Insane [4A]

Insane

Starring :

Oh Sehun – Lee Sera – Kim Jongin

Xi Luhan – Han Hye Joo

Park Chanyeol – Candice Kim

Genre:

AU, Romance, Angst, Dark, Friendship, Family, Drama.

Written by:

Dee’s

Prev: Déjà vu The ShadowFirst Step

 

Now Present > Sleeping Beauty

 

Sepasang netra yang menghakimi nyatanya tak cukup membuat nyali Baekhyun ciut. Alih-alih merasa terintimidasi oleh lawan bicaranya, pria itu bersandar nyaman pada punggung sofa, suka cita mendengarkan amukan pemuda yang lebih jangkung darinya.

“Kau terlalu berlebihan. Sera sudah dewasa” Baekhyun memungut satu lembar foto dari sekian banyak foto yang ditebar Chanyeol ke udara dan berserakan di lantai tempat kaki mereka berpijak. Baekhyun tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum dia mengenal gadis itu, namun melihat sikap Chanyeol yang kelewat berlebihan ketika itu menyangkut Lee Sera, Baekhyun menaruh sedikit rasa tidak suka.

Baekhyun tidak punya ketertarikan khusus dengan gadis itu. Mereka hanya teman. Teman yang benar-benar teman. Dan sebagai teman, Baekhyun tidak suka melihat hidup si gadis dimonitori sepanjang waktu. Sera punya hak untuk mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan Chanyeol ataupun Jongin. Sayangnya apa dianggap Baekhyun berlebihan, tidak sejalan dengan pemikiran Chanyeol.

“Kau tidak tahu apa-apa!” Mata Chanyeol berkilat usai mendengar jawaban Baekhyun yang terkesan begitu ringan.

“Aku ingin sekali mendengarkan kalau kalian mau berbagi cerita” Baekhyun menyindir untuk apa yang selama ini mereka sembunyikan. Kalau saja Chanyeol dan Candice ataupun Jongin mau sedikit bercerita, Baekhyun tidak akan buta arah dan disudutkan seperti sekarang.

            “Sayangnya, kalian tidak mau berbagi. Jadi apakah aku bisa pergi sekarang ? mengingat tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan selain tuduhanmu yang tidak berdasar itu” Baekhyun menjengitkan alis. Merasa kenyang mendengar tuduhan Chanyeol yang mengatakan kalau dia sengaja membiarkan Sera bermalam di apartement Oh Sehun.

            Sengaja, your ass! Baekhyun tahu Sera menginap di apartement orang saja lantaran gadis itu menghubunginya di pagi buta dan memaksanya untuk menjemput. Harusnya, Baekhyun mendapat ucapan terima kasih, bukannya disalahkan seperti ini.

            Baekhyun baru bersiap untuk pergi, ketika Chanyeol menyatakan kalimat yang menarik rasa ingin tahunya “Mereka adalah sepasang kekasih, dulu”

            “Siapa ?” lantaran kuriositas keburu menguasai, Baekhyun mengurungkan niat untuk pergi. Pria itu kembali menghempaskan tubuh pada sofa yang sempat didudukinya tadi.

            “Sera dan Sehun” Chanyeol menghembus kasar napasnya. Rautnya berubah nanar seakan mengungkap hubungan mereka, membawa kembali ingatan yang menyakitkan. “Mereka menjalin hubungan sewaktu SMA. Kau bisa beranggapan jika perasaan mereka hanya sebatas cinta monyet. But they really meant it. They were in love. Sehun loved Sera too much. Sera did the same. Sayangnya, cara mereka mencintai berbeda. Sera ingin diperjuangkan, sementara Sehun rela memberikan apapun untuk kebahagiannya—termasuk melepaskan”

            “Sounds tragic. Like drama”

            Chanyeol menanggapi dengan kekehan sumbang, tersemat lirih dalam suaranya yang berat “I’ll tell you the real drama” ucapnya. “Beberapa bulan setelah hubungan mereka berakhir, Sera menjalin hubungan dengan pria lain. Pria itu bukan Jongin, well dia sudah lenyap sekarang—Aiden yang melenyapkannya. Hubungan mereka tidak direstui”

            Chanyeol sengaja mengambil jeda untuk membiarkan liurnya jatuh membasahi kerongkongannya yang mendadak kering, sementara Baekhyun hanya diam menunggu kelanjutan cerita. Sejatinya, bibir Baekhyun sudah gatal untuk menyerukan apa yang ia pikiran saat ini. Dia tahu betul arti melenyapkan disini. Kalau tidak membuat perekonomian si korban jatuh, bisa jadi melenyenyapkan dalam artian yang sesungguhnya—membunuh. Kejam, namun itulah faktanya. Apapun bisa terjadi di dunia ini. Bahkan hal terburuk akan terasa benar jika uang dan kekuasaan sudah turut andil. Namun demi menghormati Chanyeol yang mau berbagi cerita, dia berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat dan menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan kepada kaum borjuis.

            “Sera tahu apa yang direncanakan Aiden untuk kekasihnya, dia mengancam untuk bunuh diri kalau Aiden sampai berani menyentuh pria itu. Semua orang menganggap jika dia hanya menggertak, bahkan Aiden sendiri menanggapi ucapannya sebagai angin lalu. Sayangnya, Sera tidak bercanda. Dia terjun dari unit apartementnya setelah mendengar kabar buruk tentang pria itu dan dia melakukannya tepat di depan mata Aiden. Keadaannya kritis saat itu, namun dia berhasil melalui masa kritisnya. Dia siuman. Aku menjadi orang pertama yang melihatnya membuka mata dan aku juga menjadi orang pertama yang menyaksikan kesedihannya. Bagaimana bisa orang yang selamat dari kematian meneteskan air mata duka ? bukankah mereka seharusnya berbahagia ?”

            Baekhyun menarik napas. Dia kehabisan kata-kata dan dari sekian banyak kata yang ada, hanya satu kata yang terucap olehnya “gila” desisnya yang disambut Chanyeol dengan kekehan lirih. “Gilanya lagi, ketika keadaan Sera berangsur membaik, Aiden memutuskan untuk menjadikannya manusia vegetatif. Sera was the real sleeping beauty and Jongin was the prince who woke her up”

“You, guys are monsters” Baekhyun menggeleng. Merasa ikut gila setelah mendengar cerita yang nampak tidak masuk akal.

“Aku tidak berniat menjadi bagian dari mereka. Satu-satunya alasan mengapa aku bersikap protektif pada Sera hanya semata karena aku tidak mau kisahnya dengan Oh Sehun berlanjut”

“Kalau itu sampai berlanjut—”

            “—kisah menyedihkan akan kembali terulang” Chanyeol memotong. “Sera mungkin punya Jongin sekarang, namun siapa yang akan menyangka jika dia masih menyimpan cinta untuk Sehun meski dia sendiri lupa pernah mengenal pria itu ?”

            Baekhyun mengalihkan atensi pada Chanyeol begitu salah satu kata dari kalimat yang diungkap sahabatnya terasa janggal. “Kalian merenggut ingatannya ?” Baekhyun bertanya dingin. Entah bagaimana otaknya mengartikan jika ingatan Sera bukan hilang karena suatu penyakit ataupun akibat benturan dari aksi bunuh dirinya, melainkan hilang karena sengaja dihapuskan.

            Chanyeol mengangguk terpatah “Aiden melakukannya” dia mengambil jeda sebelum melanjutkan “Aku membenci semua yang dilakukan Aiden, tapi untuk yang satu ini—kupikir ini adalah opsi terbaik. Ketika dia terbangun dari tidur panjangnya, dia tidak perlu mengingat apa yang pernah terjadi. Yang perlu dia hadapi hanyalah lembaran barunya yang indah bersama Jongin”

***

            “Kupikir kau sibuk” adalah sapaan pertama ketika Kim mengakhiri pemotretan dan netranya bertemu tatap dengan milik Sehun yang berdiri di belakang si pengambil gambar. Sera merajut langkah, sambil berandai-andai jika Sehun yang menginteruksikan seluruh crew untuk mengakhiri pemotretan hari ini. “Kau terlihat lebih santai dari pebisnis lain. Hati-hati.”

            “Hati-hati adalah ciri khasku” Sehun menanggapi candaan Sera dengan serius. “Kau sedang dalam pengawasan”

            Alis Sera berjengit, sebelum otaknya mencerna pesan tersirat Sehun “Kau mencurigaiku” simpulnya.

            “Apa mengawasi dapat diartikan sebagai tindakan mencurigai ?” Sehun menyerukkan kedua tangannya ke saku celana. Pertanyaan retoris yang diajukannya secara gamblang cukup membuat Sera kehilangan kata-kata.

            Sehun terlalu pandai memainkan kalimat. Sedikit saja bibir Sera mengucap salah kata, maka pria itu akan dengan mudah menyudutkannya. Sera menggigit bagian dalam mulutnya, ujung lidahnya sempat membasahi bibir sebelum memberanikan diri untuk memberi pembelaan “Tidak juga. Mengawasi dapat diartikan mengintai jika dalam kasusnya, kau berniat mencuri dan merampok. Atau kau seorang agen FBI yang sedang menjalankan misi untuk meringkus pelaku perdagangan narkoba. Tapi dalam kasus ini, Kau bukan bukan pencuri atau perampok. Kau juga bukan agen FBI dan aku bukan target yang akan kau rampok ataupun kau ringkus. Jadi, apalagi makna mengawasi selain mencurigai ?”

            Ada serentet ekspressi yang muncul di wajah Sehun, di mulai dari ekspressi angkuh, takjub dan geli. Sepasang fokusnya melengkungkan sabit ketika bibirnya terkekeh kecil “Kenapa rumit sekali, Princess. Aku hanya ingin mengawasi jika kau cocok menjadi objek potret kami”

            Sera memutar bola mata, lantas mendengus “Intinya sama saja. Kau mencurigaiku”

            “Cara kita mengartikan kata ‘curiga’ berbeda” Sehun menjabarkan pemikirannya. “Aku mengawasi karena aku sangsi kau tidak cukup baik untuk menjadi objek potret kami. Sementara kau mengartikan kata ‘curiga’ dalam cakupan yang lebih luas” ada jeda sejenak yang digunakan Sehun untuk membawa langkahnya mendekat. Dia merunduk, hingga tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari gadis itu kini sejajar. Bibirnya tertarik membentuk seringai, lantas berbisik di samping telinga si gadis “Kau seakan sedang membela diri dari tuduhan pengkhianatan, aku benar kan ?”

            “Oh Sehun—”

            “Ada yang ingin kubicarakan. Tidak disini” potong Sehun sembari menegakkan kembali tubuhnya. Netranya mengamati Sera, sebelum bibirnya kembali bersuara “Kau bisa mengganti pakaian dulu” timpalnya, begitu menyadari tubuh mungil si gadis masih berbalut gaun berwarna biru laut.

            Sera membalas pandangan Sehun dengan mata menyipit. Kalimat diktator yang diserukan pria itu membuatnya jengah. Ada keinginan dalam dirinya untuk menolak, tapi entah bagaimana tubuhnya malah berbalik arah menuju ruang ganti.

            Sehun mengamati kepergian punggung kecil itu dengan sorot memuja. Lee Sera terlalu cantik. Gadis itu begitu sempurna. Sehun sampai harus menahan diri agar tidak terpesona. Rindunya mengatakan untuk menarik gadis itu ke dalam pelukan. Sayang, keadaan tidak memungkinkannya untuk merealisasikan apa yang ada dalam fantasinya.

***

            Menjerat atau terjerat—pikiran Sera berkelana ketika sepasang tungkainya menapaki bagian dalam dari sebuah gedung pencakar langit dengan label ‘Kim Nation’ di atasnya. Bibirnya menghembuskan napas, menahan segala caci maki yang nyaris menyembur demi menyelamatkan peran yang sedang dilakoninya—demi Tuhan, dari sekian banyak tempat makan di Seoul, kenapa Sehun harus membawanya kemari ?

            “Your order, princess ?” Sehun melerai lamunan untuk kedua kali, setelah teguran pertama dari si pelayan gagal menyadarkan gadis itu. Netranya mengamati gerik Sera yang gelabakan membuka menu, lantas fokusnya beralih pada si pelayan “Make it same”

            Dada Sera baru bisa menghirup pasokan oksigen dengan lapang ketika si pelayan menghilang di balik pintu VIP dan meninggalkan dirinya berduaan dengan Sehun. Seharusnya, ajakan makan siang dari Sehun tidak menimbulkan kecemasan dan keinginan untuk melarikan diri kalau saja pria serupa vampire itu tidak membawanya ke gedung Kim Nation, kalau saja Kim Nation tidak berada dibawah kepemilikan Kim Jongin dan kalau saja gedung ini bukan tempat dimana perusahaan pria itu berpusat.

            Kim Nation adalah label hotel sekaligus nama perusahaan yang bergerak dibidang perhotelan dan properti. Setengah dari bangunan pencakar langit di kawasan asia berada di bawah naungan mereka.

            “You’re spacing out” ucap Sehun. Tangannya tergerak melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemejanya hingga siku, sementara jas kerjanya sudah tersampir di punggung kursi yang ia duduki. “Apa ada sesuatu yang mengganggumu ?”

            Ya. Kau membuatku dalam masalah besar, Oh Sehun—jerit Sera dalam hati. Namun alih-alih menyerukan hal itu, fokusnya membalas pandangan Sehun “Satu-satunya yang menggangguku hanya—caramu menatapku” ungkap Sera dibumbui sedikit kebohongan. Dia tidak berniat menjelaskan jika alasan utama yang membuat pikirannya melalang buana adalah kenyataan kalau dirinya takut Jongin menemukannya disini bersama Sehun. Di sisi lain, dia bersungguh-sungguh ketika mengatakan jika cara Sehun memandangnya sejak dalam perjalanan menuju kemari cukup mengganggu. “Do we look that same ? I mean, me and your-lovely-Lee-Sera ?”

            Tidak perlu pemikiran panjang bagi Sehun untuk menjawab pertanyaan Sera “Kalian serupa tapi tak sama. Lee Sera yang kukenal tidak pergi dengan banyak pria”

            “Excuse me ?” Sera memiringkan kepala, bibirnya mendendangkan tawa. “Did you just compare me with that stranger ?”

            “She has name. Her name is Lee Sera” koreksi Sehun yang nampak tidak suka dengan cara Sera menyebut gadis itu dengan kata ‘stranger’.

            “Well” Sera mengangguk kecil. “I don’t think she’s better that me because—hey, if She’s really a good girl, she won’t leave you with those obsession. She’ll stay”

            “Obsession ?” Kini giliran Sehun yang tertawa. “Apa perasaanku terlihat seperti obsesi di matamu ?”

            “Do I look like a love expert ? ask yourself” Sera menjawab dengan pertanyaan. Tangannya meraih air mineral yang telah disiapkan, lantas mengambil beberapa tegukan.

            “Bukan dia yang meninggalkanku, tapi aku yang melepasnya. Untuk kebahagiannya” dan percaya atau tidak, delusi atau bukan—Sera yakin Sehun menatapnya ketika mengungkap sebaris kalimat itu, seakan pria itu sedang berbicara dengannya.

            Namun sebelum Sera sempat memberi reaksi, Sehun sudah lebih dulu mengangsurkan paper bag dengan logo dari salah satu rumah mode ternama. Sengaja mengalihkan pembicaraan dari topik sensitif sekaligus mengungkap tujuan utamanya mengajak gadis itu makan.

Sera mengerutkan kening, sebelum mencuri lihat isi di dalamnya “Apa ini ?”

            “Untuk menggati pakaianmu dan sebagai permintaan maaf”

            Sera menjengitkan alis, bibirnya hendak meminta penjelasan saat Sehun menyela “Maaf untuk ucapan Naya yang kasar dan terima kasih sudah menolong”

            “Sekarang kau tahu cara berterima kasih” Sera mencibir dengan nada jenaka. “Aku tidak butuh permintaan maaf, omong-omong. I never give fucking care to harsh words. And well, somehow I just think your secretary has special feelings for you. She likes you, maybe ?” Sera menutup ucapannya dengan jengitan ringan di bahu.

            “Naya ever did” Sehun meraih gelas mineralnya dan mengambil beberapa tegukan sebelum punggungnya kembali bersandar pada sandaran kursi. Ingatannya sedikit tertarik mundur ke masa kuliah dimana dia untuk pertama kalinya bertemu dengan gadis bernama Cho Naya. Gadis mungil, menyebalkan dan begitu tergila-gila padanya. “Dia bertahan cukup lama sampai akhirnya menyerah dengan perasaannya dan kami menjadi teman”

            “Kau kejam juga, ya”

            “Aku tidak bisa memikirkan gadis lain selain—”

            “—Sera ?” potong Sera yang kepalang mengerti dimana kalimat Sehun akan menemui akhir. “Pembual. Jika kau hanya memikirkannya, kau tidak akan tidur dengan gadis lain. Kau dua kali lebih kejam dari yang kupikirkan”

            Sehun bergeming. Kalimat yang diserukan Sera serupa tamparan untuknya. Andai gadis itu tahu jika objek yang sejak tadi mereka bicarakan adalah dirinya sendiri, tamparan itu mungkin tidak akan bermakna konotasi melainkan denotasi.

            Obrolan mereka terhenti ketika pelayan yang sama memasuki ruangan mereka dengan troli berisi makanan yang dipesan Sehun. Di saat yang sama juga, dering ponsel Sera ikut menginterupsi.

            Sehun mengamati, ketika Sera mengatakan ‘sorry’ untuk mengangkat panggilannya.

            “Halo Dee… Aku sedang makan siang—iya aku kesana—iya sekarang—Aku tidak membual—oke” Sera menutup ponselnya, diiringi dengan gerak matanya yang berputar jengah. Netranya memandang sirloin di hadapannya dengan rasa bersalah, lantas matanya bergulir menatap Sehun “Aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Sebagai gantinya aku akan mentraktirmu kapan-kapan, is it okay ?”

            “Aku tidak punya alasan untuk menahanmu kan ?” pertanyaan retoris. Singkat dan padat ala Oh Sehun.

            Sera terdiam beberapa jenak, butuh beberapa detik baginya untuk merespon ucapan Sehun “Aku punya sesuatu untukmu” dia menjeda kalimatnya untuk memgambil sesuatu di dalam clutch-nya, lantas memberikan benda berbentuk persegi panjang itu pada Sehun. “Temanku menggelar Fashion Week. Aku juga akan ada disana”

            Sehun menyambut uluran Sera. Dia memainkan kertas tersebut diantara jemarinya “Apa keuntungan yang akan kudapat ?”

            “Wow, otakmu benar-benar berisi perhitungan bisnis ya ? Tidak mau merugi” sindir Sera. Gadis itu mengeluarkan benda lain dari dalam tas tangannya—sebuah ikat rambut, lantas mengumpulkan helaian rambutnya menjadi satu untuk kemudian diikat. Terik matahari di luar membuat rambutnya terasa risih. “Kau bisa mencari hiburan dan cuci mata. Aku mungkin akan membuatmu terpesona ?”

            “Apa terpesona olehmu termasuk keuntungan ?” Sehun mendengus, caranya bicara merefleksikan ejekan. Sementara, netranya tak lepas dari gerak-gerik Sera yang kesulitan menguncir rambut. “Aku akan datang, untuk membuktikan kata-katamu” janjinya sambil beranjak dari kursi.

            Sera sempat berpikir, Sehun akan pergi lebih dulu lantaran terlalu bosan menonton aksinya menguncir rambut. Namun kenyataannya dia salah. Sehun tidak berlalu untuk pulang. Pria itu menghampirinya, mengambil alih surainya dan hendak membantu mengikatkan.

            “Se—”

            “Bahkan anak berusia enam tahun tahu cara mengikat rambutnya sendiri” Sehun mencibir. “Mana karetnya ?”

            Sera menggigit bibir bawahnya, kebiasaan kala dia sedang bingung. Rungunya mendengar pertanyaan Sehun, namun tangannya tidak tergerak memberikan karet tersebut pada si pria. Benda itu masih bertahan dalam genggamannya.

            “Sera ?”

            Sera menghembuskan napas. Ini salah. Menarik perhatian Sehun memang menjadi tujuan utamanya—namun berada dalam jarak sedekat ini dengan si pria dan melakoni drama picisan, terasa salah. Sera—entahlah ketika Sehun menyentuh rambutnya, dia mendadak teringat dengan Jongin dan itu membuat perasaannya sedikit berkecamuk.

            “Aku baru ingat, mengikat rambut akan membuat rambutku patah” Sera buru-buru beranjak, membuat rambutnya lolos dari genggaman Sehun dan tergerai menjuntai di punggung. “I should go now. See you” tangannya dengan serampangan menyambar clutch-nya. Dan untuk kedua kali dalam hari ini, Sehun memandang punggung kecil yang kian menjauh darinya. “Sebesar itu pengaruh Jongin terhadapmu ?”

            Bibir Sehun melengkungkan senyum kecut. Tungkainya hendak meninggalkan ruangan itu, kalau saja dering ponsel tidak menahan kepergiannya.

           J’s calling—tertera di layar ponsel tersebut. Sehun mengamati, lalu mengambil keputusan.

            “Lama tidak bertemu, Kai” sapanya, memainkan dialog basa-basi.

***

            “Kau baru datang ? Bagus sekali. Padahal janji temu kita kemarin” Candice mengomel dengan sebelah tangan yang berkacak sementara tangan lainnya menenteng satu potong pakaian yang Sera yakini sebagai salah satu wardrobe yang akan dipamerkan nanti.

            “Jo—”

            “Selalu saja menggukan Jongin sebagai alasan” potongnya dengan decakan. Candice tidak perlu menunggu Sera menyelesaikan kalimatnya untuk tahu apa yang akan disampaikan gadis bersuai cokelat tembaga itu. Candice sudah paham dan hapal betul kalimat macam apa yang akan diserukan Sera sebagai pembelaan. “Sekedar fitting tidak akan membuang waktu berjam-jam. Jongin pasti akan mengerti jika kau mau menjelaskan dan memintanya untuk menunggu sebentar”

            “Dia menyeretku, Dee. Aku tidak punya kesempatan untuk menolak” Sera mengungkap kebenaran. Candice terlihat menyebalkan ketika gadis itu berada dalam kondisi stress. Jadi daripada menjadi sasaran luapan emosi Candice, Sera buru-buru melarikan diri ke meja konter dan ikut bergabung dengan Baekhyun yang sejak tadi duduk manis disana sambil menonton pertengkaran kecil mereka.

            Candice menghembus napas keras-keras “Sojin akan membawa gaunnya. Bersiap-siaplah” ucap gadis itu sebelum kembali menyibukkan diri dengan segala persiapan menjelang Fashion Week.

            “Baru Fashion Week dan dia sudah kelimpungan. Bagaimana jika dia mengurus pernikahannya nanti ?” Baekhyun menumpu dagunya dengan satu tangan. Melihat Candice sibuk sendiri dengan urusannya menjadi hiburan tersendiri baginya. Jarang-jarang kan melihat gadis berdarah Korean-Western itu dibuat pusing oleh pekerjaan. Selama ini Candice terlihat tenang dalam menekuni pekerjaannya. Sangking tenangnya, terkadang dia suka menyobongkan diri ketika Sera ataupun Baekhyun menggerutu soal jadwal pekerjaan yang begitu padat. Candice tidak pernah sekali pun terlihat pusing. Kalaupun ada yang membuatnya kelimpungan, sudah pasti itu berurusan dengan Park Chanyeol.

            “Dia mungkin akan mendapati kantung matanya semakin besar lantaran tidak bisa tidur” Sera menyahut ucapan Baekhyun dengan kekehan. Dia menyambar cola milik pria itu dan mengambil alih bungkus honey butter chips yang terkapar diantara mereka.

            “Berat badanmu, bodoh. Kau baru saja makan siang” Baekhyun mengingatkan. Dia merebut kembali bungkus honey butter chips dari genggaman Sera yang suskses membuatnya mendapat rengutan tidak suka dari gadis itu.

            “Aku hanya makan apel tadi pagi dan belum menelan apapun siang ini kecuali air mineral dan seteguk cola milikmu” terang Sera dengan raut bersungut-sungut.

            “Kau sendiri yang bilang sedang makan siang”

            “Tidak jadi. Aku pergi setelah Candice menelepon” Sera mengambil tegukan lainnya dari kaleng cola milik Baekhyun. “Someone just asked me for lunch and guess what ? Dia membawaku ke Kim Nation” Sera memutar bola matanya yang disusul dengan dengusan sebal. “Aku tidak punya alasan lain untuk melarikan diri selain panggilan dari Candice. Berada disana lebih lama hanya akan menimbulkan masalah”

            “A man ?” Alis Baekhyun berjengit dan dia sukses menyemburkan tawa begitu Sera menjawab pertanyaannya dengan anggukan kecil. “Mungkin, sudah saatnya kau meninggalkan pria-pria kesepian itu” ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk pundak Sera sok prihatin.

            “Aku sudah memutuskan mereka sebelum kepulangan Jongin”

            “Jadi, pria mana lagi ?” tanya Baekhyun sembari mengunyah kepingan chips-nya. Gerakan rahangnya mendadak berhenti, ketika satu nama terlintas di kepalanya. Nama yang baru-baru ini menjadi familiar di telinganya “Oh Sehun ?” ucapnya memastikan.

            Sera menjawab dengan anggukan, membuat Baekhyun gemas lantaran melihat sikap si gadis yang tak acuh. Bagaimana bisa Sera sesantai itu menikmati cola hingga tandas, sementara orang-orang terdekatnya dibuat cemas oleh pertemuannya kembali dengan Sehun ?

            “Kupikir hubungan kalian hanya sebatas one night stand

            “Aku tidak tidur dengannya, oke”

            “Seperti aku percaya bualanmu”

            “Seperti aku peduli dengan pikiran kotormu”

            “Sera” Baekhyun menyerukan dua silabel pembangun namanya. Intonasi pria itu berubah serius. “Can you just be honest ? Untukku, tidak masalah jika kau tidur dengannya. Kau sudah dewasa, kau bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Aku hanya ingin kau cerita” Baekhyun berkata dengan sungguh-sungguh. Sekalipun dia tahu jika kelanjutan hubungan Sera dan Sehun akan membawa dampak buruk, Baekhyun tidak akan pernah melarang Sera melakukan hal yang gadis itu sukai. Sera manusia biasa, sama sepertinya. Gadis itu memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa campur tangan dari orang lain.

            Melihat Sera tidak tertarik membuka suara, Baekhyun berseru frustasi “Demi Tuhan, aku bersumpah tidak akan membagi ceritamu pada siapapun!”

            “Aku masih virgin, brengsek!” dengan gemas Sera melempar kaleng cola yang sudah kosong ke dada Baekhyun. Introgasi yang diajukan pria itu sejak kepulangan mereka dari apartement Sehun membuatnya jengah. Sera sampai terpikir mencari cara untuk membungkam mulut Baekhyun.

            “Oke. Tidak perlu menjawab pakai emosi” Baekhyun melejitkan bahu, lalu melempar kaleng cola yang ditangkapnya ke kotak sampah terdekat. Mengotori ruang kerja Candice hanya akan membuat mereka berdua menjadi sasaran amukan gadis itu. “Bagaimana dengan Jongin ?”

            “Apalagi ?” volume suara Sera sedikit meninggi. Suaranya kentara sekali menahan kesal.

            “Kenapa tidak ada sesuatu yang lebih diantara kalian ?”

            “Memangnya apa yang kau harapkan ?!”

            “Well, kau tahu kan” Baekhyun membuat tanda kutip dengan kedua tangannya di udara. “Kurasa Jongin bukan tipikal pria beriman”

            “Dia bukan keparat sepertimu” tukas Sera yang kembali mengundang gelak tawa Baekhyun. “Kau tidak menarik, makanya dia tidak pernah menyentuhmu”

            “Terserahhh!”

            “Kau mencintainya ?” tanya Baekhyun, cukup untuk membuat Sera terdiam. Pertanyaan yang diajukan pria itu bukan suatu pertanyaan sulit, harusnya Sera bisa menjawab dalam hitungan sekon. Namun untuk saat ini, entah kenapa semua pasokan kata yang dikenalnya menghilang.

            Sera mengerjap, dia mencoba mengendalikan diri “Kenapa perasaanku begitu penting untukmu ?”

            Baekhyun terkekeh untuk kesekian kali. Bedanya, tawa Baekhyun kini tidak mengandung unsur kesenangan. “Pertanyaanku hanya membutuhkan jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’, Ra”

            Sera menyipitkan mata, hatinya begitu mantap ketika berkata “Tidak ada tempat yang lebih nyaman selain pelukan Jongin”

            “Jangan salah mengartikan rasa nyaman, Ra. Nyaman tidak selalu berarti cinta” Baekhyun mengambil jeda. Netranya menyaksikan raut Sera yang mulai kehilangan kepercayaan diri. “Contohnya, kau merasa nyaman ketika bersamaku. Tapi apa kau mencintaiku ? Tidak, kan ?”

            “Kau mabuk. Ucapanmu ngelantur. Kusarankan segera minum aspirin” tukasnya sarkastik. Terlalu bingung harus membalas dengan kalimat macam apa agar ucapan Baekhyun tidak terkesan mengintimidasinya.

            “Nona ?” Kehadiran Sojin yang begitu tiba-tiba menyela obrolan. “Pakaiannya sudah siap”

            “Aku akan menyusul” ucap Sera. Sengaja memberi kode untuk Sojin agar gadis itu berlalu lebih dulu. Fokusnya memandang Baekhyun saat hendak melanjutkan obrolan yang tertunda “Aku mungkin berkencan dengan banyak pria. Tapi Jongin adalah rumahku. Sejauh apapun aku pergi, aku akan tetap kembali padanya”

            “I keep your words”

***

            Cantik. Dasar sewarna darah yang berhasil disulap Candice menjadi gaun panjang yang menyapu lantai terlihat sempurna membalut tubuhnya. Beberapa decakan halus yang terdengar di balik punggungnya, membuktikan kesempurnaannya.

            “Seperti puteri kerajaan. Tapi sayang, warnanya merah. Kau jadi terlihat antagonis” Baekhyun melipat tangan di depan dada. Netranya memindai Sera dengan seksama.

            “Temanya memang begitu. Keindahan si antagonis” Candice meluruskan asumsi Baekhyun. Fokusnya ikut meneliti hasil kerjanya, dibubuhi senyum lebar yang menyiratkan kepuasan. “Terkadang tokoh antagonis tidak benar-benar mengerikan dan tokoh protogonis tidak selamanya baik. Aku sengaja ingin membuat si antagonis menjadi tokoh utama”

            “Penjelasanmu terlalu memusingkan kepala” tukas Sera.

            “Aku tidak memintamu untuk mengerti” Candice menjengitkan bahu. Tangan gadis itu dengan telaten membenarkan beberapa lekukan gaun yang terasa kurang pas. “Kau cantik. Jadi jangan sampai terjatuh” puji Candice sambil menyelipkan kalimat harap-harap cemas.

            “Dia sudah pasti mungubur tubuhnya hidup-hidup kalau hal itu sampai terjadi” Baekhyun begurau. Kelakarnya mendapat respon berlebihan dari Sera “Jangan suka meremehkan. Kalian berdua harus memberiku sepasang Christian Loubuttin kalau penampilanku sukses”

            “Aku akan berusaha membuatmu jatuh kalau begitu” Baekhyun memamerkan cengiran yang sukses mendapat lirikan sinis dari Candice. “Jangan coba-coba” ancam gadis bersurai legam itu.

            Netra Candice beralih ke Sera, ketika bibirnya berucap “Apa gunanya kekasih kaya raya kalau membeli sepasang satu saja tidak mampu ?”

            “Dasar pengecut. Bisanya hanya meremehkan” sahut Sera dengan sepasang bola mata yang berputar. “Untuk hal-hal tertentu kekasihku memang tidak bisa dibandingkan dengan Chanyeol. Aku mengerti. Sangat mengerti. Park Chanyeol memang yang terbaik”

            Candice berdecak. Telinganya mendadak sensitif jika nama Chanyeol diselipkan dalam obrolan. Sementara Baekhyun sudah terbahak heboh mendengar adu sindir kedua gadis itu. Sepertinya hari ini begitu menggembirakan bagi pria itu sampai tawanya terdengar hampir setiap waktu.

            “Aku tinggal dulu, masih ada yang harus kukerjakan. Kau bisa mengganti pakaianmu” ucap Candice beralasan. Gadis itu tidak mau menjadi bulan-bulanan Sera dan Baekhyun. Dirinya sudah pasti tersudutkan kalau nama Chanyeol sudah terseret dalam obrolan mereka.

            “Malah melarikan diri” cicit Sera.

            “Kau mau kemana sudah ini ?” Baekhyun melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. “Aku ada urusan sebentar lagi. Kau tidak membawa mobil kan ? Mau kuantar atau bagaimana ?”

            “Aku akan minta Jongin menjemput saja” ucap Sera. “Sojin, bisa ambilkan ponselku di tas ?” gadis yang bernama Sojin itu mengangguk dan kembali dengan clutch miliknya. “Aku tidak menemukan ponselnya. Apa kau meninggalkannya di suatu tempat ?”

            “Jangan bercanda” Sera menyambut uluran sojin. Keningnya menunjukkan lipatan lantaran tidak menemukan apa yang diacari.

            “Kau yakin memasukkannya ke dalam tas ?” Baekhyun mendekat. Pria itu ikut mengintip isi tas tangan Sera. “Kau tidak meninggalkannya di Kim Nation kan ?”

            Sera menatap Baekyun. Kepalanya menggeleng terpatah. Ada keragu-raguan di parasnya yang rupawan “Seingatku sudah dimasukkan”

            “Seingatmu” Baekhyun membeo. Nadanya mencibir.

            “Apa tidak ada di atas konter ?” tanya Sera yang dibalas gelengan pasti oleh Sojin.

            “Hanya ada dua kemungkinan. Kau meninggalkannya atau terjatuh di suatu tempat” simpul Baekhyun. Mengenal Sera selama sekian tahun membuat pria itu tidak terkejut lagi dengan kecerobohan si gadis.

            Sera menarik napas, mengutuk kecerobohannya. Tangannya lantas menengadah di depan wajah Baekhyun “Ponselmu ?”

            “Untuk apa ?”

            “Ponselku, Baek. Aku harus menemukan ponselku!”

            Baekhyun berdecak, pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku dan langsung disambut Sera dengan cepat. Tidak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk menemukan kontaknya karena Baekhyun menyimpannya di speed dial nomor 3.

Sera menggigit bibir, tidak sabaran menunggu seseorang diseberang sana mengangkat panggilannya. “Halo, ini siapa ? Kau dimana ? Aku ingin mengambil ponselku”

            “Aku sedang rapat. Sibuk sampai malam. Kau bisa mengambil ponselmu besok di Volkswagen. Kututup”

            “Hey, tung—brengsek!” Sera memaki layar ponsel Baekhyun yang menunjukkan jika sambungan telah terputus. Itu suara Sehun. Sera bisa mengenalinya dari cara bicara pria itu yang angkuh dan dingin. Baru satu jam yang lalu mereka mengobrol layaknya teman dekat dan sekarang Oh Sehun kembali membuatnya tersulut emosi. Pria itu benar-benar sulit dimengerti.

            “Dia menyandera ponselmu” simpul Baekhyun. Keyakinan turut menyertai pernyataannya lantaran mendapati raut Sera yang berubah masam.

***

Suara gemericik air dari keran yang menyala mengisi kekosongan ruang itu. Kim Jongin membasuh wajahnya dengan kasar, menatap pantulan dirinya yang serupa monster di cermin dan mencengkram tepian watafel hingga buku-buku jarinya memutih. Kalau saja tajamnya mata memiliki kemampuan untuk menghancurkan sesuatu, mungkin kaca dihadapannya sudah hancur berkeping-keping.

            ‘Lama tidak bertemu, Kai’

            Jongin terperangah. Napasnya tidak beraturan. Sebaris kalimat yang kembali berputar dikepalanya serupa kaset rusak menghadirkan sosok teman lama dalam pantulan cermin. Oh Sehun berdiri di balik punggungnya, memberi pandangan yang meskipun setenang air danau, namun mengandung banyak ancaman.

            ‘Aku akan mengambil kembali, apa yang seharusnya menjadi milikku’

            “Sial!” Jongin memaki. Kepalan tangannya menghantam cermin hingga suara nyaring dari pecahan kaca menjadi intrumen lain yang mengisi keheningan. Cairan merah pekat berbau anyir mulai menetes dari jemari dan punggung tangannya. Lantaran emosi yang menyelimuti jiwa, rasa sakit itu tidak berarti apa-apa. Malah, menghancurkan satu cermin saja rasanya tidak cukup untuk melampiaskan amarah.

            Jongin terkekeh serupa orang pesakitan. Pantulan dirinya yang terlihat abstrak dari cermin yang sudah retak seribu, mengingatkannya untuk segera mengambil tindakan jika tidak mau nasibnya berakhir sama dengan benda tersebut. Tangannya mengeluarkan ponsel dari saku jas, menempelkan benda pipih itu ditelinganya begitu kontak ‘Park Chanyeol’ tersambung dengan miliknya.

            Jongin perlu menunggu sekitar lima detik, hingga suara berat dari ujung sana merespon panggilannya. Seringai pria itu muncul ketika bibirnya berucap “Aku akan mengikatnya. Aku akan mengikat Lee Sera”

To be continued…

A/N: Hello, udah lamaaaaaa banget ga ketemu. Aku ngaretnya udah keterlaluan ya:( maaf ya baru bisa publish sekarang. Maaf juga kalo ceritanya makin membosankan. Aku ga tau harus gimana biar ceritanya jadi greget kek cerita-ceritanya senpainim. Mungkin karena mereka emang terlahir sebagai penulis kali ya, makanya ceritanya waw banget.

Btw sekarang udah kebongkar kan yah masa lalunya Sera, emang ini tuh drama banget. Udah kek sinetron kali huhhh.. semoga suka ya. See you ❤

Leave me some comments juseyooo~

Bonus pic

donghae

Aiden Lee – Sera’s hot daddy

omg004

Sandara Park – Sera’s mom

Advertisements

6 comments

  1. Gilaaaaaa… Ayahnya sera kejam juga yaa, gimana caranya ngilangin memorinya sera? Kayanya jongin berbahaya nih, jangan2 sera sama sehun dlu putus karna jongin lagi, semoga sera cepet inget sama sehun dan balik lagi ya k sehun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s