Insane [1]

Insane

Starring :

Oh Sehun – Lee Sera – Kim Jongin

Xi Luhan – Han Hye Joo

Park Chanyeol – Candice Kim

Genre:

AU, Romance, Angst, Dark, Friendship, Family, Drama.

 

Written by:

Dee’s

 

Now present > Déjà vu

_

It doesn’t feel unfamiliar even if it’s my first time seeing you – Jonghyun, Déjà-Boo.

 

 

 

Tidak ada kota yang benar-benar tidur di malam hari dan Seoul salah satunya. Kesunyian malam dan lenggangnya jalan yang biasa padat di siang hari menjadi refleksi surga bagi para penikmatnya. Penatnya siang menuntut mereka untuk mencari hiburan di malam hari. Dan arena sirkuit, menjadi salah satu target yang patas untuk di datangi selain Bar.

Oh Sehun melonggarkan dasi yang sejak tadi mencekik lehernya dengan apik, seringaian muncul di sudut bibirnya saat fokusnya beralih ke kaca spion –mendapati jajaran mobil yang tertinggal jauh di belakang sana.

“aku kembali” Sehun bergumam. Ditekannya pedal gas hingga kecepatan mobil mewah itu di atas rata-rata, melesat angkuh di depan musuh-musuhnya. Sehun menggendarai Buggati veyron-nya dengan kegilaan yang terpendam. Rasanya sudah lama sekali tidak menikmati sensasi mendebarkan di arena sirkuit. Semua kegilaan yang dibebankan ayahnya telah merenggut dunia tenangnya hingga Sehun bahkan tak memiliki waktu untuk sekedar memejamkan mata.

Memejamkan mata ya ? Malam ini lagi-lagi Sehun tidak memiliki waktu untuk memejamkan mata, namun dalam kasus yang berbeda. Jika di malam-malam biasanya ia berkencan dengan tumpukan kertas bertinta, maka malam ini ia berkencan dengan mobilnya. Bukan mobil sport yang biasa dibawanya ke arena balap saat masih remaja dulu sih, namun Buggati Veyron miliknya ini tidak kalah berbahaya. Sehun mengunci rasa percaya dirinya akan kemenangan malam ini dalam senyum yang membingkai wajah tampannya.

Aku tidak mungkin kalah.

Setidaknya begitu sebelum sebuah Ferarri Enzo menyalip dari arah kanan saat mereka sama-sama melintasi persimpangan. Ferarri itu kembali berjalan lurus lagi, meninggalkan Buggati milik Sehun dibelakang sana.

“Sial!” Sehun mengumpat ia langsung membanting stirnya ke kanan dan menekan penuh pedal gas. Membuat Buggati hitam kesayangannya melesat dengan kecepatan super dahsyat.

Sudut-sudut bibir Sehun tertarik membentuk lengkungan setelah mobilnya berhasil melampaui. Keangkuhan kembali terpeta di wajahnya. Garis finish sudah di depan mata, Bugatti hitam itu kembali memimpin pertandingan, sebelum… Ferarri yang sempat menyalipnya kini mendahului dengan anggun dan melewati garis finish lebih dulu.

Sehun mutlak kalah. Ditinjunya kemudi hingga punggung tangannya memerah. Ini kekalahan pertama selama eksistensinya. Master of Racing yang pernah disandangnya semasa remaja dulu kini lenyap direbut pemilik Ferarri Enzo asing itu. Sehun mengumpat. Dia tidak yakin vakumnya dari arena balap berdampak pada skill mengemudinya. Memangnya setangguh apa pemilik Ferarri Enzo itu ?

Sehun turun dari mobilnya, dihempaskannya pintu mobil dengan kasar. Egonya menentang untuk menampakkan diri pada musuh-musuhnya, terutama pada si pemilik Ferarri itu. Tapi kuriositas lebih menguasainya. Sehun ingin tahu seperti apa rupa manusia yang telah mengalahkannya. Serius, ini kekalahan pertama yang Sehun alami. Sehun orang yang perfeksionis, dia tidak pernah terkalahkan dalam bidang dan situasi apapun.

Penampilannya yang masih mengenakan dasi dan kemeja putih polos menarik perhatian banyak pasang mata, meski dasinya sudah mengedor ke sembarang arah serta lengan kemejanya yang sudah tergulung hingga siku tetap saja menggambarkan kalau ia seorang pegawai kantoran. Bukan muda-mudi yang tengah mencari jati diri layaknya kebayakan manusia yang memadati jalanan sunyi ini.

Sehun mengetuk kaca jendela Ferarri itu. Tangannya bersedekap sambil tubuhnya yang jangkung bersandar pada sisi mobil, menunggu sang pemiliknya keluar dan memastikan seberapa tangguh orang itu.

“ada masalah ?”

Sepasang fokus Sehun beralih, berpusat pada netra yang dilapisi kacamata.

Pemiliknya bukan seorang pria, melainkan seorang gadis. Bahkan suaranya sehalus kepakan sayap kupu-kupu di telinga Sehun.

Sehun tidak percaya. Dia tertawa sarkastis. Membuat si gadis pengemudi yang awalnya hanya menurunkan kaca jendela, kini turun dari mobilnya.

***

“jam berapa sekarang, Lee Sera ?”

Sera baru memasuki ruang tengah kediamannya dengan harapan tidak menimbulkan keributan saat suara anggun namun mengintimidasi menyapa kepulangannya. Han Hye Joo menyambut kepulangannya dengan sangat manis. Berdiri diatas anak tangga sembari tangannya bersedekap. Fokus tajamnya tak beralih sejengkal pun dari Sera.

“dua pagi. Kalau kau benar-benar ingin tahu” Sera balas memandang Hye Joo setelah memastikan jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “dan aku butuh istirahat sekarang” imbuhnya malas.

“semua orang butuh istirahat” Hye Joo membalas. Tungkainya menuruni anak tangga demi memapas jarak dengan sang adik tanpa melepas fokusnya yang tajam. “termasuk aku”

then, take a rest” Sera menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk senyum remeh. Kehangatan yang dialirkan sang kakak diatas permukaan kulit bahunya yang dingin lantaran tidak tertutup kain, tidak cukup untuk membuatnya nyaman.

Kenyataan bahwa Han Hye Joo tidak akan memulai percakapan jika tidak ada hal mendesak yang harus segera dibicarakan, membuatnya berpikir keras demi mencari cara agar bisa meloloskan diri. Sera tidak ingin terjebak dalam perangai kakaknya.

“kau lelah, aku lelah. Kita sama-sama lelah, jadi sebaiknya kita kembali ke kamar masing-masing” Sera melepas tangan Hye Joo yang meremas kedua bahunya. Ditatapnya sekali lagi gadis itu sebelum mengucapkan salam perpisahan “selamat malam, Joo”

“aku hanya bisa istirahat dengan tenang setelah kau ikut andil dalam Hyundai”

Kalimat tak tahu malu yang disumpalkan Hye Joo secara paksa ke dalam pendengarannya cukup untuk membuat langkahnya yang saat itu hendak menaiki tangga pertama terhenti.

Sera memejamkan mata, menghela napas berat seolah bisa membaca hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia berbalik untuk memandang kakaknya sengit “apa kau tidak tahu kegunaan kata tolong ?

“should I ?” alis Hye Joo berjengit angkuh sementara tungkainya dengan lancang menghampiri Sera di anak tangga. Satu tangannya terulur guna menggapai puncak kepala sang adik. Sedangkan keangkuhan yang sempat terpeta di wajah cantiknya kini tergantikan oleh sorot kelembutan yang asing. “kau itu sempurna Ra, dan kesempurnaanmu bisa mempermudah semuanya”

“sayangnya aku tidak berminat memanfaatkan kesempurnaanku” netra Sera yang berwarna hitam pekat, menatap Hye Joo hati-hati. Berusaha memindai isi kepala kakaknya meski ia sudah tahu akan berakhir kemana percakapan dini hari ini.

Hye Joo tertawa sarkastik. Merasa terhina setelah Sera menepis tangannya dari puncak kepala gadis itu secara bar-bar. Ditatapnya Sera balik; dingin dan tegas. “kau harus. Karena ini untuk kepentingan kita dan hanya kesempurnaanmu yang mampu mengatasinya”

“kau lupa ? aku tidak pernah tergabung dalam kita” manik Sera mengejek Hye Joo. Menarik kembali kepingan masa lalu yang menjadi pembatas diantara mereka.

“kau lupa ? selama kau masih menyandang marga Dad, kau masih bagian dari kita” Hye Joo membalikkan kalimat Sera, namun dalam konteks yang berbeda. Senyum remeh terpeta di wajahnya. “aku dapat menjamin kebebasan yang kau inginkan jika kau bersedia membuat kesepakatan denganku, bagaimana ?”

“kupikir tidak ada pilihan dalam perjanjian setan”

Hye Joo menarik sudut-sudut bibir hingga menciptakan lengkungan indah yang semakin menyempurnakan paras cantiknya. Diabaikannya penghinaan yang belum lama disuapkan Sera ke udara. “Oh Sehun, takhlukkan dia untuk Hyundai”

***

“kau punya rapat pagi ini”

Suara ketukan sepatu di atas lantai marmer yang terdengar bersamaan dengan sebaris kalimat yang disuapkan Cho Naya secara paksa ke udara sesaat setelah suara derit pintu terdengar, menarik fokus Sehun untuk beralih.

“aku yakin kau diajari bagaimana caranya mengetuk pintu” Sehun membalas dingin. Diabaikannya cengiran tengil Naya untuk kembali berkutat dengan dasi kerjanya, tapi belum sempat ia benar-benar menyentuh kembali dasinya, Naya sudah lebih dulu mengambil alih.

“mengetuk pintu hanya membuang-buang waktu, Sehun” dalih gadis itu. “okay, selesai” Naya menepuk-nepuk kemeja Sehun setelah ia menyelesaikan ikatan simpul di leher pria itu.

“jam berapa rapatnya ?” alih-alih mengucapkan terima kasih, Sehun malah berdalih dengan pertanyaan lain. Ia menyambar jas hitam Armani-nya untuk kemudian berlalu menuju dapur, diikuti oleh Naya dari belakang.

“Sembilan. Kau masih punya waktu untuk sarapan” Naya menarik kursi kosong diseberang Sehun untuk di duduki. Berkas-berkas yang sempat memenuhi lengannya kini ia letakkan di atas meja makan. “hari ini kita akan membahas peluncuran Lamborghini Huracan dan strategi pemasarannya. Termasuk memutuskan model yang akan berkerjasama dengan brand kita” Naya menjelaskan sambil tangannya sibuk mencari beberapa file yang hendak ditunjukkannya pada Sehun sebagai bahan yang akan mereka bahas dalam rapat nanti.

“aku mengingatnya” Sehun mendengus, merasa diremehkan. “dan untuk hal spele semacam pemilihan model, agaknya aku tidak perlu ikut turun tangan”

“ayolah Sehun” Naya memutar bola matanya. Merasa jengah dengan sikap tidak pedulinya Sehun. “kau orang baru, ayahmu mempercayakan Volkswagen sepenuhnya di tanganmu. Kau tidak akan membiarkan mereka yang haus kedudukan diluar sana mengambil posisimu ‘kan ?”

Merasa tidak berhasil menarik perhatian Sehun, Naya menggerutu “apa aku harus memasukkan nama Miranda Kerr ke dalam daftar kandidat dulu, baru kau mau ikut campur ?”

“opsi yang bagus” Sehun menjengitkan bahunya tak acuh. Disesapnya kopi paginya dengan nyaman, mengabaikan wajah Naya yang sudah berlipat-lipat.

brengsek” umpat Naya. Sedikit dilemparnya berkas file yang berisi daftar kandidat model itu pada Sehun. Persetan dengan fakta bahwa Oh Sehun adalah atasannya, Naya tidak peduli. Toh, dia tidak akan dipecat hanya karena masalah spele seperti ini. “ada lima kandidat totalnya. Empat dipilih oleh devisi pemasaran dan sisanya atas rekomendasi Luhan sendiri”

Kening Sehun berkerut setelah mendengar nama Luhan dan hal ini membuat Naya bergegas memberi penjelasan “Lee Sera. Seorang supermodel kenamaan Korea yang melebarkan sayapnya di dunia internasional setelah bergabung dengan Victoria Secret dan beberapa brand fashion lainnya. Gadis itu sedang menjadi pusat perhatian dunia saat ini. Berdasarkan prediksi Luhan, akan lebih mudah mengenalkan Huracan pada publik jika kita bekerja sama dengan gadis itu” Naya menutup penjelasannya dengan memberikan satu file lagi pada Sehun, kali ini lebih sopan dari sebelumnya.

 ***

“aku baru saja mendapat Email dari Lamborghini S.PA”

Fokus Sera beralih ke cermin besar di hadapannya, menjadikan sosok Irene sebagai satu-satunya objek yang menguasai pandangannya. “ada apa ?” dia menyahut untuk menyalurkan kuriositasnya.

“kau terpilih sebagai kandidat ambassador dari produk terbaru mereka” Irene berjalan mendekat, punggungnya bersadar pada meja rias agar berhadapan dengan Sera. Jemarinya dengan terampil menari di atas layar tab, lalu memberikannya pada Sera setelah menemukan apa yang ia cari. “kabar yang terlampau bagus, bukan ?”

Sera membaca beberapa kalimat dalam bahasa inggris yang tertera di atas layar benda itu, lalu atensinya kembali beralih pada Irene. Memenjara gadis itu dalam manik hitamnya yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu. “siapa orang di balik perusahaan itu ?”

“Xi Luhan ? Lamborghini S.PA adalah anak perusahaan dari Volkswagen Grup yang baru-baru ini dipimpin oleh Oh Sehun, putra tunggal dari Kris Oh yang menjabat sebagai pemimpin terdahulu” Irene menjawab. “Lamborghini masih satu keluarga dengan Porsche dan Audi, aku sangsi kau tidak mengetahui soal ini” imbuhnya skeptis.

Sera menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi sementara matanya terpejam. Decakan halus turut menyertai kepenatannya. Jadi semuanya sudah diatur ? Sera ingin sekali menertawai kebodohannya. Ternyata hanya butuh satu langkah lagi baginya untuk memasuki kehidupan seorang Oh Sehun dan memporak-porandakannya seperti keinginan Hye Joo. Pantas gadis iblis itu hanya tersenyum saat Sera meminta sedikit informasi tentang pria itu.

“apa Agensi sudah tahu soal ini ?” Sera memijit pelipisnya dengan refleks, membuat Minji yang berprofesi sebagai Stylish-nya menjerit heboh.

“kau menghancurkan hasil karyaku, Lee Sera! Oh Tuhan! Kuku-kukumu bahkan belum sempat mengering” Minji menatap nanar lukisannya di atas kuku Sera yang rusak di beberapa bagian. Butuh waktu satu jam lebih untuk membuat ukiran-ukiran indah itu dan Sera menghancurkannya dalam hitungan sekon. Rasanya Minji ingin menangis.

“persetan dengan kuku, Minji” balas Sera tak acuh. Netranya kembali menatap Irene, mengharapkan kata ‘belum’ meluncur dari bibir manager-nya. “sudah. Semua Email yang kuterima adalah tembusan dari Agensi”

“pihak Agensi juga sudah menghubungi keluargamu soal ini dan kakakmu bilang mereka tidak keberatan” tambah Irene.

Sera ingin meraup wajahnya tapi Minji buru-buru mengambil alih tangannya. Gadis itu terus menggerutu perihal sulitnya mengukir nail art. Ha! Memangnya Sera peduli ?

“memangnya apa yang salah dengan Lamborghini dan Volkswagen ?” Minji bertanya bingung. Terlalu banyak rasa ingin tahu yang memenuhi kepalanya. “kau harusnya senang mendengar berita ini, Ra. Karirmu akan semakin melambung jika kau sampai terpilih”

“jika aku sampai terpilih, maka neraka yang akan kuhadapi”

***

“bagaimana ?”

Sehun hampir mengumpat. Konsentrasi yang berusaha dibangunnya sejak tadi kembali hancur setelah Luhan menerobos pintu kerjanya tanpa permisi. Diliriknya pria itu kilas –jenis pandangan sinis yang seharusnya membuat seseorang tersadar bahwa kedatangannya sangat tidak diinginkan- lalu kembali berkutat dengan tumpukan dokumen yang sempat terabaikan.

Dunia siangnya sudah kembali dan agaknya arena sirkuit yang dikunjunginya semalam tidak cukup untuk memuaskan penatnya.

“aku tidak membawa gadis Hyundai itu tanpa alasan” Luhan menghempaskan bokongnya ke atas sofa yang menjurus langsung ke kaca besar dimana hiruk piruk kehidupan Gangnam di siang hari tersuguh. Batinnya diam-diam menghitung mundur dari hitungan kesepuluh, bertaruh pada diri sendiri kalau sebentar lagi dirinya akan menerima respon yang sedikit berlebihan.

Sehun memejamkan matanya, jengah. Konsentrasinya akan pekerjaan hilang sudah, termonopoli oleh rayuan Luhan yang beberapa detik lalu menarik perhatiannya. “kau membawanya kembali di waktu yang salah”

Luhan tersenyum simpul. “salah ? jika kesalahan pemilihan waktu yang kau maksud adalah fakta bahwa kini perusahaan kalian bersaing, percayalah bahwa waktu tidak akan pernah terasa tepat bagi seorang pengecut. Takdir tidak akan pernah berjalan semulus yang kau harapkan”

Sehun tertawa sarkastis, merasa terhina atas kalimat Luhan “Pengecut ? Apa kau masih tertarik dengan masa lalumu setelah dia yang kau harapkan menolak kehadiranmu ?” alis Sehun berjengit, menantang manik Luhan. “Delapan tahun yang lalu dia menolak untuk kembali dan semalam ketika kami kembali dipermainkan takdir, dia telah menghapusku dari ingatannya”

“kau kecewa ?” Luhan memiringkan wajahnya, menatap Sehun dengan air wajah yang terlampau tenang. Tidak ada emosi yang terselip disana. “jika kau kecewa, berarti kau masih mencintainya”

Sehun kembali tertawa “jika aku masih mencintainya, lalu ?”

“kau tidak bodoh untuk mencari tahu jawabannya sendiri” Luhan menjengitkan bahunya tak acuh. “Dia bukannya sengaja melupakanmu, sesuatu terjadi padanya. Dan jika kau masih menginginkannya, segera lakukan sesuatu” tambah Luhan. Ia beranjak dari duduknya dan menepuk pelan pundak Sehun sebelum meninggalkan pria itu sendirian di ruangannya.

***

“Dua siang. Apa sekarang kau seorang pengangguran ?” Candice bersandar pada salah satu etalase sepatu dengan kedua tangan yang terlipat sementara sepasang fokusnya melayangkan tatapan mengejek pada punggung Sera yang membelakanginya. “Apa kau akan merasa senang jika aku berkata ‘ya’ ?” Sera berbalik, meladeni hinaan Candice yang sejatinya hanya sebuah gurauan.

“jangan terlalu sensistif” kedua mata Candice berputar jengah. Dia mencium bau emosi yang menyertai Sera dan menggoda gadis itu lebih jauh hanya akan membuat obrolan nonsense ini berakhir pada pertengkaran.

“Aku sedang dalam mood yang tidak baik, memaksakan diri untuk bekerja hanya akan membuat keadaan semakin buruk” Sera mengadu. “Pagi ini aku bertengkar dengan Taehyung karena dia tidak puas dengan hasil potretnya, dia terus menyalahkanku dan aku tidak terima-”

“Lalu kau kabur kemari ?” potong Candice sinis. “Chanyeol akan segera memecatmu!”

“aku tidak punya pilihan lain” Sera melejitkan bahunya tak acuh. “lagi pula, Chanyeol kelewat menyayangiku. Dia tidak akan memecatku hanya karena aku bolos satu hari”

“kelewat memanjakanmu” Candice mengoreksi. Dua kata yang membangun kalimatnya mengundang kekehan ringan dari bibir Sera “Dia mencintaimu, Dice. Percaya lah”

Candice memutar bola matanya, jengah dengan pesan cinta yang kelewat sering di sampaikan oleh bibir sahabatnya “persetan”

“kau masih mau disini ? aku mau ke dalam. Pekerjaanku belum selesai dan kau telah menyita tiga puluh menitku yang berharga” kelakar Candice. Alih-alih merasa tersinggung atas ucapan Candice, Sera lantas menyerahkan satu potong dress berwarna hitam tanpa lengan dengan rantai kecil di leher yang memamerkan bagian punggungnya dengan sempurna, kepada pegawai Candice untuk dibungkus.

“Jadi… apa kabar project fashion week-mu ?”

“Nyaris selesai. Aku tinggal memberi sentuhan akhir, mungkin lusa kau sudah bisa fitting” Candice memutar kenop pintu, berhenti sebentar sebelum melangkah masuk “kau serius ingin ikut ke dalam ?”

Sera menyipitkan matanya, tidak suka “kau mengusirku ?”

“terserah kau saja” katanya menyerah lalu melenggang masuk, membiarkan Sera mengamati perubahan ruang kerjanya yang kelewat mencolok. Sebenarnya, ruang kerja Candice bukannya berubah mencolok dalam artian yang menyakiti mata. Hanya warna dindingnya yang dulu berwarna krem, kini berubah menjadi abu-abu asap. Ditambah beberapa perabotan yang menurut Candice tidak terlalu penting.

“terakhir aku kemari benda ini belum ada” Sera menunjuk sepasang sofa santai yang menjurus langsung ke jendela besar yang menampilkan hiruk-piruk diluar sana. Kening gadis itu mengernyit, lalu mencibir perubahan ruang kerja yang menurutnya bukan-Candice-sekali “ruang kerjamu sudah seperti galeri seni, Dice. Sampai ada lukisan dirimu segala”

“terima kasih untuk sepupumu tersayang” Candice mencebik dan Sera tenggelam dalam tawanya setelah menyadari siapa dalang dibalik semua ini. Tentu saja kerjaan Park Chanyeol, memangnya siapa lagi ?

“Dia sangat menginginkanmu, kau saja yang tidak peka”

Candice memutar bola matanya jengah, lantas berdecak “Persiapkan saja mentalmu untuk fashion week nanti, jangan sampai menginjak ekor gaun dan terjatuh”

Sera memberengut “Aku tidak akan sampai di titik kesuksesan ini jika aku seceroboh itu”

Yeah, Aku mengerti. Kau memang yang terbaik”

“Kau juga yang terbaik… di mata Chanyeol” Sera tersenyum penuh arti, kesan jenaka bermain diantara irisnya yang cemerlang.

“Ya! Lee Sera ?!”

Sera terkekeh kecil, lantas menghempaskan tubuhnya pada sofa santai. Bibirnya baru akan kembali menggoda Candice ketika dering ponsel miliknya menginterupsi.

Candice memiringkan kepalanya, mengamati senyum kecil yang menari di sudut bibir Sera. Dia baru menyerukan kuriositasnya saat Sera kembali menyimpan benda pipih itu, tanpa melepas senyum manisnya.

“Siapa ?”

“Jongin. Dia baru tiba di Incheon setengah jam yang lalu dan katanya sedang menuju kemari” Jelas Sera menggebu.

Candice mengangguk kecil, matanya memicing di detik berikutnya “Kau sudah memutuskan semua simpananmu itu, kan ?”

Sera tergelak “Simpanan yang mana maksudmu, Dice ?”

“Lee Sungyeol, Kim Myungsoo, Shim Changmin dan entah siapa lagi itu” Candice menggelengkan kepalanya, kelewat pusing untuk mengingat sederet nama yang menjadi selingkuhan gadis itu. “Kau memang gila” dengusnya.

“Tidak cukup gila untuk mengurangi pesonaku” Sera membela diri, matanya mengerling. “Minho terlalu cerewet, dia melarangku ini-itu. Sedangkan Sungyeol, dia menghajar Myungsoo saat memergoki kami jalan bersama. Aku merasa bersalah pada mereka, bagaimana pun Sungyeol dan Myungsoo adalah sahabat baik sebelumnya”

“Aku ingin tahu, bagaimana reaksi Jongin jika sampai tahu kelakuanmu ?” Candice merebahkan punggungnya yang kepalang capek pada sandaran kursi. Niatnya untuk lanjut merancang sudah hilang sejak Sera mengganggu ketenangannya.

“Dia lebih baik tidak tahu” Sera melejitkan bahunya tak acuh. “Lagi pula aku tidak sepenuhnya salah. Jongin terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia terlalu sering meninggalkanku untuk perjalanan bisnis yang memakan waktu hingga tiga bulan lebih” tambahnya, menghela napas jengah.

“Kenapa tidak putus saja ?” Candice memberi saran, matanya memandang Sera lekat. “Setidaknya dengan putus kau bisa bebas berkencan dengan lelaki manapun tanpa mendapat label peselingkuh” imbuhnya memperjelas.

Sera terdiam beberapa jenak, lantas balik menatap Candice “Aku menyayanginya, Dice. Kelewat menyayanginya hingga untuk mempertahankan hubungan ini, aku rela melepas sepuluh pria yang bersedia menemaniku kapan pun” sudut bibir Sera tertarik membentuk senyum kecil. “Mungkin tidak banyak waktu yang bisa dibaginya untukku, tapi dia selalu ada di sisiku ketika aku membutuhkannya. Dia selalu ada saat aku melewati masa-masa sulitku”

“Aku tidak mengerti dan aku tidak ingin mengerti. Cinta terlalu rumit untukku, mungkin itu menjadi salah satu alasan kenapa aku tidak tertarik menjalin hubungan ?” Candice menghela napas lelah. Membicarakan soal cinta selalu menjadi hal sensitive baginya. Cinta memang rumit, tapi bukan itu yang menjadi alasan utama kenapa sampai saat ini Candice tidak ingin terikat.

“Jangan begitu, Chanyeol akan kecewa” Sera bergurau. Punggungnya kini bersandar pada kepala sofa sementara netranya berpendar ke sekeliling ruangan, mencari objek yang bisa dipakainya untuk mengalihkan perhatian hingga wajah dan sederet tulisan yang menjadi cover majalah Forbes menarik fokusnya.

“Oh Sehun ?” Sera bergumam, namun masih cukup keras untuk menarik perhatian Candice.

“Oh Se-hun ?” Candice membeo dengan sedikit terbata. Ingatannya dengan refleks mengulang sejumput peristiwa di masa lalu. “Kau… mengenalnya ?”

Sera mengernyitkan keningnya, bingung dengan intonasi Candice yang mendadak berubah. Dia baru akan menceritakan balapannya kemarin malam dan misi yang diberi Hye Joo, ketika suara derit pintu yang dibuka secara mendadak dari arah luar menarik perhatiannya.

“Jo!” Sera berseru, lantas menghambur ke dalam pelukan pria berkulit tan itu. Menyisakan Candice dengan kuriositas yang belum sempat terjawab.

***

“I miss you”

            Sera terkekeh saat hembusan napas Jongin menggelitik tengkuknya. Dia tidak memiliki kesiapan apapun saat tiba-tiba sepasang lengan milik Jongin melingkari perutnya tepat setelah pintu apartement itu tertutup. “What a cheesy confession” kelakarnya. Lantas berbalik hanya untuk memandang lekat sepasang iris Jongin yang selaras dengan miliknya, tanpa adanya usaha untuk meloloskan diri dari kungkungan pria itu. Alih-alih membebaskan diri, gadis itu malah mengalungkan sepasang lengannya di leher Jongin dan bergumam pelan “You shouldn’t make a distance between us, Jo. I, actually, should be the one who say those three words”

            “Maaf” Jongin mengusap pipi pualam gadis itu dengan ibu jarinya sambil satu tangannya yang lain masih melingkari tubuh mungil itu. “No need to feel sorry” balas Sera. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis –senyum yang entah bagaimana diyakini Jongin sebagai refleksi dari kekecewaan.

“No need to be okay, when everything seems so wrong” Jongin membeo dengan konteks yang berbeda. Netranya menyelami manik Sera yang selama ini menyimpan banyak beban; luka dan kekecewaan. Kedua hal itu telah berkolaborasi dan menyiksa gadisnya dalam waktu yang cukup lama.

Sera mungkin lebih dari mampu untuk mengontrol mimik wajah serta emosinya di hadapan orang lain hingga di luar sana ia terlihat sebagai gadis lincah tanpa beban yang hanya tahu tentang kebebasan dan kecantikan. Tapi di mata Jongin, Lee Sera tidak lebih dari seorang gadis rapuh yang bersembunyi di balik topeng sok tegarnya. Gadis yang sejatinya terkurung dalam ego orang-orang terdekatnya.

Jongin tertawa, hambar. Menimbulkan kernyitan bingung di dahi Sera, “Kenapa ?”

Pria berkulit tan itu menggeleng kecil, lantas menarik tubuhnya lebih dekat. Sengaja ingin menggoda gadisnya dengan mempertemukan hidung mereka dan menggeseknya pelan. “Aku baru menyadari seberapa baik aktingmu selama ini, mereka harusnya memberimu piala Oscar” Jongin bergumam, suaranya merendah. “You did well, Lee Sera”

Sera tidak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya saat Jongin mengecup tengkuknya dan menghirup sebanyak mungkin aroma tubuhnya disana.

“Jo, I’ve something for you” Sera sedikit mendorong tubuh Jongin ketika kecupan di lehernya berubah menjadi gigitan-gigitan kecil. Meski kekuatannya yang tak seberapa itu gagal menyingkirkan tubuh tegap Jongin, tapi setidaknya dia berhasil menarik perhatian prianya.

“Apa ?” netra pria itu berbinar meski intonasi suaranya terdengar sedikit jengkel lantaran kesenangannya diganggu. Eum.. sebenarnya ini tidak termasuk kesenangan semata. Jongin tidak bermaksud menyalurkan hasratnya dalam artian yang negatif. Dia hanya kelewat merindu. Rindu dengan sosok gadisnya dan aroma cherry yang berapa tahun belakangan ini menjadi candunya. “Kuharap itu sesuatu yang istimewa”

Sera terkekeh kecil, kakinya sedikit berjinjit untuk mengecup kilas bibir Jongin sebelum menarik lengan pria itu untuk kemudian digiring ke ruang tengah. “wait a sec” pesannya sebelum berlalu ke kamar.

“I think this’s not kind of something special for you, but Candice does” Sera kembali dengan sebuah kartu persegi panjang dalam genggamannya. Gadis itu menghempaskan tubuhnya disamping Jongin dan meringsek begitu saja ke dalam dekapan prianya. “Dia akan debut sebagai desaigner terkenal sebentar lagi. Kau harus datang ke Fashion Week nanti” tambahnya dengan mata yang berbinar.

Jongin mengacak rambut Sera, tawa kecilnya mengudara “Gembira sekali. Iya aku datang, kau jadi main model-nya kan ?”

Sera mengangguk, sebelum sinar matanya meredup. “She has been trough some bad things in her life. Aku senang akhirnya sebentar lagi Candice menjemput kebahagiaannya”

“You did the same, babe”

            “But I have you, Jo” Sera menengadahkan kepalanya, menatap mata Jongin dengan iris cermerlangnya. “I have you when those bad things ruined my life, but Candice ? She has no one”

           Jongin mengeratkan pelukannya, bibirnya menyapu kening Sera “Itulah kegunaanku berada disisimu

***

            “Apa yang kau lakukan disini ?” adalah sapaan pertama yang meluncur dari bibir Candice ketika mendapati Chanyeol di dalam apartmentnya. Pria Park itu tidak langsung menjawab, alih-alih mengeluarkan suaranya dia malah tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih, persis seperti idiot –kalau Candice boleh berpendapat. Idiot yang tampan tentunya.

Candice menarik napas, wajahnya berpaling ke arah lain. Dia benci mengakui ini, tapi Chanyeol selalu berhasil membuat sesuatu di dalam dirinya bekerja di luar kendali. Pria itu selalu berhasil memberikan sensasi asing yang belum pernah dirasakan oleh Candice sebelumnya. Sesuatu yang membuat Candice merasa hidup dan sama seperti manusia lainnya –sesuatu yang berusaha Candice hindari selama ini.

“Kau oke, Dice ?”

Candice tersentak saat tiba-tiba tubuh Chanyeol yang tinggi sudah menjulang di hadapannya, menenggelamkan tubuhnya yang pendek dan kecil. Dia nyaris terjungkal kalau saja Chanyeol tidak dengan sigap menarik tubuhnya, membuat wajahnya tanpa sengaja membentur dada bidang milik pria itu.

Candice menarik napas sekali lagi, awalnya untuk menekan rasa gugupnya saat sepasang iris mereka beradu pandang. Namun di detik berikutnya, Candice menyesali keputusannya tersebut. Dia menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, jarak mereka yang begitu dekat memungkinkannya untuk mencium aroma tubuh Chanyeol yang manis dan menenangkan, dan sialnya lagi… Candice menyukai aroma itu.

“Dice ?”

Candice mengerjapkan matanya, lantas menjawab dengan ketus begitu mendapati kesadarannya kembali “Yeah, thanks, and get off me”

            As your wish” Chanyeol tersenyum sembari melepas sepasang tangannya yang sempat melingkari tubuh mungil Candice. “Jadi… apa yang membuatmu pulang selarut ini ?”

Candice menjengitkan alisnya seolah tidak sependapat dengan kata ‘larut’ yang mengudara dari bibir Chanyeol barusan, membuat pria Park itu secara refleks melirik arlojinya.

Chanyeol menyentakkan kepalanya, “Baiklah, jadi apa yang membuatmu pulang jam delapan malam ?” koreksinya yang mendapat dengusan kecil dari Candice. “Kupikir itu bukan urusanmu” balas Candice sambil mendorong bahu Chanyeol agar menyingkir dari jalannya.

“Apa ada masalah dengan project Fashion Week-mu ?” Chanyeol mengekor di belakang Candice dengan kedua tangan yang terselip di saku celana. Dia tidak peduli ketika Candice menyuruhnya pulang. “Sudah kubilang Dice, mundur dari pekerjaanmu dan menikah denganku. Aku bisa menjamin kehidupanmu”

Candice yang saat itu hendak membuka lemari pendingin, menghentikan kegiatannya sejenak. Matanya berputar jengah saat Chanyeol lagi-lagi menampakkan senyum idiot itu sambil bersandar pada kitchen set yang letaknya bersebelahan dengan lemari pendingin.

“Baiklah, kau boleh melanjutkan karirmu setelah kita menikah. Aku hanya tidak mau kau terlalu capek, oke”

“Jangan bermimpi Chanyeol” Candice berdecak, lantas mengambil dua kaleng soft drink untuk mereka dari lemari pendingin. Dia baru akan duduk di meja makan saat Chanyeol merebut dua kaleng soft drink itu dari tangannya dan menggantinya dengan segelas susu. “Susu lebih baik dari cola”

Candice baru akan mendebat ketika Chanyeol menyela “Susunya low-fat kok. Eiy, kau sudah seperti Sera saja sekarang” ejeknya sambil menarik kursi kosong di hadapan Candice. “Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu” tambah Chanyeol sambil mengedikkan dagunya ke meja makan.

“Chan dengar-”

“Makan, Dice. Aku tidak terima penolakan” Chanyeol mengetukkan telunjuknya pada meja seakan menegaskan agar Candice segera menyantap makanannya, ia lalu menopang wajahnya dengan telapak tangan saat melihat gadis itu menghela napas menyerah dan mulai memakan masakannya.

“Kau tidak menambahkan racun ke dalamnya kan ?” Candice menyipitkan matanya curiga sambil mengunyah suapan pertama. “Percayalah aku lebih suka membawamu ke altar ketimbang mengantarmu pada kematian”

“Jadi bagaimana ? Masakanku enakkan ?” tanya Chanyeol penuh harap yang dibalas Candice dengan anggukan kecil yang terkesan tak acuh. “Aku tahu kau akan menyukainya, Sera bilang aku yang terbaik dalam bidang ini”

Candice mencibir, dia baru akan menghinakan kepercayaan diri Chanyeol ketika ingatannya mengulang kembali percakapannya dengan Sera tadi siang. Candice lantas menelan makanannya dengan cepat dan menegak susunya.

“Chan, bicara soal Sera-” Candice menggantungkan kalimatnya, ia melirik Chanyeol ragu-ragu. “Kupikir… dia sudah bertemu lagi dengan Sehun”

***

            “Jangan minum terlalu banyak. Hubungi aku jika terjadi sesuatu”

Sera menangguk kecil, matanya memejam ketika Jongin menarik dagunya dan menyapukan kecupan singkat di bibir. “Aku mencintaimu” bisik pria Kim itu.

“Aku pergi dulu. Kau jangan berkencan dengan tumpukan kertas tak bernyawa itu sampai larut malam” pesan Sera yang menyiratkan ancaman. Jongin hanya tersenyum kecil sambil tangannya mengacak gemas rambut Sera sebelum meninggalkan gadis itu sendirian di pelataran The A –sebuah club night ternama di Gangnam. Dia menolak saat Sera mengajaknya untuk ikut bergabung bersama Hye Joo dan Baekhyun yang sepertinya sudah lebih dulu berada di dalam, dengan dalih kalau dirinya masih jet leg setelah penerbangan panjang dari California ke Seoul.

Sera memandang Aston Martin milik Jongin yang mulai berbaur dengan mobil lainnya di jalanan, lalu memutuskan untuk segera masuk ke dalam setelah menerima beberapa pesan teks dari Baekhyun yang menanyakan dimana keberadaannya. Lagi pula udara malam tidak cocok dengan potongan gaunnya yang mengekspos bagian punggung. Dia bisa membeku kalau berdiri disana lebih lama lagi.

Suara musik yang keras serta aroma martini yang berbaur dengan kepulan asap rokok menjadi hal pertama yang menyambutnya. Bukan hal asing sebenarnya, mengingat seberapa besar intensitas kehadirannya ditempat ini. Tapi… entahlah, Sera masih belum bisa beradaptasi dengan baik. Ada beberapa hal yang tidak terlalu disukainya ditempat ini, terutama asap rokok.

Sera menyentakkan kepalanya, tidak mudah baginya untuk cepat sampai ke VIP lounge yang telah diinteruksikan oleh Baekhyun lewat pesan teks tadi. Dia harus beberapa kali menghindari orang mabuk yang berlalu-lalang dan menolak ajakan minum dari beberapa pria, sebelum netranya menangkap sosok Baekhyun yang kini tengah melambai kecil ke arahnya.

“Lama sekali” gerutu Baekhyun setibanya Sera disana, tangannya lantas menggapai lengan gadis itu dan menariknya mendekat –tepat kepangkuan. Membisikkan sebaris kalimat yang sejak tadi telah mengganjal di tenggorokannya dengan tidak sabaran “Kenapa gadis iblis itu bisa disini ?” Katanya dengan fokus yang mencuri pandang pada Hye Joo.

Sera ikut mencuri pandang, bahunya melejit tak acuh “Dia ingin mengenalkanku pada seseorang” balasnya rendah –tidak ingin Hye Joo mencuri dengar. Penjelasan singkatnya itu lantas diperkuat oleh suara asing yang kini menyela obrolan pribadi mereka, suara yang berasal dari pria asing disamping Hye Joo “You must be Sera, right ?”

            Fokus Sera beralih. Netranya sempat melirik Hye Joo sebelum jatuh pada sosok asing itu –well, sosok itu agaknya tidak benar-benar asing. Sera pernah melihatnya, tapi… dimana ?

Gadis itu diam sejenak, lantas ingatannya ditarik mundur pada dua nama asing yang baru-baru ini sering disuapkan ke telinganya. Oh Sehun dan Xi Luhan. Jika Oh Sehun yang ditemuinya di arena balap dan di cover majalah Forbes memiliki garis wajah yang dingin, maka pria berwajah manis yang duduk disamping Hye Joo saat ini tentu saja “… Xi Luhan ?”

Sera sedikit syok ketika melafalkan tiga silabel pembangun nama pria itu. Bukan terkejut lantaran terlalu dini menemui lawannya, apalagi ditempat seperti ini. Tapi tidak menyangka jika Luhan dan Hye Joo memiliki suatu kedekatan yang agaknya tidak biasa. Well, yeah.. kau bisa melihatnya dari bagaimana tangan Luhan melingkari pinggang Hye Joo dengan posessif.

Luhan tersenyum kecil, netranya memandang Sera penuh arti sementara tangannya yang lain menjabat milik gadis itu “Senang kau bisa mengenaliku”

Manager-ku menceritakan beberapa hal tentangmu tadi pagi” Sera menjawab jujur, senyum tipis turut menyertai. Dia masih ingat bagaimana seriusnya raut Irene ketika menjelaskan tentang Lamborghini S.PA beserta pemimpin terbarunya, Xi Luhan. “Maksudku, kerja sama itu…”

“Ahh, ya” Luhan mengangguk paham. Dia seakan mengerti penjelasan Sera meski gadis itu belum sempat merampungkan ucapannya. “Kuharap kau menikmati kerja sama kita”

“Begini, kita punya kebiasaan rutin dimana pagi dipakai untuk bekerja sementara malam untuk berpesta. Jadi, bisakah kalian berhenti membahas apapun yang menyangkut bisnis ?” Baekhyun menyandarkan punggungnya pada kepala sofa dengan sepasang tangan yang menjadi bantalan kepalanya. “Kita bisa mengganti topik pembicaraan ini dengan… sejauh mana hubungan kalian ?” Baekhyun menyeringai. Matanya yang sempat menyipit sebal pada Sera lantaran membawa topik pekerjaan disela obrolan mereka, kini jatuh pada tangan Luhan yang masih melingkari tubuh Hye Joo.

None of-”      

“Sejauh yang kau lihat” Luhan mengedikkan kepalanya, bibir pria itu tertarik membentuk senyum. Dia tidak peduli dengan geraman halus Hye Joo saat ia memotong ucapan sarkastis gadis itu.

“Well, kenapa tidak dikonfirmasi ?” Baekhyun menarik diri dari sandaran sofa, dagunya kini menempel di bahu Sera tanpa adanya penolakan dari gadis berambut cokelat tembaga itu. “Some media news has reported you, guys, went out together for several times. Kasihan paparazzi, setidaknya biarkan mereka mencari berita lain selain berita kedekatan kalian”

“Are you kidding me, Byun ?” Sera menyela cepat sebelum Luhan dan Hye Joo membuka suara mereka. Kernyitan bingung terpeta di keningnya sementara sepasang fokusnya telah berpendar menatap ketiga manusia itu secara bergantian. Terlihat seperti orang kebingungan yang baru saja terdampar di dunia antah-berantah.

Baekhyun terkekeh, lebih terdengar seperti ejekan “Jangan bilang kau tidak tahu, Ra” kata pria itu, menjawab kuriositas Sera masih dengan tampang mengejeknya. Tapi Sera tidak meladeni gurauannya. Alih-alih memberi respon, gadis itu malah mengalihkan atensinya pada Luhan karena Hye Joo sudah keburu membuang muka.

“no word can describe this kind of relationship, Ra” Luhan melejitkan bahunya, pria itu mengambil alih bicara. “Tapi kau bisa menganggap hubungan kami seperti apa yang diserukan oleh pikiranmu”

Sera tersenyum tipis, irisnya jatuh pada Hye Joo ketika ia berkata “Then, congrulation my beloved sister Han Hye Joo

“Kau harusnya lebih sering cerita padaku. Rasanya tidak adil ketika kau mengetahui segala tentangku sementara aku tidak mengetahui apa-apa tentangmu. Aku merasa buruk” tambah Sera dengan nada bicaranya yang terdengar begitu stabil. Tidak ada kesan emosi yang terselip disana meski di dalam dirinya, sesuatu seakan meletup dan siap memuntahkan amarah.

“Kita tidak sedekat itu untuk bertukar cerita, sayang” Hye Joo membalas, matanya balik memandang Sera. “Andai saja, kita tidak kelewat sibuk dan punya banyak waktu luang untuk dihabiskan bersama, pasti menyenangkan bisa mendengar cerita masing-masing”

yeah, andai saja kita sedekat itu” kata Sera sambil kembali mengukir senyum tipisnya yang menyimpan banyak makna. “Aku permisi sebentar” tambahnya, bangkit dari pangkuan Baekhyun.

Baekhyun menggapai tangannya sebelum dia sempat melangkah, pria itu baru akan membuka suaranya ketika Luhan menyerukan kuriositasnya lebih dulu “Mau kemana ?”

Sera beralih pada Luhan, lalu menjawab “Memesan minum, kau mau juga ?”

“Tidak, punyaku masih banyak” sahut pria cina itu.

Sera mengangguk, lantas berdecak saat Baekhyun memaksa ingin menemani. Pria itu agaknya mengerti dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Hye Joo hingga sangat bersikeras ingin menemani. Baekhyun tahu sesuatu yang aneh telah terjadi dan dia cukup peka untuk mengartikan keinginan Sera mengambil minum sebagai alibi untuk menghindari Hye Joo.

“Serius, Baek. Aku bukan anak kecil yang perlu kau awasi” dengus gadis itu yang dibalas Baekhyun dengan cengiran tengil khas pria itu. “Aku bisa sendiri”

“Aku hanya tidak ingin seseorang menyentuhmu, my-lovely-barbie-Lee-Sera”

            Sera memutar bola matanya, ingin muntah mendengar panggilan menjijikkan Baekhyun “Tidak akan terjadi, oke. Dan kalau pun ada, aku akan menghubungi Jongin dan pria itu hanya tinggal nama besok”

Baekhyun pura-pura bergidik, lalu meningatkan “Tapi Jongin masih di California, sayang. Dia tidak bisa melindungimu, jadi biarkan aku yang melakukannya”

“Ya Tuhan!” Sera berseru kesal. “Jongin sudah pulang tadi siang, dan asal kau tahu saja dia yang mengantarku kemari”

“Biarkan saja, Baek” bela Luhan yang agaknya sudah jengah menonton aksi pertengkaran mereka. Ketika Sera beralih pada Luhan untuk memberi lirikan terima kasih, gadis itu tanpa sengaja menangkap gerakan kaku dari tubuh Hye Joo.

Kuriositas sempat mengunci pandangannya pada Hye Joo yang kini menegak wine-nya dalam sekali tandas, tapi di detik berikutnya Sera segera berpaling dan pergi ke meja bartender sebelum Baekhyun kembali bersikeras untuk turut serta. Masa bodo dengan Hye Joo.

***

            Awalnya, Sera tidak terlalu peduli ketika Baekhyun membahas soal kedekatan Luhan dan Hye Joo. Menurutnya hal itu wajar. Baekhyun memang begitu, mulutnya benar-benar penggosip. Dia tidak akan membiarkan keanehan yang tertangkap matanya begitu saja tanpa menjadikannya sebagai bahan gosip. Tapi setelah mendengar lanjutan kalimat penjelas dari sahabatnya itu, Sera mendadak merasa dibodohi. Kenapa dia harus menghancurkan Volkswagen, ketika Hye Joo sendiri menjalin suatu hubungan dengan salah satu orang yang terlibat di dalam perusahaan tersebut ?

Ha! Kau memang bodoh, Lee Sera. Han Hye Joo jelas seorang iblis dan kau dengan sukarela mengikuti permainan mautnya.

            Sera bersumpah, dia tidak ingin melanjutkan misi ini. Mereka harus segera bicara sepulang dari sini. Persetan dengan kebebasan yang dijanjikan Hye Joo! Sera bisa menjemput kebebasannya sendiri tanpa bantuan dari gadis itu. Dia tidak akan membiarkan hidupnya dalam bahaya untuk kedua kalinya. Cukup sekali saja, iya cukup sekali.

Memijit pelipisnya yang mendadak pusing, Sera dikejutkan dengan suara seorang bartender yang menanyakan pesanannya. “Wine, please” jawabnya, lantas mengedarkan pandangan ke beberapa sudut. Mencoba mencari sedikit hiburan sembari menunggu pesanannya selesai.

“Ra”

Fokus Sera beralih ketika seseorang menyerukan nama kecilnya. Suara itu tidak terlalu keras –bahkan terkesan seperti gumaman ditengah kerasnya dentuman musik- namun cukup untuk menarik kuriositasnya. Secepat netranya menemukan siapa pemilik suara itu, secepat itulah pandangannya disambut oleh sepasang iris cokelat gelap yang memandangnya dengan jenis pandangan yang tak terdefinisi.

Sera mengenali siapa pemilik iris itu dengan baik, bahkan dibawah kerlap-kerlip lampu bar yang cukup membuat pandangannya terganggu. Bibirnya sempat menggumamkan nama “Oh Sehun” sementara fokusnya, untuk sesaat, terkunci pada sepasang iris cokelat gelap itu.

Oh Sehun mungkin hanya orang asing dan seorang musuh yang tak sengaja diseret takdir untuk memasuki kehidupannya, tetapi sesuatu yang tersimpan dibalik iris cokelat itu seakan tak asing lagi baginya. Ketika menatap ke dalam sana, Sera merasa seakan de javu dan denyut pusing dikepalanya semakin menjadi.

“Iya, ini aku, Amore” Suara Sehun merendah, tangannya menggapai wajah Sera dan membuainya dengan kelembutan yang membuat gadis itu refleks memejamkan mata.

“Lee Sera, Ra… Amore-”

“–Aku… merindukanmu”

Dan selanjutnya, hal yang Sera rasakan adalah kelembutan material basah yang menyentuh miliknya.

Sera ingin menolak dan memberi sebuah tamparan untuk Sehun karena berlaku lancang. Tetapi keinginannya sama sekali tidak terealisasi. Tubuhnya hanya membeku tanpa bisa menolak kelembutan yang ditawarkan oleh pria bergaris wajah dingin itu, mereka menerimanya dengan baik seakan sentuhan itu sudah tak asing lagi. Bahkan alih-alih merasa terganggu, Sera malah mendapat kenyamanan sampai-

“JANGAN GILA, SEHUN!”

Bugh!

–Seseorang menarik tubuhnya dari rengkuhan Sehun dan menghadiahi pria itu sebuah tonjokan di wajah hingga membuatnya tersungkur.

Sera memekik tertahan lantaran terkejut dengan apa yang terjadi di depan matanya barusan, lantas menyadari siapa pria yang membebaskannya dari kuasa Sehun. “Luhan” gumamnya.

“Kembali ke lounge, Sera!”

 

 

To be continued…

Bonus pic

60eb26e1598f9301cc5c7263dca918d4

Oh Sehun – 26 y.o

tumblr_mwa4dhlB2z1qfrcvxo1_500

Kim Jongin – 26 y.o

haeryung1

Lee Sera – 26 y.o

 

A/N: It’s better for you to leave a comment, because I don’t take any financial profit based on this story. Tolong berikan komentar yang membangun:)

 

Advertisements

17 comments

  1. luhan tu sbnrnya punya rncana jahat gk sih dgn hyo joo?
    klau hyo joo emng niat mnghancurkan sehun, tp apa luhan jg tau rencana ini? atau mreka mmang sekongkol.
    sera dan sehun pnya hub. di masa lalu ya tp sera hilang ingatan bgitu?
    penasaran ma cerita srlanjutnya…
    next ya kak 🙂

  2. waaah suka suka suka banget yg ginian huhu. aku ga mudeng bagian luhan sm hye joo. mereka emang menjalin hubungan beneran ato cuma strategi bisnis aja? trus sera amnesia kyk kata luhan? whyyyy? semangat kak q tunggu updateannya uwuwuw

  3. kyaaaaaaaa…. aku geregetan bangett ihhhh.

    itu kok sehun kaya kenal sama sera tapi seranya kaya gak kenal gitu yaa?? apa jangan-jangan sera lupa ingatan? kok marganya sera sama hye joo beda yaa, padahal kan mrk kakak ade, apa bukan sodara kandung?

  4. agak bingung, mungkin gegara baru baca chap awal kali yaa..
    .hye joo sm sera itu seriusan kakak adik..?? kok aku ragu yaa..??
    trs klopun perusahaan hye joo sm sehun tu musuhan knpa ga hye joo sndiri aja yg lakuin..?? cari aman..?? makanya nyuruh sera..??
    trs trs iyaa nihh itu hye joo luhan ada hubungan khusus..?? srriusan luhan tu temen baiknya sehun..?? banyakk bgt pertanyaaan ini..
    tp aku mikir sehun sera tuh punya hubungan dimasa lalu, & sera kliatan bgt klo dia ga inget apa”..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s