Perfection [1]

perfection

Author :K’s

 

Cast     :Kim Jongin, Han Hye Joo, Oh Sehun, Lee Sera, Xi Luhan

Genre  : School Life, romance, psychology

 

 

 

“Being perfect does not necessarily make us happy”

 

 

 


Di sebuah rumah kawasan elit, di pusat kota Los Angeles. Mayat sepasang suami istri ditemukan membusuk di dalam kamar dengan seorang anak perempuan tak sadarkan diri di sampingnya.

Enam tahun. Kejadian itu terjadi enam tahun yang lalu. Namun, trauma akan kejadian tersebut—masih membekas hingga saat ini. Seorang anak perempuan terkurung bersama kedua jasad orang tuanya selama empat hari. Kekurangan asupan nutrisi dan juga dehidrasi; menyebabkan tubuh gadis itu dalam kondisi yang sangat lemah serta trauma psikologis yang begitu mendalam untuk anak perempuan tersebut.

Mr. Han sudah begitu putus asa. Dia tidah tahu cara apalagi yang harus ia tempuh untuk mengembalikan senyuman cucunya yang telah hilang sejak enam tahun yang lalu. Semua psikiater termahal, terbaik, telah ia kerahkan agar cucu satu-satunya itu bisa kembali hidup normal. Tapi, hasilnya nihil. Seluruh psikiater telah mencoba, ada beberapa kemajuan tapi tak berhasil membuatnya kembali ceria seperti dulu lagi.

Tidak ada lagi senyum cerah yang selalu diperlihatkan olehnya. Semuanya musnah, digantikan oleh wajah tanpa ekspresi. Dia hanya bicara seperlunya, tidak pernah keluar dari rumah. Gadis itu tidak ingin pergi ke sekolah umum dan lebih memilih untuk home scooling.

Dunianya benar-benar sudah berubah sejak kejadian tragis itu. Dia tidak ingin memberitahu penyebab orang tuanya meninggal. Mata polosnya hanya menyiratkan ketakutan serta kepedihan, tak ada kata yang terucap oleh bibir mungilnya. Hingga akhirnya sang kakek memboyongnya untuk tinggal bersama di negeri asalnya.

Mr. Han pikir, cucunya bisa memulai hidup baru. Pikirnya, kejadian itu lambat laun akan terlupakan. Hanya akan menjadi mimpi buruk dalam tidurnya. Pada kenyataannya, usahanya tak membuahkan hasil apapun. Kondisi mental gadis masih begitu kacau. Bahkan saat gadis itu merasa begitu depresi ,dia memiliki kecendurangan untuk menyakiti dirinya sendiri. Malah pernah melakukan tindakan untuk bunuh diri.

Kondisinya yang tak pernah membaik benar-benar meresahkan hati Mr. Han. Gadis itu tak akan pernah lepas dari trauma masa lalunya. Jika ia hanya mengurung diri di dalam kamar. Seperti merpati yang terukung di dalam sangkar.

Gadis itu harus berusaha untuk keluar dari masa lalunya. Melangkah ke depan dan melanjutkan hidup, salayaknya gadis sebayanya.

Oleh karena itu, Mr. Han berinisiatif mendaftarkan cucunya di sekolah seni terkenal di Korea. Bakat bermain piano yang diturunkan ibunya pasti masih mengalir hingga sekarang. Kendati gadis itu sudah mencoret nama piano dalam daftar alat musik favortinya. Tapi dia tahu, di lain sisi; gadis itu sangat ingin memainkannya lagi. Mr. Han memiliki keyakinan kalau kehidupan sekolah akan membuatnya berubah.

Laki-laki paruh baya itu, menghela nafas gusar. Ada sedikit kekhawatiran dalam dirinya. Gadis yang sudah enam tahun tidak pernah berbaur dengan orang lain, kini harus kembali menjalani yang namanya kehidupan sekolah.

“Nona, Han sudah berangkat ke sekolahnya” suara lembut wanita paruh baya itu, membuyarkan lamunan Mr. Han. Tangan keriputnya, mencengkram tongkat. Umurnya yang sudah lebih dari setengah abad, ditambah dengan kondisi yang kurang baik; menyebabkan Mr. Han membutuhkan alat untuk membantunya berdiri.

Sosok bibi Shin yang sudah mengurus cucunya sejak kecil berdiri di belakang Mr. Han yang tengah menatap ke luar jendela. Wanita itu memandang Mr. Han dengan pandangan khawatir. Wanita itu sama pedulinya dengan Mr. Han akan kondisi gadis itu. Keputusan tuannya yang memasukkan gadis itu ke dalam lingkungan sekolah sedikit membuatnya resah.

Bibi Shin amat tahu, betapa Mr. Han sangat menyayangi cucunya tersebut. Maka dari itu, dia berani mengambil risiko. Nona Han sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, setiap hari dia melihat gadis itu, hanya diam di dalam kamarnya. Tidak ingin bicara pada siapapun. Apalagi saat Nona Han sedang kumat, dia akan teriak dan memukul kepalanya sendiri. Melakukan tindakan apa saja untuk melukai dirinya sendiri. Hal itu benar-benar membuat bibi Shin meneteskan air matanya.

Nonanya yang dulunya sangat aktif dan periang. Kembali dalam keadaan seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Hal itu benar-benar membuatnya terkejut. Kejadian itu tidak pernah diduganya selama ini.

“Tuan, apa anda yakin dengan keputusan anda?” bibi Shin bertanya, menunggu Mr. Han yang tampak menghela nafasnya dalam. Laki-laki itu menolehkan kepalanya sebentar pada bibi Shin, kemudian kembali beralih pandang. Menatap cucunya memasuki mobil dari jendela kamarnya.

“Aku yakin dia akan baik-baik saja” katanya.

Sesungguhnya ada keraguan yang terselip di hatinya.

***

“Kita sudah sampai, Nona” suara supirnya menyadarkan gadis itu—Han Hye Joo menghela nafas, menganggukan kepalanya sebagai respon. Matanya menatap sejenak keluar jendela, pada kerumunan siswa yang berlalu lalang dengan seragam mereka. Sama seperti yang ia pakai.

Sunhwa Art School merupakan sekolah ternama di Korea Selatan. Sekolah seni yang sudah banyak mengantarkan muridnya menuju panggung Internasional. Banyak muridnya yang sudah tampil di teater atau orchestra ternama dan banyak dari mereka juga tampil di luar negeri. Ada banyak cabang seni di sekolah ini, seperti seni music instrument, ballet klasik, seni lukis, serta Folk dance tradisional Korea..

Sudah sangat lama, Hye Joo tak merasakan atmosfer berada di lingkungan sekolah. Sudah enam tahun, mungkin ia sudah lupa bagaimana rasa menjadi siswa berseragam. Dia tidak tahu berapa lama ia dapat bertahan. Yang pastinya itu tidak akan lama. Hasratnya untuk berskolah atau berinteraksi sudah musnah. Satu-satunya ia inginkan hanya diam di dalam kamarnya.

“Wali kelas anda sebentar lagi akan datang, Nona” Supirnya kembali berkata, menyadarkan lamunan gadis itu. Dia sama sekali tak peduli apa yang dikatakan oleh supirnya itu. Tanpa kata, medorong pintunya mobilnya hingga terbuka.

Gadis itu mengelilingi pandangnya, melihat betapa besar bangunan sekolahnya saat ini. Bangunannya cukup tinggi, kalau tidak salah hitung ada sekitar tujuh lantai. Tidak akan sakit kalau terjun dari lantai yang paling atas, bukan?

Supirnya melihat Nonanya dengan pandang khawatir, ketika gadis itu melangkahkan kakinya tanpa mau menunggu wali kelasnya datang.

Hye Joo bisa merasakan tatapan siswa-siswi yang meliriknya sambil berbisik-bisik. Menemukan wajah baru di sekolah serta turun dari mobil mewah cukup membuatnya jadi bahan pembicaraan. Ekspresinya sama sekali tak berubah. Datar. Tanpa ada senyuman sedikit pun. Membuat kesan angkuh dalam dirinya.

Gadis itu berjalan melintasi koridor masih dengan tatapan penasaran para siswa padanya. Langkah kakinya membawa pada sebuah lift. Gadis itu menekan lift tersebut, kemudian masuk ke dalam ketika pintunya terbuka. Tanpa ragu gadis itu menekan angka paling atas yang bernomor tujuh.

Tidak ada keinginan dalam dirinya untuk mengikuti aktivitas sekolah, dia tidak peduli dengan kakeknya yang mungkin nanti akan marah. Tidak ada rasa takut lagi dalam dirinya. Semua musnah seperti hasratnya untuk hidup.

Pintu lift terbuka, gadis itu melangkah kakinya menaiki sebuah anak tangga hingga ia sampai pada sebuah pintu.

Atap sekolah. Hanya tempat ini yang ada di benaknya saat melihat betapa tingginya banguanan ini. Tindakan yang sangat berani, karena kakeknya melepaskannya untuk berkeliaran di luar. Beliau tidak akan tahu tindakan apa saja yang bisa ia lakukan.

Sudah berapa kali, dia mencoba tindakan bunuh diri. Walaupun gagal, itu sama sekali tak menghalangi niatnya untuk kembali mencobanya. Tidak ada gunanya ia hidup. Semua telah hancur. Hidupnya sama sekali tak ada artinya sama sekali.

Kakeknya sudah terlalu tua untuk mengurusnya. Kalau sampai ia meninggal, maka Hye Joo akan kembali sendiri. Dan ia sama sekali tak siap untuk kehilangan lagi. Biarlah ia dulu yang pergi sehingga tak perlu merasakan rasa sakit itu.

Gadis itu melepaskan tas punggungnya, melemparkannya sembarang. Tanpa ragu gadis itu menaiki panggar pembatas. Berdiri disana. Tidak ada rasa ketakutan padanya, ketika ia melihat ke bawah. Semua orang pasti mati. Kematian bukanlah suatu hal yang harus ditakuti. Saat ini dia hanya mempercepat proses kematiaanya.

Hye Joo merentangkan tangannya, merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya. Meniup-niup rambut coklat panjangnya. Kakinya terangkat, sehingga berada di atas udara. Matanya terpejam, mengitung dalam hati.

Satu…

Dua…

Tiga…

 

***

Pagi ini sekolah tampak ramai seperti biasanya, murid-murid sibuk membicarakan kehebatan Kim Jongin serta Lee Sera yang berhasil tampil di panggung Swan Lake. Mereka berhasil menunjukkan kemampuan menari mereka di sebuah teater Bolshoi di kota Moschow, Rusia. Lee Sera terpilih menjadi Odette sedangkan Jongin sebagai pangeran Siegfried. Kemampuan menari mereka memang tak perlu diragukan lagi. Predikat bintang sekolah memang sudah melakat sejak dulu.

Banyak murid yang iri serta kagum pada mereka. Diusia yang masih sangat muda, mereka berhasil tampil di panggung yang diimpikan oleh semua penari ballet di dunia. Dan Jongin sangat bangga dengan dirinya sendiri.

Hanya saja dia tidak suka dengan tatapan mereka yang terus menatapnya ketika ia melewati koridor. Sangat menganggu. Hal ini memang sering terjadi, jauh sebelum ia berhasil menari di panggung Internasional. Murid-murid disekolah apalagi kaum perempuan kerap kali mencuri pandang padanya. Entah sedang mengangguminya atau menyumpahi sikap sombongnya.

Pun begitu, dengan sikap angkuh serta dingin yang diperlihatkan. Sama sekali tak mengurangi pesona ketampannya yang semakin menjadi-jadi. Bukan Jongin sedang membanggakan dirinya sendiri, tapi itu memang sebuah fakta.

Banyak murid perempuan yang menyatakan cinta padanya. Dan Jongin sama sekali tak ragu untuk menolaknya. Tidak ada raut wajah menyesal atau kasihan. Dia menolaknya dengan cara yang tidak bisa dibilang sopan. Kendati seperti itu, masih banyak perempuan yang menggilainya.

Jongin hanya bisa berdecak kesal, memasang earphone sehingga terdengar alunan musik klasik yang memenuhi ruang dengar pria itu. Tatapan tajam serta mengintimidasi yang diperlihatkan olehnya, membuat murid perempuan tak berani untuk menyapa apalagi memberi ucapan selamat.

Bukan karena ia tidak memiliki perasaan atau apa. Jongin hanya tidak ingin memberikan harapan palsu pada gadis-gadis itu. Dia selalu bicara apa adanya dan tidak suka dengan orang yang bertele-tele. Ditambah dengan betapa populer dirinya, sehingga banyak orang yang mendekatinya hanya karena statusnya yang hebat.

Dia benci dengan orang-orang munafik semacam itu. Yang hanya baik di depan tapi menikam dari belakang. Karena itu, sepanjang eksistensinya hidup di dunia. Dia hanya memiliki satu teman yang benar-benar ia percaya. Itupun karena mereka sudah bertetangga sejak kecil.

Masih tergambar jelas di ingatannya, betapa kerasnya usaha Sehun agar ia mau berteman dengannya. Sejak kecil Jongin memang introvert. Mengetahui ada orang baru yang menempati rumah kosong di sebelah rumahnya. Sama sekali tak membuatnya antusias.

Pertemuan mereka berawal dari Ibu Sehun yang mengantar makanan ke rumahnya dengan membawa Sehun ikut serta. Ibunya menyuruh agar membawa Sehun bermain kamarnya, awalnya ia menolak tapi Ibunya memaksa. Di dalam kamarnya, Sehun tak berhenti bicara dan terus menyentuh barang-barangnya; sehingga Jongin kesal dan mengusirnya.

Walaupun Jongin sering mengabaikan Sehun dan berkata kasar. Tapi Sehun sama sekali tak tersinggung atau marah. Anak laki-laki itu menanggapinya dengan sebuah candaan dan kelakar khasnya. Kadang Jongin berpikir Sehun itu bodoh atau memang terlalu baik. Pun begitu, toh akhirnya Jongin luluh juga dan mau berteman dengan Sehun.

Langkah kaki Jongin membawanya ke atap sekolah. Tempat terbaik untuk mengasingkan diri. Saat ia berada pada titik yang paling sulit, atau ketika lelah karena latihannya. Hanya disini Jongin merasa lebih tenang. Hembusan angin membuat masalahnya seperti ikut terbang.

Mungkin semua orang menganggapnya sempurna. Dan tidak memiliki masalah apapun dalam hidupnya. Seakan tidak ada celah apapun dalam dirinya. Itulah manusia, hanya bisa berspekulasi tanpa tahu kebenarannya. Jongin tetaplah manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah bermasalah. Termasuk dirinya. Mereka tidak tahu, bagaimana proses yang ia jalani untuk mencapai itu semua. Dan itu tidaklah mudah.

Jongin akui dia memiliki tempramen yang sangat amat buruk. Ketika dia tidak berhasil melakukan hal yang dia inginkan. Maka dia akan marah dan sangat stress. Dia merasa tertekan karena usahanya tak berhasil. Oleh karena itu, Sehun mengatainya Tuan perfectionist. Yang selalu menginginkan akhir yang sempurna. Menjadi sempurna memang menyenangkan. Tapi banyak hal yang harus dikorbankan untuk mencapai kata itu.

Mata hitam kelamnya, menangkap sosok seorang gadis tengah berdiri di perbatasan gedung. Gadis itu memakai seragam sekolahnya, menandakan kalau dia bersekolah di tempat yang sama sepertinya. Tas miliknya tergeletak di atas lantai. Melihat hal itu, Jongin bisa menyimpulkan apa yang hendak di lakukan oleh gadis gila itu.

Pria itu mendengus. Kenapa manusia mudah sekali putus asa? Orang yang berpikir ingin bunuh diri adalah pecundang sejati. Hampir satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Apa sesulit itu masalah yang yang dipikulnya? Kalau kita ingin melihat lebih luas, banyak orang di luar sana yang lebih sulit lagi tetapi masih memiliki semangat untuk hidup.

Pria itu membalikan badanya, berniat untuk tidak ikut campur dengan pikiran tolol gadis itu yang ingin bunuh diri. Dia tidak ingin terlibat apapun. Toh, kalau ia menggagalkan aksi bunuh diri gadis itu hari ini. Mungkin saja gadis itu akan berniat bunuh diri lagi besok.

Baru selangkah ia berjalan, Jongin berhenti. Hatinya dilema. Mungkin dia egois, pemarah, atau apapun. Dia tidak ingin terlibat tetapi rasa kemanusiaanya berkata lain. Pria itu mengigit bibirnya, kemudian bergumam kecil.

“Shit!” tangannya bergerak mengacak rambutnya, melepas earphone ditelinganya dengan gerakan cepat. Lalu berbalik dan berlari mendekati gadis itu.

Dia melihat gadis itu sudah melangkahkan satu kakinya, kedua tanganya terlentang bersiap dengan rasa sakit yang mungkin akan dirasakannya nanti. Meninggalkan dunia yang sudah membuat kehidupan hancur. Dengan cepat Jongin berlari, meraih tangan gadis itu ketika dia akan bersiap untuk melompat.

Tubuhnya terhempas di atas lantai, punggungnya terasa sakit akibat berbenturan dengan lantai semen yang cukup kasar. Jongin merasakan tubuhnya memberat, ada tubuh lain yang berada di pelukannya. Seketika dia menyadari posisinya saat ini.

Gadis itu berusaha bangkit dari tempatnya. Dengan cekatan Jongin menahan pergelangan tangannya sehingga gadis itu kembali jatuh berada di pelukan Jongin. Dia bisa merasakan tangan Jongin yang menggengam pergelangan tangannya begitu erat, sementara netranya menatap tajam netra coklat gadis itu.

Wajah mereka sangat dekat, matanya menelusuri setiap bagian dari wajah gadis itu. Jongin tak akan menjadi munafik dengan mengatakan kalau gadis itu tidak cantik. Dia cantik. Dengan wajah kecil dan mata besar tidak seperti orang Korea kebanyakan. Kulitnya putih tetapi tidak pucat. Bibirnya tipis dan berwarna pink alami. Dan ia yakin kalau gadis ini tak memoleskan make up pada wajahnya. Dan matanya sangat indah, warnanya coklat seperti warna rambutnya. Akan tetapi dibalik keindahan matannya, Jongin bisa melihat ada luka disana. Seakan dia bisa membaca semua yang dirasakan gadis itu melalui matanya. Kepedihan, penyesalan, keputusasaan, tergambar jelas dari manik matanya. Seolah dengan menatap mata gadis itu, dia juga bisa merasakan apa yang dirasakan olehnya.

Jongin menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran bodohnya untuk peduli.

“jika kau ingin mati. Carilah tempat dimana tidak ada orang yang bisa menemukanmu!” katanya dingin.

Gadis itu diam, sama sekali tak membalas kata kasar Jongin barusan. Dia menyetakan tangan Jongin hingga lepas darinya. Tanpa banyak kata bangkit dari tubuh Jongin; mengambil tasnya lalu bergegas pergi. Tidak ada ucapan terima kasih atau umpatan apapun.

Jongin mendesah, seharusnya dia tidak datang ke atap pagi ini.

***

Lee Sera—gadis itu mendesah kecil. Mendapati banyak amplop serta berbagai coklat di dalam lokernya. Semalam keluarganya juga memberinya banyak hadiah, merayakan keberhasilannya dengan mengadakan pesta kecil. Dia senang karena keluarganya tampak bahagia dan bangga padanya.

Akan tetapi, sesungguhnya dia tidak membutuhkan perayaan atau hadiah apapun. Cukup orang tuanya datang, dan menonton pertunjukkannya. Itu jauh lebih membuatnya bahagia. Sera mengerti betapa sibuknya Daddy dan Mommy. Pekerjaan mereka yang mengharuskan untuk pulang pergi luar negeri adalah hal biasa baginya. Itu sudah terjadi sejak dia masih kecil.

Di tengah kesibukan mereka, dia hanya berharap mereka dapat menyisihkan waktu untuk menonton pertunjukkan terhebatnya. Namun harapan tinggalah harapan. Sera ingin mengerti, dan dia berusaha untuk itu. Pun begitu, ia masih merasa kecewa.

Gadis itu menyingkirkan amplop serta coklat-coklat itu. Mengambil bukunya lalu kembali menutup pintu lokernya. Tak berniat mengambil salah satu coklat tersebut. Menjadi populer memang menyenangkan, dikenal banyak orang dan semuanya baik padanya.

Tapi—entahlah. Dari segelintir murid-murid disini, hanya beberapa yang benar-benar tulus padanya. Yang lainnya yang menumpang untuk mendapat popularitas. Tak bisa disalahkan memang. Karena tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini.

Good Morning, sweetheart. Tidurmu nyenyak?” suara maskulin milik seorang pria mengalihkan pikirannya. Sera menoleh, mendapati wajah Oh Sehun yang tengah tersenyum manis padanya. Lengannya bersender di loker miliknya. Sembari melipat tangannya di depan dada.

Manik matanya menatap Sera cerah. Rambutnya berwarna blonde tampak berantakan menutupi keningnya. Sama sekali tak mengurangi ketampanan pria itu. Bibir tipisnya masih tergerak mengulas senyum mematikan. Berpotensi membuat gadis-gadis tunduk padanya.

Sera memandang Sehun dari atas sampai bawah, menilik penampilanya yang sama sekali tak mencerminkan seorang pelajar. Bajunya dikeluarkan serta blazer yang tak dikancinginya. Gadis itu bisa menyimpulkan apa yang baru pria itu lakukan.

“Kau masih suka melakukannya di sekolah? Carilah tempat yang lebih bagus untuk melakukan aktivitas menjijikanmu itu, Oh Sehun!” katanya sarkatis. Melipat tangannya di depan dada.

            Sehun tak terlihat tersinggung atau marah, pria itu malah menanggapinya dengan kekehan kecil yang membuat bahunya sedikit berguncang. Tangannya terulur mengacak lembut rambut gadis itu, kemudian melingkarkan tangannya di leher Sera.

“Dengar, Sweetheart. Aku tidak ingin kau terus salah paham padaku” Sera hanya memutar bola matanya “ sejak kau memergokiku bersama gadis itu, aku tidak pernah lagi melakukannya di sekolah” jelas Sehun.

“bearti kau masih melakukannya di luar sekolah?” tanya Sera, membuat Sehun terdiam. Gadis itu mendesah, mengangkat tangan Sehun agar terlepas darinya.

“Aku mengatakan ini karena kau temanku, Sehun! Berhentilah bermain dengan gadis-gadis dan kencanilah gadis yang benar-benar kau sukai”

“Aku tidak bermain-main dengan mereka, Sweetheart. Mereka saj—“

“Ya,ya,ya…aku bosan mendengar penjelasmu, semua yang kukatakan memang tidak pernah kau dengar” Sera memutar bola matanya sekali lagi, mengibaskan tangan sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Sehun.

Dia sudah bosan, memberi penjelasan pada Sehun. Pun begitu, Sehun tidak pernah mendengarkannya. Kata-kata hanya angin lalu bagi pria itu. Orang seperti Sehun memang harus mendapat karma baru bisa sadar dengan perbuatannya. Dia tahu, ini bukan kesalahan Sehun saja. Kadang gadis-gadis di luar sana yang terlalu bodoh dan murahan. Walaupun mereka mengetahui betapa brengsek Sehun, tetap saja mereka terus menempel padanya.

Sehun mengigit bibirnya kemudian, meraih tangan gadis itu hingga berbalik padannya. Tangannya mengenggam kedua tangan Sera. Menautkan jari-jarinya dengan jari-jari letik Sera.

“Oke, oke aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Jangan marah, ya?” Sehun menatap Sera memelas. Namun, gadis itu sama sekali tak ingin menatap wajah Sehun.

Pria itu menghela nafas, mengangkat tangannya dan menangkup pipi gadis itu dengan kedua tangannya, “kau tahu kan? Aku tidak bisa melihatmu marah seperti ini padaku?” netranya menangkap netra gadis itu dalam, kemudian mengulas senyum tipis sebelum melanjutkan perkataannya.

“karena kau terlihat sangat cantik saat marah, dan aku tidak tahan untuk tidak menciumu”

Sera mendesis melepaskan tangan Sehun dari wajahnya. Gadis itu memukul lengan Sehun cukup keras dan berkata, “katakan itu sekali lagi! Maka aku akan benar-benar membunuhmu” ancamnya kesal.

Sekali lagi, Sehun hanya terkekeh geli. Mengusap lengannya berpura-pura kesakitan. Padahal pukulan Sera sama sekali tidak sakit, bahkan Sehun tak merasakan apa-apa.

“Kau tidak marah lagi, kan?” Sehun bertanya, tapi Sera kembali diam.

“Ayolah, sweetheart. Aku sudah berhari-hari tak melihat wajahmu! Kau tahu betapa aku sangat merindukanmu? Setidaknya tersenyumlah, hm?” rajuk Sehun.

Sera merapatkan kedua bibirnya, menahan itu tidak tersenyum. Pertama kali dia bertemu dengan Sehun, dia tidak terlalu suka dengan sifatnya. Sejak dulu, pria itu memang sudah sering mempermainkan perasaan wanita. Itulah yang membuat Sera tak menyukainya. Tapi lambat laun, karena ia dan Jongin sering menjadi pasangan setiap pertunjukkan balet dan Sehun yang juga berada di bidang seni yang sama sepertinya. Dia mulai dekat dengannya, padahal eksistensinya bertemu dengannya tidaklah terlalu banyak daripada Kim Jongin. Malah ia tidak terlalu dekat dengan Jongin, pria itu cendurung menutup dirinya. Berbeda dengan Sehun yang selalu bisa berteman dengan siapa saja. Dan sangat membuka dirinya.

Gadis itu menghela nafas, memandang wajahnya sejanak “Kau memang paling bisa, Oh Sehun”

***

Hye Joo berjalan pelan, tepat berada di belakang seorang wanita yang umurnya mungkin berada di pertengahan dua puluh. Wanita itu mengatakan kalau ia adalah wali kelasnya. Dia cantik dan juga baik. Walaupun, Hye Joo tidak menanggapi setiap perkataannya. Wanita itu tetap tersenyum, dia berkata kalau Mr. Han telah memberitahu tentang kesehatannya. Dan bisa memaklumi sikapnya.

Sembari berjalan, guru itu terus berceloteh. Memberitahunya tentang; sejarah Sunhwa art School, cabang-cabang dapartement, dan juga pelajaran umum yang wajib diikuti semua siswa. Tidak semua, perkataan wanita itu di dengar olehnya. Yang dia tahu, kalau kakeknya memasukannya dalam dapartement music. Memberitahu kalau dulu, cucunya adalah pemain piano hebat.

Dulu. Artinya sudah sangat lama. Hye Joo tak akan menampik, jikalau dulunya ia sangat menyukai alat musik itu. Mimpinya adalah menjadi pemain piano sekelas Mozart. Menciptakan harmoni-harmoni menganggumkan. Yang akan membuat semua orang terpukau dengan permainnya.

Tapi sekali lagi, itu dulu.

Sekarang. Baginya benda itu tak menarik lagi.

“Ini adalah kelas pertamamu, kau bisa melihat pada kertas yang sudah aku berikan padamu untuk melihat jadwal kelasmu yang lainnya” wanita itu berhenti di depan pintu kelas yang terutup.

Gadis itu menganggukan kepalanya sebagai respon.

“Aku harap kau betah disini” ujarnya memegang bahu Hye Joo sebentar, kemudian tersenyum manis. Gadis itu melirik bahunya, entah kenapa dia bisa merasakan ketulusan dari ucapan guru itu. Yang namanya sama sekali tak diingatnya. Dia menatap guru itu yang tengah membuka pintu kelas. Dan kembali mengikuti langkah guru tersebut untuk memasuki kelas, semua perhatian tertuju padanya. Kendati begitu, Hye Joo sama sekali tak merasa gugup. Masih memasang ekspersi datarnya.

Guru itu bicara sebentar pada guru yang sedang mengejar, sebelum akhirnya berbalik untuk meninggalkan kelas. Dia melirik Hye Joo sebentar kembali mengulas senyum. Entah sudah berapa kali wanita itu tersenyum padanya.

“Nah, Han Hye Joo karena kau terlambat di hari pertamamu. Jadi kita bisa melewatkan sesi perkenalan dirinya. Kau bisa duduk di kursi kosong disana” ujar guru itu yang dibalasnya dengang anggukkan singkat.

Hye Joo berjalan melawati beberapa meja disertai tatapan seisi kelas yang mengawasinya. Kursinya berada di dekat jendela deretan terakhir. Gadis itu mendorong kursinya, lalu melepaskan tas dukung miliknya dan meletakannya di atas meja. Dia membuka tasnya, mengambil buku serta alat tulis. Tak menyadari kalau sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-geriknya.

Kim Jongin—pria itu memperhatikan si anak baru yang duduk hanya beberapa bangku darinya. Sesuatu dari diri gadis itu sangat mengusiknya. Dan Jongin sama sekali tak tahu apa itu. Pantas saja, wajahnya asing. Apalagi gadis itu berbeda dengan gadis yang lainnya. Biasanya para gadis akan senang berada dekat dengannya. Tapi gadis itu malah terlihat tak tertarik dengannya.

Jongin mendengus dengan pikirannya sendiri. Memerintah otaknya untuk tidak memikirkan hal-hal konyol. Dia kembali focus pada guru yang mengajar. Berusaha untuk tidak menoleh ke belakang. Ataupun memikirkan gadis aneh itu.

.

***

Pria berwajah cerah itu tak henti-henti menebar senyuman manis pada semua orang. Sepanjang ia berjalan di koridor, semua gadis tak bisa untuk tidak meliriknya dan mengangguminya. Xi Luhan—memangku tas gitarnya, begitu bersemangat dan bercahaya. Sikapnya yang begitu ramah, baik, dan sopan; hampir membuat setangah gadis di sekolah menyukainya. Luhan is what girls want

Luhan adalah pria yang berbakat, selain memiliki bakat dia juga memiliki semangat untuk belajar dan mengembangkan bakatnya. Dia adalah mascot dari dapartement musik, semua orang di dapartement musik menyukainya. Tidak hanya gitar dia juga mahir memainkan beberapa alat musik dan tak lupa Luhan juga memiliki suara yang indah. See…how so perfect his.

            Setelah selesai dengan kelas matematikanya, Luhan memilliki rencana bertemu dengan sahabatnya di cafetaria. Sebelum itu, dia mampir ruang guru terlebih dahulu. Ms. Summer memanggilnya untuk suatu hal. Ms. Summer adalah pelatihnya, dia sangat pandai bermain piano. Wanita itu memiliki wajah yang cantik dan ramah. Dia begitu perhatian pada setiap muridnya, tak pernah membeda-bedakan mereka. Luhan sangat menghormati Miss.Summer, baginya Miss. Summer adalah guru terbaik dia Sunhwa Art School.

            Pria berwajah cantik itu bediri di depan ruang guru, lalu melangkahkan kakinya menuju meja Miss. Summer.

“Oh, Luhan” Miss. Summer tersenyum pada Luhan ketika mendapatkan atensi pria itu, membereskan tumpukan kertas yang berserakan di mejanya.

Luhan membalas senyuman Miss. Summer, mendekatinya “ Anda memanggil saya, Miss?”tanyanya sopan, membenarkan letak tak gitar yang sedang di sandangnya.

Miss. Summer menganggukan kepalanya “I need your help” ujarnya serius.

Luhan mengangkat alisnya, sangat jarang Miss. Summer terlihat begitu serius. Wanita itu selalu dipenuhi dengan wajah yang menyenangkan. Namun, dililhatnya sekarang justru wajah dengan banyak kekhawatiran.

“Dapartement musik kedatangan siswi baru” ucap Miss. Summer mulai menjelaskan; memberi jeda sebentar, Luhan menganggukan kepalanya, mendengarkan dengan cermat. Pria itu masih belum tahu apa yang bisa ia bantu.

“Dia memiliki sedikit masalah, gadis itu memiliki sedikit masalah kesehatan” lanjut Miss. Summer.

Oh,

“Aku ingin kau mengawasinya. Mungkin aku tidak bisa memberitahumu lebih jelasnya, karena itu bukan kewenanganku untuk mengatakannya. Tapi, aku tahu kau bisa dipercaya, Luhan” Miss. Summer menatap Luhan memohon.

            Sejujurnya Luhan memiliki sedikit keraguan, dia ingin membantu Miss. Summer. Tapi, dirinya tidak terlalu yakin apa ia bisa atau tidak. Sekali lagi, Luhan menatap Miss. Summer untuk sejenak. Gadis itu pasti sangat bearti bagi Miss. Summer. Walaupun dia tak tahu hubungan apa yang dimiliki Miss. Summer dengan gadis itu. Yang pastinya Miss. Summer pasti sangat menyayanginya.

“baiklah Miss, aku akan mengawasinya”

***

Pelajaran telah berakhir, setelah guru yang mengajar keluar dari ruangan kelas. Semua siswa menghela nafas lega. Hye Joo membereskan alat tulisnya yang terlihat tak ada kegiatan tulis menulis di bukunya. Sedari tadi yang ia lakukan hanya diam, memegang pensil tanpa menulis satu kata pun. Gadis itu memasukkan kembali bukunya ke dalam tas dan kembali memakai tas dukungnya.

“Namamu Han Hye Joo, kan?” suara ceria milik seorang gadis menyapanya. Hye Joo mengadahkan kepalanya, melihat ada beberapa murid yang tengah mengelilingnya. Mereka semua menatapnya penasaran tapi Hye Joo sama sekali tak peduli.

Tidak dijawab pertanyaannya, gadis itu berinisiatif memperkanalkan dirinya “Namaku Hara” katanya, mengulurkan tangannya yang hanya ditanggapi Hye Joo dengan kerutan bingung. Mengabaikan uluran tangan gadis itu.

Semua murid yang mengelilingnya tampak cengok dengan sikapnya tapi Hye Joo benar-benar tak peduli tentang pendapat mereka. Justru dia berdiri dari tempat duduknya, melewati semua siswa yang mengelilinginya begitu saja, seakan-akan mereka tidak ada disana.

Gadis yang bernama Hara tadi hanya menatap tangannya yang tergantung di udara dengan sedih, kemudian dia berbalik diikuti oleh siswa lainnya menatap punggung Hye Joo yang sudah melewati pintu.

“Sombong sekali dia!” ucap salah satu siswa yang berkucir kuda. Gadis itu berdiri di sebelah Hara mengusap punggung gadis itu.

“Dia pikir dia siapa?” suara gadis lainnya terdengar, terlihat sangat kesal dengan sikap Hye Joo barusan. Mereka semua berusaha menenangkan Hara yang masih tampak sedih. Hara memang terkenal dengan gadis ceria yang selalu berteman dengan siapa saja. Gadis itu termasuk populer di sekolah. Bukan saja karena prestasinya, tapi juga karena kepribadiannya yang baik.

Jongin yang sedari tadi hanya menonton, memandang punggung Hye Joo yang sudah menghilang. Tak menyangka, ternyata ada orang yang lebih jahat darinya. Untuk ukuran murid baru, dia memang keterlaluan. Ya…mungkin dia dan gadis itu sama saja. Tapi sampai mengabaikan gadis yang sudah berniat baik padanya sedikit keterlaluan memang. Pria itu hanya mengangkat bahunya tak peduli, keluar dari kelasnya.

***

Jongin mengangkat tangannya, ketika menemukan Sehun yang sudah duduk manis di meja cafeteria sekolah. Pria itu tidak sendiri, ada beberapa siswa disana. Sangat jarang mungkin, melihat Oh Sehun duduk sendirian. Dia memang paling pandai bersosialisasi.

Pun Sehun melakukan hal sama. Mengangkat tangannya dan menyuruh Jongin untuk cepat datang ke tempatnya. Jongin berjalan santai, melewati beberapa meja. Disertai dengan lirikan oleh siswa yang lain.

Dia mengambil tempat duduk di hadapan Sehun. Disebalahnya ada Tao, merupakan siswa Transfer dari Cina. Dia memiliki banyak bakat. Selain bisa menari pria itu juga pintar bela diri. Sedangkan di sebelah Tao, ada Suho. Pria kaya raya yang memilki suara lumayan. Dia memang tidak terlalu pintar dalam pelajaran tetapi dia kaya. Itulah yang membuatnya populer. Ditambah dengan tampangnya yang menarik. Dan tak akan pernah ketinggalan. Lee Sera—partnernya yang duduk di sebelah Sehun.

Mereka memang sering duduk di satu meja. Seperti kumpulan anak-anak populer. Namun, sangat jarang Jongin terlibat dalam obrolan mereka. Biasanya ia hanya menjadi pendengar, kalau memang pembahasannya menarik maka akan ditanggapi.

“Setelah latihan kalian ingin pergi bersamaku?” tanya Suho mulai bersuara, membuat perhatian ketiga siswa itu beralih padanya. Sehun terlihat sangat antusias dengan ajakan Suho sedangkan Tao yang masih terbilang baru di Korea hanya mengernyit bingung. Lee Sera—gadis satu-satunya itu memutar bola matanya kepalang mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Dan Jongin, terlihat tak peduli sama sekali.

“Kemana? Aku harus mengabari Ibuku jika ingin berpergian” ujar Tao dengan polosnya. Yang membuat Sera menahan tawanya. Lain dengan Suho dan Sehun yang sudah melepas tawa mereka. Dan sekali lagi Jongin sama sekali tak ingin peduli.

“C’mon Tao! Apa kau masih dipakaian baju oleh orang tuamu?” ejek Sehun.

Tao mengerecutkan bibirnya, memandang pemuda berkulit putih itu kesal.

“Jangan tertawai aku!” rengutnya kesal.

Sehun menghentikan tawanya” Okay, santai saja man! Ini adalah tempat yang paling disukai pria? Kau pasti menyukainya” ujar Sehun meyakinkan Tao. Saling lirik dengan Suho meminta pria itu untuk membantunya meyakinkan Tao.

“Masalah ibumu, Hey bilang saja kau mengerjakan tugas di rumahku” saran Suho.

Pria Cina itu terlihat ragu, memandang Sehun dan Suho bergantian sebelum akhirnya menghela nafas pasrah “Aku ikut”

Sehun dan Suho saling berhigh-five, sangat senang karena memiliki teman baru. Kalau Jongin tidak usah terlalu diharap. Dia akan pergi jika ingin dan tidak kalau tidak ingin. Sesederhana itu.

“Kalian sudah mendengar tentang anak baru?” tanya Tao mulai melahap saladnya.

Sehun yang sedang memainkan sedotan memandang Tao bertanya “anak baru?”

“Aku melihatnya tadi pagi. Keluar dari mobil mewah. Aku yakin orang tuannya pasti kaya” ujar Suho menimpali.

“perempuan?” tanya Sera yang sedari tadi diam yang dibalas Suho dengan anggukkan kecil.

Jongin yang sedari tadi memainkan ponselnya, melirik mereka dengan ekor matanya. Menajamkan indera pendengarannya. Entah kenapa, dia sedikit tertarik dengan obrolan yang dilakukan teman-temannya

“Apa dia cantik?” Sehun mengangat sudut bibirnya menatap Suho mengerling.

“Cantik” jawab Suho singkat.

Sehun menegakkan tubuhnya bersemangat untuk mendengar informasi lebih rinci “dia mengambil masuk dapartement apa? Apa kau sudah berkenalan dengannya?”

Sera berdecak menyikut lengan Sehun “kau memang tak pernah melewatkan gadis cantik, Oh Sehun” yang di balas Sehun dengna cengiran khasnya.

“Aku tidak tahu” ujar Suho mengangat bahunya.

Pria kulit putih itu mendesah kecewa. Padahal ia sudah menyiapkan rencana untuk menarik perhatian gadis itu. Berbeda dengan Jongin yang kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Dia bukan orang suka ikut campur masalah orang lain. Malah cenderung apatis.

Namun ada sesuatu yang aneh dirasakan Jongin. Gadis itu benar-benar membuatnya penasaran. Sorat matanya yang dingin masih terakam jelas di benaknya. Lagi-lagi pria itu menggelengkan kepalanya. Merutuk diri sendiri karena sikapnya.

Hentikan sampai disini. Dia tak akan pernah peduli pada urusan orang lain. Terlebih lagi dia adalah seorang gadis yang ingin bunuh diri.

***

Luhan membaca kertas yang diberikan Miss. Summer padanya. Berisikan jadwal serta profil singkat tentang gadis itu. Namanya Han Hye Joo, lahir di Los Angeles, 9 April 1999. Melihat fotonya, dia mengakui kalau gadis itu cantik dan menarik. Hanya saja tatapan dingin serta tak ada setitik senyum pun di wajahnya membuat gadis itu sedikit misterius.

            Karena mereka ada di dapartement yang sama dan Miss. Summer sengaja membuat jadwal latihan Hye Joo sama sepertinya akan sangat mudah baginya mengawasi gadis itu. Luhan mulai berpikir, nantinya dia pasti terlihat seperti penguntit kalau hanya mengawasi gadis itu. Haruskan mencoba untuk berteman dengan gadis itu?

Sebenarnya Luhan sedikit penasaran, apa yang terjadi pada gadis ini? hingga Miss. Summer memintanya untuk mengawasi gadis itu.

“Apa yang kau lihat?” Luhan tersentak kaget, mendapati Naya dan Chanyeol yang berdiri di sebelahnya. Dengan cepat, pria itu memasukan kertas itu ke dalam loker dan menutupnya.

“Nothing” katanya singkat, tersenyum kikuk, mengajak kedua temannya itu untuk pergi. Naya dan Chanyeol saling melirik kemudian mengangkat bahu mereka. Menyusul Luhan yang sudah beberapa langkah di depan mereka.

            Naya dan Chanyeol adalah teman dekat Luhan. Naya ada adalah teman Luhan sejak kecil, mereka sempat berpisah selama tiga karena Luhan pindah ke Baeijing dan kembali untuk sekolah di Sunhwa Art School. Sementara Chanyeol, dia mengenal Chanyeol saat mendaftar dan mengikuti audisi. Semenjak itu mereka mulai dekat.

“Kalian tahu, kalau Odette dan pangeran Siegfried telah kembali ke sekolah?!” ujar gadis itu, mencibir. Berjalan diantara Luhan dan Chanyeol.

“What do you mean?” tanya Luhan menoleh pada Naya sebentar tak mengerti.

“Lee Sera dan Kim Jongin” jelas Chanyeol.

“Oohh” kata Luhan santai.

Naya menatap Luhan kesal “Seriously Luhan, Just Oh?” gadis itu menghentikan langkahnya. Membuat kedua pria itu ikut berhenti dan memandang Naya yang sudah berada di puncak kekesalannya.

Luhan menghela nafas, dan mendekati gadis itu “Nay—“

“Kau tahu Dapartement tari semakin hari, semakin besar kepala karena Si jalang Lee Sera dan Si brengsek Kim jongin berhasil tampil di Rusia?” potong gadis itu cepat dengan kemarahan yang jelas. “Hanya karena kita tidak pernah mendapat kesempatan untuk membuktikan kalau kita bisa, bukana bearti mereka bisa merendahkan kita seperti itu” lanjutnya dengan kemarahan yang sudah mendidih.

            Luhan dan Chanyeol hanya diam, sudah kepalang mengerti dengan sifat gadis itu. Naya adalah gadis gadis yang luar biasa menyenangkan. Terlepas dari tempramennya yang buruk serta betapa keras kepalanya gadis itu.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan lagi untukku? Mereka mengatakan kalau Dapartement music is nothing!” serunnya mengkahiri kata-katanya. Gadis berambut hitam itu menghembuskan nafas kesal.

            Bukan maksud Naya, untuk bicara keras pada Luhan. Sungguh dia tak bermaksud seperti itu. Hanya saja, tanggapan Luhan tadi benar-benar membuatnya kesal. Tadinya dia berharap Luhan akan merespon hal yang berbeda, setidaknya pria itu akan mengatakan hal-hal yang bisa melegakan dan menyemangatinya, seperti Luhan yang biasanya. Karena hanya Luhan yang bisa melakukannya.

“Hanya kau bisa menenangkannya, man” bisik Chanyeol menepuk pundak Luhan pelan. Memberikan sedikit semangat pada Luhan. Bukan pemandangan yang baru bagi Chanyeol, melihat Naya yang pemarah dan Luhan yang menjadi penenangnya.

“Naya” Luhan memanggil nama gadis pelan, tapi gadis itu masih berada dalam kekesalannya.

“Naya” sekali Luhan memanggil nama gadis itu.

Akhirnya Naya menyerah dan menoleh pada Luhan “Okay…Luhan I’m sorry…aku tidak bermaksud untuk—“

“It’s Okay Naya” kata Luhan sambil tersenyum.

            Naya balas tersenyum, tiba-tiba kekesalannya berubah dengan rasa nyaman yang di berikan Luhan. Sejak kecil dia selalu berada di samping Luhan, dia merasa sangat beruntung karena bisa mengenal Luhan. Dan entah sejak kapan, Naya mulai terbiasa dengan itu.

To be continued..

Advertisements

2 comments

  1. Haduhhh sempet baper liat covernya huhuhh,tp ga papa lah krna critanya oke ,keknya bakal complicated dehh,kak knp tu si ohsehh dijadiin cwo sialan bangsat *opss (sialan gantengnya sialan cutenya sialan sexynya -..ehh pokoknya okkelah ,lanjutkannn kaka,fighting^^

  2. eh si sehun jadi bad boy disini 🙂
    tapi seneng deh, dia ttep dipasangin sama sera kan kak???
    itu si naya kyaknya suka sama luhan deh 🙂
    kai dan hye jo masih misterius, tp kyknya si kai udh mulai tertarik deh….
    ditunggu next nya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s