Insane [3]

Insane

Starring :

Oh Sehun – Lee Sera – Kim Jongin

Xi Luhan – Han Hye Joo

Park Chanyeol – Candice Kim

Byun Baekhyun – Cho Naya

Genre:

AU, Romance, Angst, Dark, Friendship, Family, Drama.

Written by:

Dee’s

Prev: Déjà vu, The Shadow

 

Now present > First step

“If you hadn’t found me, I would have found you” —unknown

 

                Siang ini harusnya sama seperti siang-siang sebelumnya. Menguras tenaga, menguras pikiran dan tentu saja membosankan. Sehun punya banyak pekerjaan yang harus ia urus. Menjadi penerus suatu perusahaan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kehidupannya terasa monoton dari hari ke hari; membaca berlembar-lembar dokumen, memimpin rapat, membuat kesepakatan bisnis dengan perusahaan lain –semua kegiatan itu terulang nyaris setiap harinya.

            Menjadi pewaris memang bukan keinginannya, tapi dia tahu kalau itu adalah kewajibannya. Sehun memimpin Volkswagen dengan baik. Dia selalu memenangkan setiap tender, entah dengan cara murni atau pun dengan cara kotor –Sehun tidak peduli. Dia tidak pernah menyukai kekalahan. Dia selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna, dan menunda pekerjaan bukan dirinya sekali. Sehun’s the real workaholic.

            Sehun melirik arlojinya –jam satu lewat lima belas siang. Dia seharusnya berada di ruang rapat saat ini. Naya sudah berulang kali mengirim pesan hanya untuk mengingatkannya dengan rapat siang ini. Namun hujan di luar menarik dirinya untuk mampir ke kedai kopi langganannya. Coffe Smith yang terletak di kawasan Hongdae selalu memberi kesan tersendiri baginya.

            “Americano satu”

            “Americano satu”

            Suara mereka mengalun bersamaan. Sehun mengalihkan perhatiannya, niatnya untuk membalas pesan Naya terhenti ketika melihat siapa yang berdiri di sampingnya. Gadis itu Lee Sera. Gadis yang sempat begitu percaya jika mereka penah saling mengenal dulu.

            “Tidak menyangka bertemu disini” Sera menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Sepasang netranya menawarkan kehangatan dan guratan wajahnya terlihat lebih cerah jika dibandingkan dengan kemarin. Dia menjadi orang pertama yang membuka percakapan, membuat Sehun berpikir apakah saat ini dia berhadapan dengan seseorang yang memiliki wajah serupa dengan Lee Sera ? Pasalnya, tidak ada lagi sinar terluka dan kecewa di balik iris hitam pekat itu.

            “Apa yang kau lakukan disini ?” Sehun menyilangkan tangannya di depan dada, sementara Sera terkekeh kecil. Mereka memutuskan untuk duduk di meja yang sama sambil menunggu hujan reda –ahh tidak, Sera lah yang sedikit memaksa. Gadis itu bilang kalau minum kopi sendirian rasanya membosankan. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu ? Pria sepertimu lebih mencintai pekerjaan biasanya”

            “Kau sepertinya memiliki banyak pengalaman dengan jenis pria sepertiku”

            “Am I ?” Sera memiringkan kepalanya, pura-pura tersinggung sebelum kembali terkekeh. Dia tidak menyangka Sehun akan menyindirnya seperti itu. Bagaimana pun Sehun adalah pria dingin dan nampak tidak pedulian. Ekspressi wajah yang dimilikinya tidak pernah terbaca, dia tipikal orang yang sukar dimengerti. Memasuki kehidupannya sepertinya tidak semudah yang Sera bayangkan. “Aku terlahir dari keluarga yang lebih mencintai bisnis dari pada anak kandungnya. Pria-pria di lingkunganku lebih sering berkencan dengan tumpukan dokumen mereka”

            “Bagaimana dengan kekasihmu ?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Sehun beralih menyesap Americanonya agar terlihat lebih santai, dan melirik milik Sera yang masih utuh. Gadis itu tidak menyentuh minumannya sama sekali.

            “Apa kau mulai tertarik dengan kehidupan pribadiku ?” Sera mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun. Netranya mengamati wajah kaku pria itu dan entah bagaimana sesuatu yang konyol terlintas di kepalanya –Dia senang menggoda Sehun. “Bagaimana dengan gadis kenalanmu yang memiliki nama serupa denganku ? Dimana dia sekarang ? Apa dia lebih cantik dariku ? Apa menatapku mengingatkanmu padanya ?”

            Sehun menarik sudut bibirnya, dia menyeringai. Tubuhnya ikut mencondong hingga spasi diantara mereka hanya sebatas satu jengkal. Sera ingin menarik diri, tapi netra Sehun keburu menguncinya. Dia selalu dibuat terpesona dengan manik itu.

            Ada jeda beberapa detik yang digunakan Sehun untuk menatap manik gadis itu sebelum menggeser tubuhnya semakin mendekat, mencari daun telinga yang tersembunyi dibalik helaian rambut “Apa kau masih tertarik mendengar alasan kenapa aku disini ? Gadis itu, Lee Sera, dia sangat menyukai tempat ini.

            “Tapi dia tidak suka Americano. Dia mencintai Caramel Macchiato”

***

            Sera menghempaskan tubuhnya pada jok kendaraannya, tangannya mencengkram erat kemudi sebelum sepasang netra itu beralih pada dokumen bersampul merah yang tergeletak di atas kursi penumpang. Itu adalah catatan riwayat hidup milik Oh Sehun yang diberi Hye Joo semalam sebagai bekal pehaman hidup pria itu, dimulai dari yang paling basic seperti hari kelahiran dan golongan darah, ketertarikannya akan sesuatu sampai prestasi pencapaiannya. Semuanya terlampir secara detail kecuali catatan latar belakang pendidikannya.

            Sera tertarik untuk membaca ulang berkas itu –hanya pada halaman ketertarikan pria itu akan sesuatu. Tertulis disana Coffee Smith sebagai kedai kopi yang paling sering dikunjunginya dan Americano sebagai minuman favoritnya. Itu adalah alasan kenapa Sera bisa berada disana dan memesan menu yang sama pula. Dia baru saja membuat langkah untuk memasuki kehidupan pria itu, dan berpura-pura memiliki kesamaan yang sama memungkinkan dirinya memasuki kehidupan pria itu secara halus. Kebetulan yang sengaja diatur, dapat membentuk suatu kedekatan yang menjadi tujuan pencapaiannya dalam misi ini.

            Well, Dia sudah memutuskan untuk bersaing dengan pria itu. Memasuki kehidupannya secara perlahan, membuat pria itu terlena dengan pesonanya, lalu menghancurkannya dan menjadikan Hyundai sebagai pemenang sebagaimana misi yang seharusnya. Seharusnya tidak ada alasan lagi baginya untuk merasa ragu dalam menghancurkan pria itu. Pernyataan yang diberi Sehun kemarin sudah cukup untuk menjawab kuriositasnya, bahwa mereka hanya orang asing dan tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

            Tapi kenapa ? Kenapa Lee Sera yang dikenal Oh Sehun memiliki ketertarikan yang sama dengan dirinya ? Kenapa mereka harus sama-sama menyukai Macchiato dan membenci Americano hanya karena minuman itu terasa pahit ? Kenapa mereka harus memiliki pemikiran yang sama akan sesuatu dan kenapa… saat membicarakan tentang Lee Sera, dia merasa Sehun seakan sedang membicarakannya. Sebenarnya, takdir macam apa yang sedang mempermainkannya saat ini ?

            Sera berjengit kaget ketika dering ponsel menghancurkan lamunannya. Nama Jongin tertera di layar sana dan dia refleks menarik napas sambil memejamkan matanya setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.

            “Jo ?”

            “Dimana, sayang ?” Sera terdiam selama beberapa sekon. Dia menggigit bibir bawahnya, nampak ragu untuk mengatakan lokasinya saat ini. Sera punya dua alasan untuk tidak berkata jujur akan lokasinya; Pertama, dia sedang ingin sendiri untuk menenangkan pikirannya yang kembali dikacaukan oleh Oh Sehun. Dia tidak mau Jongin menemuinya, meski dia tidak yakin pria itu akan menyusulnya kemari.

            Kedua, dia tidak mau Jongin sampai tahu kalau dia baru saja menghabiskan beberapa waktu bersama Oh Sehun. Jongin tidak akan suka melihatnya dengan pria lain. Pria itu bisa berubah sangat protektif.

            “Aku melihat mobilmu di sekitar Hongdae –di depan Coffee Smith” Jongin menambahkan, membuat Sera tidak punya pilihan lain selain berkata jujur. “Aku berteduh sebentar sekalian minum kopi. Sekarang–” kalimat Sera terhenti ketika seseorang mengetuk jendela mobilnya dan sosok Jongin tertangkap netranya. Gadis itu buru-buru menyimpan mapnya, lalu melanjutkan kalimatnya seringan mungkin “–Sekarang kau mengagetkanku.”

            Jongin terkekeh, matanya menyipit. “Come out” katanya sambil mengedikkan kepala. Dia telah menanggalkan jasnya dan hanya tersisa kemeja hitam yang melekat di badan. Tubuhnya yang tegap menjulang tinggi saat Sera turun dari mobil dan berhadapan dengannya.

            “Bagaimana kau bisa berada disini ?” Sera tidak dapat menahan kuriositasnya. Pertanyaan itu terungkap begitu saja dari mulutnya. Dia ingin terlihat senormal mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Jongin, namun agaknya dia gagal menutupi nada bicaranya. Suaranya terdengar cemas.

            “Aku tidak sengaja lewat” Jongin mengedikkan bahunya. Dia tidak membahas lebih jauh mengenai kehadiran Sera disini, tidak juga menampakkan kesan curiga. Gadis itu bisa bernapas lega sekarang. “Kau masih punya schedule ?”

            Sera menggeleng, namun juga mengangguk di detik berikutnya. Dia lalu buru-buru menjelaskan “Aku harus menemui Candice. Dia bilang aku sudah bisa fitting untuk Fashion Week nanti”

            “Hanya itu ?” Sera mengangguk. “Kau bisa menemui Candice nanti” sambung Jongin. Jemarinya bermain di helaian rambut Sera yang tertiup angin, sementara netranya menatap gadis itu. “Kita bisa bersenang-senang sore ini. Aku akan menghubungi seseorang untuk membawa pulang mobilmu”

            “Kau tidak sibuk ?”

            “Aku sudah membuang tiga bulan lebih waktuku untuk mengurus mereka dan mengabaikanmu. Sekarang saatnya aku menjagamu” Jongin tersenyum dan Sera memejamkan mata saat bibir pria itu menyentuh pelipisnya. “Aku akan menghabiskan waktu sesering mungkin denganmu”

***

            “Was she doing well ?” Hye Joo tidak terlalu suka basa-basi. Ketika dia menyetujui sesuatu, maka ia akan langsung pada intinya. Apalagi ketika dia berhadapan dengan Luhan yang memiliki sifat berbanding dengannya, pria itu sangat suka berbasa-basi dan sengaja mengulur waktu pertemuan mereka.

            “She, who ?”

            “That little damn girl!” Hye Joo menggeram. Bibirnya enggan menyebut nama yang serupa racun dalam hidupnya. Gadis kecil itu hanya pengacau dan Hye Joo harus menyingkirkannya sebelum takdir semakin mempermainkannya dengan tidak adil.

            “Your little sist ?” Luhan menjengitkan sebelah alisnya. Dia tahu betul siapa yang dimaksud Hye Joo, namun lantaran ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama gadis itu, dia sengaja berlagak lugu. “Kupikir kalian seumuran, eh ? kau hanya tua beberapa bulan darinya” Luhan menyeruput kopinya untuk mengambil jeda. “She’s doing well. Dia gadis yang menyenangkan meski dibeberapa sisi memiliki kemiripan denganmu. Kalian sama-sama angkuh, omong-omong”

            “Semua orang menyukainya” Hye Joo mencibir, lebih seperti merendahkan. Orang-orang yang mendengarnya akan beranggapan bahwa Han Hye Joo sangat membenci Sera. Itu benar, Hye Joo memang membenci Sera. Sangat membencinya hingga rasanya dia ingin mengakhiri eksistensi gadis itu. Dia berpikiran tidak seharusnya Sera lahir ke dunia, gadis itu hanya racun.

            “Aku lebih menyukaimu” Luhan menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Ucapannya serupa obat penenang dalam kegelisahan, yang sayangnya ditolak oleh Hye Joo. Gadis itu membuang muka ke kaca besar di sisi mereka, memandang jalanan lembab yang habis diguyur hujan beberapa waktu lalu. “Sayangnya, hatiku sudah membeku. Kau menyukai orang yang salah” Hye Joo mengalihkan atensinya. Netranya yang menggelap menatap Luhan. Pemandangan di luar sana membuat sisi gelap dalam dirinya semakin mendominasi dan keinginannya untuk menghancurkan Lee Sera semakin kuat.

***

            Ada yang berbeda dari Jongin, namun Sera tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Dia sendiri tidak yakin dengan apa yang membuat pria berkulit tan itu nampak berbeda. She’s clueless. She’s really clueless about everything happened around her. Dan sialnya, tidak ada satu orang pun yang berniat memberinya sedikit titik terang selain meninggalkan jejak yang menarik kuriositasnya.

            “Kemari. Kau bisa hilang diantara mereka jika berjauh-jauhan dariku” Jongin menarik tubuh Sera hingga gadis itu merapat padanya, lantas memeluk pinggang gadisnya dengan cara yang posessif. Rautnya ketara sekali menahan tawa saat Sera menunjukkan ekspressi layaknya anak anjing yang tersesat diantara lautan manusia.

            Sera tidak memberi penolakan. Meski merasa ada yang aneh, tetap saja dia menerima rangkulan Jongin dengan suka cita. Dia menyetujui pendapat kekasihnya. Dia bisa saja tersesat diantara orang yang berlalu-lalang kalau berjalan berjauh-jauhan dari pria itu. Bagaimana pun, jalanan di sekitar Hongdae terlalu ramai—bahkan terkesan padat di pekan sore seperti sekarang.

            Well, Sera bukannya parno dengan keramaian. Dia hanya tidak biasa menyusuri sudut-sudut kota Seoul dengan berjalan kaki seperti yang sering dilakukan muda-mudi kebanyakan. Dia tidak pernah mengunjungi outlet-outlet makanan dipinggir jalan, tidak pernah melihat pertunjukkan anak-anak street dance yang mengesankan, tidak pernah juga masuk ke dalam photobox dan membuat gambar-gambar lucu bersama Jongin pun teman-teman terdekatnya.

            Kehidupan Sera terlalu ekslusif dan dia juga yakin Jongin menjalakan kehidupan yang serupa dengannya. Orang-orang seperti mereka mana pernah melakukan ‘kencan rakyat’. Kenapa ? karena di dunia mereka, tidak berlaku yang namanya kebahagiaan. Berkencan dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hanya membuang waktu. Pada akhirnya, mereka akan menikah dengan pasangan yang dipilihkan oleh orang tua mereka demi mengembangkan sayap-sayap perusahaan.

            Namun hari ini, Jongin melakukan semua itu untuknya. Mereka menyusuri Hongdae, mampir ke kedai makanan di pinggir jalan, merasakan bagaimana pedasnya ddeobokki, menonton aksi anak-anak street dance, membeli sepasang gantungan ponsel-yang-bukan-Jongin-sekali, sampai membuat foto-foto lucu dari photobox.

            Semua yang dilakukan Jongin terasa asing, namun jenis asing yang menyenangkan. Tidak ada larangan, tidak ada kata-kata diktator, dan tidak ada kesan curigaan. Yang ada hanya Jongin dengan kekehan manisnya serta lelucon yang membuat Sera tertawa dan merasa rileks.

            “Kau terlihat seperti Monggu. Matamu, senyummu dan telingamu. Kalian mirip sekali” Sera tidak berhenti berceloteh tentang hasil photobox mereka. Wajahnya sampai merona lantaran terlalu bahagia. “Aku harus berhati-hati dengan Monggu mulai sekarang. Bisa saja kau lebih menyukainya karena kami mirip”

            “Yang benar saja, Jo. Monggu itu anjing”

            Jongin terkekeh. Dia mengecup pelipis Sera dan berkata kalau gadis itu menggemaskan sekali saat sedang bersungut.

            Bagi Jongin, mengambil alih dunia Sera bukan suatu perkara sulit. Dia hanya perlu mengerti gadisnya dan memberi apa yang gadis itu butuhkan. Lantas tanpa sadar gadisnya akan hanyut dalam kebahagiaan dan lupa dengan apa yang harusnya dia kerjakan. Karena satu-satunya kebutuhan dalam dunia Sera, hanyalah sebuah kebebasan.

***

            Sehun bukan orang baik. Dia tidak sebersih penampilannya yang serupa malaikat dengan paras sempurna itu. Beragam cara kotor semacam kebohongan sering diciptanya demi mencapai kemenangan. Perasaan-perasaan mengganjal seperti merasa bersalah atau semacamnya pun, tidak pernah menghantuinya. Namun Sehun tidak pernah tahu jika membohongi cintanya akan terasa semenyakitkan ini. Berpura-pura tidak mengenal ketika mata saling menatap, padahal sosok itulah yang menjadi penantian selama ini.

            Sehun masih ingat, bagaimana sepasang obsidian milik gadis itu menatapnya beberapa hari yang lalu. Mencecar miliknya hanya untuk menemukan kebohongan yang berhasil disimpannya dengan apik, hingga berujung pada kekecewaan. Gadisnya terluka, sorot matanya menggambarkan betapa lelah dirinya dipermainkan oleh takdir. Tapi Sehun tidak bisa melakukan apa-apa selain bertahan dengan topeng kebohongannya.

            Sehun takut jika dia kembali gegabah seperti malam itu, Sera akan membencinya dan gadis itu akan benar-benar pergi tanpa pernah kembali. Sehun ingin bermain halus, dia ingin memasuki kehidupan Sera secara perlahan. Tapi nyatanya menahan diri untuk tidak memeluk gadis itu dan bertahan dengan topeng kebohongannya, menyiksa dirinya lebih dalam.

            “Gadis itu, apa yang terjadi padanya ?”

            Sehun mengangkat kepala, fokusnya yang sempat menatap kosong gelas berisi cairan kekuningan itu kini beralih pada bartender yang biasa melayaninya tiap kali ia mengunjungi The A. Pria itu juga pria yang sama dengan yang melayani pesanan Sera malam itu, dia menjadi salah satu saksi hidup dari kebodohan yang Sehun perbuat.

            “She has found her happiness” kekehan sumbang lolos dari bibir Sehun, potongan drama picisan yang dilakoni Sera dan Jongin di depan Coffee Smith siang tadi kembali berputar dalam ingatannya. Menorehkan luka dan penyesalan yang seharusnya tidak pernah dicecap oleh perasaannya yang telah membatu.

            Memang benar Sehun melepas Sera demi kebahagiaan gadis itu. Namun dia terlalu naif saat itu. Dia masih terlalu muda. Dia tidak mengerti cara memperjuangkan. Dia tidak tahu jika merelakan sesuatu akan berdampak sesakit itu. Yang dia tahu hanya, dia menganut paham bahwa cinta tidak harus memiliki dan kebahagiaan Sera adalah prioritas utamanya.

            “Kau suka sekali minum sendirian”

            Sehun menolehkan kepalanya yang terasa berat ke sumber suara dan menemukan Lee Sera tengah menegak habis cairan kekuningan yang berhasil direbut gadis itu dari tangannya. Gadis itu beralih duduk disampingnya tanpa perlu repot-repot meminta izin. Tubuhnya yang proporsional hanya dibalut dengan hotpants dan top knit putih yang dilapisi jaket levis. Sebagian perutnya terekspos dan rambutnya sengaja dikuncir kuda.

            Alih-alih terlihat seperti model, dia lebih menyerupai agen mata-mata wanita yang sedang menyamar. Well, sebenarnya apa bedanya Sera dengan agen mata-mata ? toh tujuannya mendekati Sehun memang untuk memata-matai pria itu.

            “Aku penasaran, sebenarnya kau tidak punya teman untuk diajak minum atau kau memang seorang introvert yang mengisolasi diri dari lingkungan sosial ?” Sera menumpu kepalanya dengan satu tangan sementara sebagian tubuhnya menghadap Sehun. Jika setiap orang memiliki kekuatan super, dia ingin sekali memiliki kemampuan membaca pikiran. Dia ingin menembus pikiran Sehun yang bak diary bergembok itu —sama sekali tidak terbaca.

            “Aku penasaran, apa kau seakarang sedang memata-mataiku ?” Sehun menjawab dengan pertanyaan, matanya memandang Sera dengan jenis pandangan menusuk. Membuat tubuh gadis itu mendadak menegang. Dia terlalu gugup. Bibirnya terkatup rapat, jantungnya berpacu cepat dan sialnya kinerja otaknya melambat hingga dia tidak mampu berpikir untuk mencari respon yang tepat.

            Bagaimana bisa… Sehun berpikiran sampai kesana ?

            Oke, santai Sera. Santai.

            Sehun nyaris mabuk. Orang mabuk biasanya bicara asal.

            “Kau terlalu sering muncul di hadapanku” Sehun menambahkan. Sorot matanya memandang Sera tak suka sementara ekspressinya menunjukkan kalau dia merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu di sekitarnya.

            “Kau terlalu sering muncul di tempat yang aku kunjungi” Sera membasahi bibirnya, dia mencoba bicara setenang mungkin. “Baiklah, kusimpulkan kau seorang introvert”

            “Itu kau tahu” Sehun membalas sarkastik. Kepalanya yang berat terasa semakin berat mendengar celotehan Sera. Sehun bukannya tidak suka dengan kehadiran Sera, hanya saja gadis itu muncul disaat yang tidak tepat. Sehun sedang berada dalam pengaruh alkohol, sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi kalau dia sampai lepas kendali. Apalagi, jiwanya sudah kelewat merindu.

            “Pergilah, aku tidak suka diganggu”

            “Kalau aku tidak mau ?” Netra Sera menantang milik Sehun, membuat pria itu berdecak tidak suka. Gadis ini suka sekali menguji kesabaran, pikirnya. Namun belum sempat Sehun menyerukan pikirannya, Sera sudah keburu menyela “Ini tempat umum, oke. Kau bukan satu-satunya orang yang merasa bosan dengan kehidupanmu, tapi aku juga. Aku juga muak dengan kehidupanku dan aku butuh hiburan”

            Sehun tidak berniat memotong saat Sera menyerukan kepenatannya. Kepalanya mungkin sudah terasa pusing bukan main, tapi dia masih cukup sadar untuk mengingat setiap kata yang meluncur dari bibir gadis itu. Hanya saja, Sehun tidak mengerti kenapa gadis itu merutuki kehidupannya di depannya. Apakah Sehun terlihat seperti orang yang suka mendengar keluhan hidup orang lain ?

            “Fine, aku yang pergi” Sehun melempar berapa lembar won ke atas meja, lagaknya sombong sekali. Sera sampai memandang pria itu dengan mata menyipit yang menyiratkan rasa tidak suka. “Anggap saja sisanya untuk mentraktir gadis ini” pesannya pada Joon —si bartender yang biasa melayaninya.

            Sera tidak bergeming di tempatnya. Netranya mengikuti punggung Sehun yang mulai berbaur dengan lautan manusia teler lainnya.

            ‘Gadis ini’ katanya ? Ayolah Sehun tahu jelas siapa nama Sera, mereka sudah bertemu beberapa kali. Namun melihat cara pria itu yang enggan menyebut namanya, membuatnya merasa agak dongkol. Mereka seperti tidak saling mengenal dan baru bertemu kali ini saja.

            “Mau pesan apa ?”

            Suara Joon yang mengagetkan menghentikan kegiatan Sera menyumpah serapahi Sehun. Fokus gadis itu beralih “Apa saja” jawabnya tidak sabaran. “Apa saja yang ringan-ringan. Aku sedang tidak tertarik untuk mabuk” ralatnya kemudian.

            Joon terkekeh sambil berlalu. Tidak sampai lima menit pria berkulit agak gelap dan berotot itu mengangsurkan segelas Lychee Martini padanya.

            “Thanks”

            Joon mengangguk. Pria itu terlihat tidak tertarik melayani pelanggan yang lain dan malah melipat kedua tangannya di atas meja bar dengan tubuh mencondong ke arah Sera seolah berbincang dengan gadis itu menjadi hal yang sangat menarik “Kau gadis kedua yang mendapat perlakuan khusus darinya”

            Sera mengambil tegukan Martini pertamanya, keningnya menunjukkan kerutan. Sejatinya dia sudah bosan mendengar orang-orang berbicara dengan bahasa kode yang tidak dimengertinya. Dia ingin sekali bersikap tak acuh dan tidak menunjukkan ketertarikan yang berarti. Namun pikirannya tak mau sejalan dengan keinginan. Gerak tubuhnya selalu memberi respon yang menunjukkan ketertarikan dan dia sendiri juga tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia tidak peduli pada apapun yang terjadi disekitarnya. She gets curious easily.

            “Siapa gadis pertama ?” Sera bertanya dengan gamblangnya. Dia tidak peduli jika Joon akan berpikiran yang aneh-aneh tentangnya. Pikiran aneh semacam drama picisan dimana dia berperan sebagai kekasih Sehun yang cemburu lantaran ada gadis lain yang menarik perhatian pria itu.

            “Seseorang yang memiliki karakter serupa denganmu” Joon menjawab dan Sera memutar jengah bola matanya. Jawaban yang diberi Joon tidak memuaskan sama sekali. “Satu-satunya gadis yang berani menentangnya dan membuatnya mengalah seperti yang kau lakukan tadi”

            “Haruskah aku merasa tersanjung ?” Sera menjengitkan sebelah alisnya sementara Joon kembali terkekeh. Sebenarnya Sera tidak mengerti apa yang lucu dari obrolan mereka hingga Joon terkekeh seperti itu. Tapi yeah, biarlah. Joon terlihat lebih manusiawi saat tertawa seperti itu. Dia jadi tidak terlihat semengerikan penampilannya yang seperti preman dengan tato-tato abstrak disepanjang lengan kanannya.

            “Kau seharusnya mencaritahu kenapa dia bersikap begitu padamu”

            “Aku tidak tahu apakah tidak masalah jika aku membocorkan ini padamu, tapi aku bekerja untuk anak perusahaannya. Kami adalah partner kerja”

            Joon hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. “Kau lihat pria yang sedang berkacak pinggang di sudut sana ?” katanya sambil mengarahkan telunjuk. Sera secara refleks mengikuti arah yang diinteruksikannya. “Priamu biasa membeli gadis dengannya dan kau tidak akan pernah tahu apa yang dilakukannya dengan gadis-gadis itu”

            “Dia bukan priaku” Sera berdecak. Sepasang kaki jenjangnya tanpa sadar melangkah ke arah yang ditunjuk Joon. Semakin dia mendekat, semakin jelas sosok jangkung Sehun dalam pandangannya.

            Pria serupa manusia kutub itu sedang berbincang dengan pria tambun yang dimaksud Joon tadi dan Sera tahu persis apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Transaksi. Transaksi jual-beli wanita.

            “Seperti biasa. Bawa dia ke mobilku, aku akan menunggu di parkiran” Sehun berkata dingin. Dengan sisa kesadarannya dia mencoba sekuat mungkin menahan rasa sakit di kepala.

            “Jadi karena ini kau mengusirku ? Kau tidak mau aku membeberkan keburukanmu ?” Sera melipat kedua tangan di depan dada, fokusnya menghakimi Sehun. Dia merasa begitu percaya diri lantaran berhasil mengintimidasi pria itu.

            “Tutup mulutmu” Sehun menggeram. Dia tidak banyak memberi komentar lantaran kepalanya sudah berputar-putar seolah dunia akan runtuh saat itu juga. Dia tidak mengerti kenapa Lee Sera suka sekali muncul ketika sisi gelap dalam dirinya sedang mendominasi “Menyingkirlah, aku tidak punya keperluan denganmu”

            “Keadaanmu sedang tidak baik” Sera mencekal lengan Sehun. Netra gadis itu memandang miliknya yang sudah memerah lantaran terlalu banyak mengkonsumsi alkohol dan menahan pusing. “Bukannya sampai di rumah, kau malah akan berakhir di pemakaman. Well, minimal meringkuk di rumah sakit”

            “Aku tidak butuh nasehatmu, omong-omong”

            “Okay” Sera mengedikkan bahunya. Dia menyingkir dari jalan Sehun seperti kemauan pria itu. Prediksinya, pria itu akan limbung sebelum sampai di pelataran The A, tapi nyatanya dia sudah limbung duluan di langkah pertama. Beruntung Sera dengan sigap menangkap tubuhnya yang jauh lebih besar dan berat itu. “Dasar sombong” makinya.

***

            Entah kesialan macam apalagi yang dialami Sera. Niatnya datang ke The A awalnya hanya untuk mencari kesenangan sekaligus bertaruh pada takdir kalau-kalau Sehun juga berada disana. Karena berdasarkan informasi di dalam map merah yang diberi Hye Joo, Sehun cukup sering datang ke club itu.

            Dia sempat mendapat kesulitan mencari pria angkuh itu, mengingat jumlah pengunjung The A bukan hanya seratus-dua ratus orang. Ayolah, The A adalah club night terbesar dan paling tersohor di daerah Gangnam. Tidak mungkin pengunjungnya hanya beberapa gelintir orang saja. Tapi begitu fokusnya menangkap sosok Sehun di meja bar, saat itu juga senyumnya merekah. Dia senang lantaran berhasil menemukan Sehun di tempat itu.

            Tanpa pikir panjang dia menghampiri Sehun dan mengganggu ketenangan pria itu. Mencoba membuka obrolan santai yang ternyata ditanggapi sinis oleh pria itu. Sera berpikir, dengan memulai obrolan santai seperti di Coffe Smith siang tadi dia bisa semakin dekat dengan Sehun dan mengorek informasi sebanyak mungkin dari pria itu. Sayangnya prediksinya salah. Sehun pergi meninggalkannya untuk gadis jalang yang mungkin akan menghangatkan ranjangnya kalau saja dia tidak keburu tumbang.

            “You did great job, Han” Sera bergumam begitu dia berhasil membuka pintu apartement Sehun dengan password yang ditemukannya di dalam map merah itu. Siapapun orang suruhan Hye Joo, dia hebat sekali sampai bisa membobol keamanan apartement Sehun—atau memang Sehun yang terlalu ceroboh dalam menggunakan sandi hingga apartementnya bisa ditembus dengan mudah ? entahlah, Sera tidak terlalu peduli.

            Dia menyeret masuk tubuh Sehun yang jauh lebih besar dan lebih berat darinya dengan susah payah sambil menyumpah serapahi keangkuhan pria itu. Belum sempat Sera membuka pintu dari satu-satunya kamar di apartement itu, Sehun terbatuk dan menyemburkan muntahan ke bajunya. Sial, kan!

            “Kau berhutang banyak padaku, Oh Sehun” Sera menggeram kesal setelah berhasil merebahkan pria itu di atas kasur. Lihat, katanya tidak butuh nasihat. Tapi siapa yang sekarang butuh pertolongan ? Dasar sombong! Besok pagi kalau Sehun sudah bangun, tolong ingatkan Sera untuk memaki pria itu agar tidak berlagak sombong lagi.

            “Dasar manusia introvert. Bahkan sekretarismu tidak akan mau mengurusmu dalam keadaan seperti ini” Sera berceloteh sendiri. Jari-jarinya sibuk melepaskan kancing-kancing kemeja Sehun dan menggantinya dengan kaos santai yang lebih nyaman. Dia sendiri sudah menanggalkan jaketnya yang terkena muntahan. Mungkin sebentar lagi dia akan meminjam kamar mandi pria itu untuk membersihkan diri, yeah kalau saja ucapan Joon di The A tadi tidak terngiang di kepalanya.

            “Seseorang yang memiliki karakter serupa denganmu”

            Siapa gadis itu ? Apakah dia Lee Sera lain seperti yang dikatakan Sehun waktu itu ? Jadi gadis itu benar-benar ada dan Sehun tidak membual ? Kenapa mengetahui fakta ini membuat Sera merasa agak… kecewa ?

            “Who the hell are you, Oh Sehun ?”

***

            Sehun terbangun dengan kepala yang berdenyut-denyut. Tertidur selama kurang lebih tujuh jam sama sekali tidak menghilangkan efek pusing di kepalanya. Dia menyandarkan kepalanya dipunggung kasur sementara netranya menelusuri setiap sudut kamarnya dengan kening berkerut.

            Dia tidak terlalu ingat dengan apa yang terjadi semalam. Dia hanya tahu saat itu dirinya terlalu kacau hingga berakhir di The A. Sementara ingatannya hanya mampu mengulas kejadian transaksi antara dirinya dan Kangin lalu Lee Sera—Hell, dimana gadis itu ?

            “Oh, kau sudah bangun ?” Suara sopran itu mengejutkannya. Sehun beralih ke ambang pintu, netranya menangkap sosok Sera dalam balutan kemeja putih kebesaran miliknya dan rambut yang disanggul asal. Gadis itu membawa nampan berisi air minum lalu berjalan santai ke arahnya.

            Sehun memejamkan matanya sekilas. Bukan karena rasa pusing yang dideritanya, tapi karena dia tidak yakin dengan pengelihatannya. Dia berpikir jika Lee Sera dengan senyum cerah itu hanya halusinasinya semata karena dia terlalu merindukan kehadiran gadis itu, tapi nyatanya tidak. Dia tidak sedang berhalusinasi. Kehadiran Sera terlalu nyata untuk dianggap fatamorgana.

            “Bagaimana bisa kau ada disini ?” Sehun memecah keheningan dengan suaranya yang serak. Pertanyaan bernada dinginnya itu lantas mengundang raut sinis dari wajah Sera. “Maksudku, bagaimana bisa kau tahu apartementku ?”

            “Kau terlalu banyak minum alkohol dan pingsan. Aku melihat alamat tempat tinggalmu di kartu tanda pengenalmu dan Luhan yang memberitahu passwordnya” Sera menjawab asal. Dia memang menghubungi Luhan semalam. Tapi bukan untuk menanyakan dimana Sehun tinggal, melainkan hanya untuk mengabari kalau Sehun pingsan dan pria itu aman bersamanya.

            “Aku tidak menemukan persediaan makanan di dapurmu, jadi aku tidak bisa berbuat banyak” Sera meletakkan nampan berisi air minum dan aspirin itu ke atas nakas. Netranya mengamati Sehun sebentar sebelum menempelkan punggung tangannya di kening pria itu. Refleks, Sehun menepis tangannya. “Kau tidak bisa bersikap manis sedikit saja, ya ? Aku sudah menolongmu!”

            “Aku tidak pernah meminta pertolonganmu” Sehun berkata tak acuh.

            “Iya, benar. Kau tidak pernah meminta tolong. Seharusnya aku pura-pura tidak mengenalmu saja semalam” Sera menggeram. Rasanya dia ingin mencabik-cabik wajah Sehun yang menyebalkan itu.

            “Apa aku melakukan sesuatu padamu ? Kenapa kau memakai pakaianku ?” Sehun mengabaikan amarah Sera. Dia lebih tertarik dengan alasan kenapa gadis itu bisa menggenakan pakaiannya. Mungkin Sera tidak sadar, tapi sejak tadi fokus Sehun hanya tertuju pada pakaiannya.

            “Kau muntah” Sera menjawab enggan. “Di pakaianku” tambahnya dengan kedua bola mata yang berputar jengah.

            “Kau tidak seharusnya berada disini” bukannya meminta maaf atau berkata terima kasih, Sehun malah mengusirnya dengan cara halus. “Dimana kau tidur semalam ?”

            “Di sampingmu” Sera menjawab ketus. Melihat raut Sehun yang nampak merendahkan, dia buru-buru menjelaskan “Aku tidak mau tidur di sofa dan merelakan punggungku sakit”

            “Kau sepertinya terbiasa ya, tidur di samping pria” Sehun berkomentar sembari bangkit dari kasur dan menelan aspirin yang disiapkan Sera. Kalimat yang diserukannya terlalu pedas, Sera sampai menangkapnya sebagai sindiran.

            “Kau memang tidak tahu terima kasih” maki Sera. Dia berlalu meninggalkan Sehun saat suara bel dari arah luar menginterupsi perdebatan mereka. Dia berharap sekali yang datang itu Baekhyun sehingga dia bisa cepat-cepat enyah dari hadapan Sehun. Karena jujur saja, menghadapi keangkuhan pria itu membuat emosinya meletup-letup.

            “YA, OH SEHUN! SUDAH BERAPA KALI KUUINGATKAN BERHENTI MABUK-MABUKAN SEPERTI ORANG BODOH ?!”

            Sera refleks menyingkir dari ambang pintu ketika gadis bertubuh mungil yang ditemuinya di gedung Lamborghini kemarin menerobos masuk tanpa izin. Gadis itu Cho Naya—gadis yang menatapnya seolah dia hama pengganggu.

            “Kau bisa bicara dengan tenang karena aku tidak tuli” Sehun muncul menemui Naya di ruang tamu dan Sera merasa bodoh ketika berada di antara mereka. “Kau tidur dengan jalang lagi, ya ?” Naya menuduh dengan mata menyipit. Lantas netranya mengamati ruang tengah hingga fokusnya bertemu tatap dengan milik Sera.

            “Jadi dengan gadis ini ?” dia memandang Sera tidak suka sementara Sera hanya balik memandangnya dengan kedua tangan yang bersedekap. “Aku tidak tahu kalau seorang model sepertimu bisa juga disewa—oh, atau kau hanya dipakai secara cuma-cuma ?”

            “Sekalipun aku tidur dengannya, apa pedulimu ?” Sera menjengitkan sebelah alisnya. Tidak terselip emosi sedikit pun dalam nada bicaranya pun raut wajahnya terlihat tenang-tenang saja meski Naya baru saja menghina harga dirinya.

            Naya jadi mendadak kesal sendiri. Dimatanya Lee Sera hanyalah gadis angkuh yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya. Tipikal gadis parasit yang suka meraup keuntungan dari orang lain menggunakan pesonanya. Apalagi setelah mengetahui kalau Sera berasal dari Hyundai, Naya semakin tidak menyukainya.

            Suara bel kembali menginterupsi perdebatan mereka. Sehun menjengitkan sebelah alis, pria itu mereka-reka siapa yang datang sementara Sera memutar jengah bola matanya dan beralih untuk membuka pintu. Kali ini dia sangat percaya diri kalau yang menekan bel itu adalah Baekhyun dan benar saja dugaannya, Baekhyun kini berdiri di hadapannya. Akhirnya pria itu menjemputnya juga. Namun belum sempat dia menyapa sahabatnya itu, suara menyebalkan Naya lebih dulu terdengar “Kau yang menguntitku tadi kan ?!”

To be continued…

P.S: Haiiii~ udah sebulan ga update. Maaf ya, maaf banget. Aku emang ngaret banget kalo soal nulis huhuhu~ buat yang masih nungguin makasih banget loh, aku sayang kalian ♥ ♥  ♥

Btw, I probably will lock some chapters so be ready guys:)

 

 

Bonus Pic

krys5

Han Hye Joo – 26 y.o

luhan

Xi Luhan – 28 y.o

Advertisements

12 comments

  1. masih bingung sama sera-sehun 😂 kalo bner sera hilanh ingatan , ayoodong ingatannya cepet balik , kesian si sehun 😂

  2. waa ada oc baru! tng aja cinguu ttp ditunggu kok update annya.. soalnya kamu wajib lanjut ini ff sampe end, kekekee. aku udh trlanjur demen sm alurnya ff kamu so keep writing yaaa fighting!😍😍😍😍😘😀😀

  3. Astagaaa sumpah ini seru bangettt><
    Baekhyun nguntit naya? Astagaaaaaa
    Oke oke next chapter ditunggu!💕💕💕💕

  4. Waw~
    Kok aku bingung ya @.@
    Sera ga inget sehun, tp sehun pura2 ga kenal. Lah terus masa iya orang2 disekitar sera ga ada yg kasih tau masalalunya sera-sehun?

  5. gilaaks sera gercep banget ya huhu sama sehun aku takut kalo nanti jongin tahu trus nereka berantem trus kalo jongin marah besar macem2 gimanaa. eknya jongin juga tipe2 cowok yg bahaya juga kalo lagi marah huhu.

  6. eh aq masih bngung, hye jo itu sbenarnya siapanya sera sih? dia kakak sepupu atau kakak angkat/kandung sera?
    tp bukankah sera itu anak tunggal ya???
    aq suka bgt dsini bnyak moment sehun dan seranya 🙂
    bikin sweet moment diantara mereka dong kak, jgan berantem mulu….
    si sehun dijadiin lembut dikit gitu, dia terlalu ketus jika mnghadapi sera….
    eh knp gk ada yg ngomong ke sera sih klau sehun itu bagian dr masa lalunya, apa semua orang memang sengaja memisahkan mereka, apa sera lupa ingatan itu gara” sehun dlu?
    karna sehun pernah melepasnya dulu dan akhirnya sera frustasi-kecelakaan-lalu amnesia gitu?????
    dan sehun tu tau gk sih kak klau sera lupa ingatan?
    itu si baekhyun ngapain ngikutin naya ya? apa dia suka sama naya….
    lanjut ya kak, ini masih bnyak teka-teki yg blum terpecahkan….
    aq harap cerita ini berakhir happy ending antara sehun dan sera 🙂
    ditunggu next chapnya…
    jangan lama” ya kak,, semangat ^_^

  7. berarti sera hilang ingatan kan kk..?? kok bisa amnesia sih kk, apa ada hubungannya dg jongin..?? apa jongin yg buat sera jadi amnesia..?? kok aku mikirnya sampai situ eoh..?? agak ganjil aja sm kata” jongin di part sblmnya..
    ,tuh kan berarti sehun cuma pura” angkuh.. yg dimaksud sehun ttng lee sera itu lee sera yg ini kan kk, ga ada yg lain kan..

  8. Hye jo itu kakaknya sera yaa?? Tapi kok marga mrk beda yaa?? Apa mrk bukan sodara kandung yaa?? Kayanya hye jo benci banget sama sera. Banyak banget tekaki-tekinya, sampe bikin penasaran akutt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s