan kebahagiaannya, sayangnya dia tidak bisa. Dia begitu mencintai Sera. Dia ingin Sera terus berada disisinya.

Dia tahu sikapnya yang tidak bisa melepas gadis itu adalah sebuah keegoisan, maka Sehun berjanji pada dirinya kalau dia akan melepas Sera ketika saatnya sudah tiba. Ketika gadis itu bilang bahwa ia sudah lelah dengan semuanya dan ingin mengakhirinya, maka Sehun akan melepasnya tanpa memberi pencegahan apapun.

Sehun mencintai Sera dan dia ingin gadis itu hidup bahagia. Jika melepasnya menjadi jaminan gadis itu akan mendapatkan kebahagiaan, maka Sehun akan melakukannya. Sesederhana itu.

“Sehun ?” sebuah teguran halus yang menyapa pendengaran Sehun membuat netra pria itu beralih untuk memandang gadis bertubuh mungil yang sangat dirindukannya itu. Gadis itu mengangkat dua kaleng soft drink di dalam genggamannya seolah mengajak Sehun untuk minum bersama.

Sera tetaplah Sera. Pun setelah kejadian malam itu yang membuat Sehun mendapat label berengsek dari Hye Joo dan Shin Hee, Sera tetap memperlakukannya dengan baik. Seolah tak ada yang terjadi diantara mereka. Seolah gadis itu tidak pernah merasa tersakiti.

Sera berjalan mendahului Sehun, membimbing pria itu menuju balkon. Udara malam ini begitu bagus, sejuk namun tidak membekukan kulit. langitnya juga indah. Sera dengar katanya sekarang sudah memsuki fase bulan purnama.

Sera mendapati dirinya kesusahan membuka pintu kaca yang menghubungkannya dengan balkon lantaran dua kaleng soft drink yang ia genggam. Dia baru akan meminta bantuan Sehun ketika menyadari kalau sejak tadi pria itu tidak mengikutinya.

Melongokkan kepalanya, Sera mendapati Sehun terdiam dengan pandangan yang terkunci pada grand piano—tidak, lebih tepatnya berpusat pada sebuah figura yang terpajang manis di atasnya.

“aku mendapatkannya beberapa minggu yang lalu” jelas Sera yang membuat Sehun mengalihkan atensinya sejenak. “Jin memberinya padaku dan dia selalu memainkan benda itu ketika berkunjung kemari” Sera menutup mulutnya refleks setelah menyadari kalau tidak seharusnya dia menceritakan hal itu pada Sehun. Kebodohannya itu malah membuat Sehun menatapnya dengan pandangangan yang sulit didefinisikan.

Sehun ingat kalau Sera begitu menyukai permainan piano. Gadis itu bahkan sempat mengidolakan Jungkook—adik kelas–mereka hanya karena Jungkook bernyanyi sambil bermain piano di acara pentas seni tahunan sekolah.

Sehun tersenyum kecut. Senyum yang begitu tipis dan mungkin tidak akan disadari Sera jika gadis itu tidak mengamatinya. Ternyata benar, Sera mendapatkan kebahagiaannya setelah ia melepas gadis itu.

Kalau diingat-ingat, Sehun sama sekali tidak pernah bermain piano untuk Sera meski pria itu tahu bagaimana cara memainkannya.

“hm… Sehun, kita mengobrol di balkon saja bagaimana ?”

“bagaimana kabarmu ?” Sera bergumam sambil dirinya kesulitan membuka kaleng soft drink miliknya. Kukunya yang panjang dan sengaja dibentuk itu menyulitkannya untuk membuka tutup kaleng. Dia berdecak tanda menyerah di detik berikutnya, membuat Sehun mengalihkan netranya pada gadis itu lalu mengambil alih kaleng tersebut dari Sera dan membukakannya.

“seperti biasa, tidak ada yang menarik” Sehun meneguk miliknya setelah menyerahkan kembali soft drink milik Sera yang tentu saja diterima gadis itu dengan senang hati dan senyum antusias seperti biasa. Benar-benar tidak ada yang berubah dari Lee Sera.

heol, kupikir kau akan mengatakan kalau kau merindukanku” Sera meneguk minumnya dengan santai namun setelah menyadari kalau perhatian Sehun berpusat padanya, dia terkekeh kecil sambil berkata kalau selera humor Sehun payah.

“aku hanya bercanda, Sehun. Setelah beberapa bulan tidak bertegur sapa selera humormu tetap tidak ada kemajuan ya” Sera berkata dengan ringan sambil meneguk minumnya sekali lagi. Irisnya yang hitam pekat sesekali beralih pada langit malam yang menerangi mereka dengan cahaya purnama. Seandainya saja Sehun mencegah kepergiannya malam itu, mungkin hubungan mereka tidak akan berakhir begitu saja. Mungkin saat ini mereka bisa menikmati keindahan purnama tanpa memberi jarak spasi. Mungkin.

Apa yang kau pikirkan, Lee Sera ?

“bagaimana hubunganmu dengan pria itu ?” Sehun ikut memandang langit malam tapi begitu ekor matanya menangkap gerakan Sera yang mendadak kaku, atensinya jadi beralih. “kalian tentu melewati waktu-waktu menyenangkan” Sehun melanjutkan. Dia tidak bermaksud menyindir namun yang terdengar di telinga Sera malah sebaliknya.

well, begitulah” Sera mengedikkan bahunya ringan, menyesap lagi soft drink-nya dengan ekspektasi kerongkongannya yang mendadak kering akan membaik setelahnya. “Jin sedikit menyusahkan, tapi meski begitu dia sangat perhatian dan memperlakukanku dengan ma–”

“apa jika aku menahanmu malam itu kau akan tetap tinggal ?”

hm ?”

“mereka memberitahuku kalau malam itu kau hanya bertaruh dengan Jin” ada helaan jenuh dari celah bibir Sehun meski pria itu tidak benar-benar menunjukkan raut menyesal. “mengetes seberapa berarti dirimu bagiku dan bodohnya aku melepasmu begitu saja” Sehun tertawa sarkastik. Ada seberkas perasaan sesak di dadanya begitu mengetahui fakta di balik kalimat Sera malam itu. Sehun terlalu lambat menyadari semuanya.

“kalau saja aku tahu kau tidak serius malam itu, kita mungkin—”

“aku menyukai beberapa kata, termasuk ‘kalau saja’ dan ‘mungkin’ tapi disaat yang bersamaan kedua kata itu menyakitiku semakin dalam. Kedua kata itu merefleksikan harapan, tapi tentu kita tahu bahwa terkadang harapan hanyalah harapan. Kau harus menghadapi realita dan percayalah, tidak ada seorang pun yang mampu membalikkan waktu. Pada akhirnya kau hanya akan mendapati kekecewaan” Sera mendesah begitu dia mengakhiri kalimatnya. Dia tidak ingin berkata sekasar ini pada Sehun, semuanya terjadi di luar kendali. “maafkan aku” dia bergumam pelan.

“aku ingin memberitahumu satu hal” iris Sera yang hitam pekat menatap milik Sehun dengan penuh ketertarikan dan disaat yang bersamaan, ketika atensi mereka saling beradu, sesuatu di dalam dirinya berdebar tak normal. Sera sudah lama tidak merasakan sensasi seperti ini.

“aku tidak mencegahmu malam itu—” Sehun memejamkan matanya beberapa jenak, berharap kalau kata-kata yang sempat dirangkainya tidak berubah berantakan. “karena kupikir, bersamaku kau tidak akan mendapatkan kebahagiaanmu. Aku tidak bisa memperlakuanmu dengan baik, aku tidak tahu bagaimana cara memujimu atau membisikkan kata-kata manis semacam cinta. Aku terlalu kaku dan dingin hingga aku berpikir mungkin melepasmu dapat menjamin kebahagiaan untukmu”

Sera tidak tahu harus berkata apa. Dia bahkan bingung harus memberi ekspressi seperti apa sebagai refleksi dari responnya. “kau membuatku tidak bisa tidur dengan pengakuanmu ini, Oh Sehun” Sera berdecak. Dia terkekeh kecil, berharap dengan begitu rasa sesak di dadanya sedikit berkurang.

“aku serius, Ra” demi Tuhan, Sera ingin sekali pria itu berkata bahwa ucapannya barusan hanyalah lelucona tengah malam. Dia berharap Sehun menyangkalnya. Tapi yang didapatnya malah sebaliknya.

“now tell me, don’t you miss me ?” Sehun memberikan tatapan terdalamnya pada Sera, ada satu kata lagi yang ingin ditanyakannya namun saat ini ia masih berdebat batin. Sehun takut ekspektasi mengkhianatinya. Ahh tidak, tidak. Sehun adalah pria, dia tidak boleh takut. dia tidak akan tahu jika dia tidak mencobanya, “you still love me, right ?”

Sera mengangguk kecil, meski gerakannya terkesan terpatah-patah. Dia ingin menyangkal kalau dia sudah melupakan Sehun dan menjadikan hubungannya dengan Jin sebagai alasan yang membuat cintanya terhadap Sehun pupus. Tapi sekali lagi, semuanya terjadi diluar kendali. Dia mungkin sempat melupakan Sehun, dia mungkin sudah bisa menatap Jin sebagaimana pria itu menatapnya, tapi terlepas dari semua itu dia tidak bisa menyangkal perasaannya. Cintanya untuk Sehun masih bersarang di sudut hatinya yang terdalam.

“I miss you. Every little thing” Sera bergumam pelan. Nadanya terkesan ragu-ragu tapi ia tetap melanjutkannya. “and I love you. Even after you hurt me”

Dia tidak mengerti apa yang terjadi, semuanya terasa begitu cepat. Bahkan setelah sesuatu yang lembab menempel di bibirnya selama tiga sekon, Sera masih terdiam. Dia tersadar di detik berikutnya, sesaat setelah bibir Sehun bergerak di atas bibirnya.

Sera memejamkan mata. Hawa panas merayapi tubuhnya sementara debaran jantungnya kembali menggila manakala miliknya membalas setiap pergerakan dari bibir Sehun. Persetan dengan rasionalitas yang menjadi tembok penghalang mereka.

Ia tahu ini salah, tapi biarlah ini menjadi yang terakhir. Biarlah kali ini saja ia mendosa. Dia ingin merekam semuanya dan menyimpannya di memori otak. Dia ingin menjadikan Sehun sebagai sesuatu yang indah untuk dikenang.

Aku mencintaimu, Sehun.

 

 

 

Fin.

 

 

A/N: haloo~ ini sequel terakhir dari Midnight sama Unchanged ya, maaf kalo lanjutan sequelnya kelamaan. Hope you like it ^^

XOXO

Advertisements

2 comments

  1. Hello! I’m just doing a super random blog walking 🙂
    Yehet and this is the first post that I read on your blog 🙂
    Iseng sih, sekedar nyari bahan inspirasi baca-baca blog orang untuk ceritaku.
    and has anyone tell you that this is super awsom? like uuuuuuuu I really love this ❤
    keep up the good work! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s