Recover [1]

 large

Starring:

Oh Sehun – Kim Jongin – Lee Sera

Genre:

Romance, Friendship

Written by:

Dee’s

 

Orang bilang hujan adalah berkah. Namun ketika Sera mengamati tetesannya dari balik jendela kaca tempatnya bermalam, hujan seakan menjadi pertanda buruk untuk kepulangannya.

            Seoul—tanah kelahirannya. Tempat dimana dia dibesarkan sekaligus pengukir serentet peristiwa manis yang tak pernah disadarinya. Tujuh tahun lalu, dia masih terlampau muda, memiliki pemikiran pendek dan begitu mudah dikuasai oleh suasana hati.

            Kurangnya kasih sayang dari kedua orang tua dan kegagalannya dalam mendapatkan cinta pertama, membuatnya begitu membenci takdir. Dia berpikir jika hidupnya sangat menyedihkan. Orang-orang bilang bahwa hidupnya sempurna, tapi nyatanya kesempurnaan itu tidak mampu membuat orang yang dikasihinya untuk menetap disampingnya. Mereka semua mengabaikannya hingga Sera muda hidup dalam kesepian dan berduka.

            “Manhattan mengubahmu menjadi angsa yang menawan”

            Sera memutus pandangan ketika suara bariton menyela dari arah belakang. Tubuhnya berbalik, lantas menyambut uluran cangkir si pria yang menawarkan cokelat hangat. “Aku memang terlahir menawan. Sayang, Kim Jongin lebih tertarik dengan si anak baru” ucapnya menyindir sembari menyelipkan potongan masa lalu. “Cokelat panas terlalu kekanakan. Kupikir kita sudah dewasa ?”

            “Si brengsek itu tidak akan memaafkan jika aku membuat gadisnya dalam bahaya. Lagipula, katanya kau suka cokelat”

            Kening Sera menunjukkan kerutan ketika si lawan bicara menyeret orang asing dalam obrolan, butuh waktu tiga detik baginya untuk menyadari siapa yang tengah mereka bicarakan saat ini. “Itu dulu” bibirnya bergumam. Ada sepercik nanar yang timbul di rautnya yang rupawan.

            “Masih berlaku sampai sekarang” pria itu mengoreksi dengan decakan.

            “Jongin—”

            “Apa kau tidak lelah berdiri ?” Jongin memotong, sebelum tungkainya berjalan menghampiri sofa. Sera menghembus napas, mau tak mau langkahnya mengekori. “Persahabatan kami selesai setelah kepergianmu. Dia menyalahkanku, aku menyalahkan kebodohannya. Kami mempertahankan ego masing-masing, sampai keadaan merubah kami menjadi dua orang yang asing”

            Sera mendengarkan, pikirannya refleks membawa kembali ingatan akan teman lama yang menguasai nyaris keseluruhan hatinya. “Aku pergi karena kau menolak cintaku” bibirnya berucap bohong. Ada senyum kecil yang terpeta untuk menutupi kebohongannya.

            Jongin terkekeh, kepala pria itu menggeleng cepat hingga membuat Sera khawatir tulang lehernya akan patah. “Lebih karena perasaan bersalahmu pada Sehun. Kau mencintainya, namun terlambat menyadari. Kau berpikir dia sudah muak melihatmu, makanya kau pergi.” Jongin mengungkap keadaan yang sebenarnya. Dirinya sudah bosan dijadikan kambing hitam yang membuatnya terlihat seperti tokoh antagonis dalam drama picisan.

            Sera mendapati dirinya terdiam untuk beberapa jenak. Kalimat pria itu begitu tepat sasaran hingga dia kehilangan kata-kata untuk membela diri. “Hanya masa lalu. Lagipula aku terlalu kekanakan saat itu”

            “Hanya” Jongin membeo dengan nada mencibir. “Sehun tidak pernah menanggapmu masa lalunya. Dia menunggumu kembali”

            “Tahu apa kau tentangnya ? Kalian tidak lebih dari orang asing sekarang” tukas Sera. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menunjukkan ketertarikan dalam pembahasan ini.

            “Benar juga” Jongin menyetujui. “Level kita dan Sehun sudah berbeda. Dia hidup dalam kemewahan yang diciptanya, sementara kita bertahan hidup dari sisa-sisa kekayaan orang tua”

            “Kau menghasilkan banyak uang dari pekerjaanmu”

            “Pendapatan seorang member Boygroup tidak sebanding dengan pengusaha Real Estate” Jongin menjeda kalimatnya sejenak untuk menyesap anggur miliknya. Bibirnya kembali mendendangkan tawa mana kala menyaksikan raut Sera yang berlipat-lipat menahan iri. “Serius, Ra. Aku tidak bisa membiarkanmu minum. Banyak hal yang mungkin akan kita bahas malam ini, salah satunya bisa jadi menyakiti kita. Hasrat minummu akan meningkat seiring dengan perubahan emosimu dan aku tidak yakin bisa mencegahmu. Pada akhirnya kau akan mabuk dan si brengsek itu akan kembali menyalahkanku”

            “Bisa tidak, berhenti membahas Sehun ?” Sera menggeram. Sebisa mungkin dirinya melarikan diri dari pembahasan yang menyangkut Sehun, namun Jongin terus mengungkitnya seakan pembahasan mengenai pria itu lebih menarik dari kisah artis papan atas.

            Jongin menghela napas. Netranya memandang milik Sera dengan tulus. “Dia adalah alasan terbesar kepulanganmu. Aku tahu kau merindukannya dan bertanya-tanya apa yang dilakukannya sekarang”

            “Aku pulang karena tuntutan pekerjaan!”

            “Pekerjaan hanya alibimu. Dari awal kau bisa menolak tugas itu seandainya kau benar-benar tidak peduli dengan keadaannya sekarang”

            Sera menggeleng. Menolak pernyataan Jongin. Pupilnya yang merefleksikan diri pria berkulit tan itu, menyembunyikan luka. “Aku tidak punya waktu untuk menjalin cinta, Jongin”

***

            Kemewahan bukan sesuatu yang asing untukku. Namun ketika sepasang kaki ini menapaki bagian dalam dari sebuah gedung pencakar langit yang nyaris secara keseluruhan didominasi oleh warna abu-abu, kesan pertama yang terlintas di kepalaku adalah mengulang kembali ucapan Jongin mengenai perbedaan kasta.

            Ini bukan mengenai si kaya dan si miskin. Namun ini tentang sekumpulan teman lama yang dulunya berada di garis kekayaan sama, sekarang menempati kasta berbeda lantaran takdir hidup yang dipilih. Jongin dengan keputusannya untuk terjun ke industri hiburan dan Sehun dengan tahtanya sebagai pewaris tunggal.

            Iya benar, yang menjadi garis pembeda antara kehidupanku dan Jongin serta Sehun adalah, kini status Sehun bukan lagi anak dari seorang pengusaha. Statusnya sudah berubah menjadi pemimpin perusahaan tersebut. Sementara aku dan Jongin, masih bertahan dengan status lama kami—anak dari pengusaha blablaba. Aku tidak tertarik membahas bisnis yang digeluti keluargaku, aku bahkan bukan bagian dari mereka lagi sejak lima tahun yang lalu. Aku telah menghapus namaku dari daftar keluarga.

            Jika dulu banyak orang menggadang-gadang Lee Sera sebagai gadis sempurna dengan segudang prestasi dan kekayaannya, kini aku bukan siapa-siapa lagi dan tidak memiliki apapun untuk dibanggakan. Aku hanya seorang pekerja dari sebuah percetakan majalah bisnis di Manhattan. Dan tugasku kali ini adalah untuk mewawancarai pemimpin dari perusahaan ini, Oh Sehun—teman lamaku, sahabat terbaikku, dan pemilik hati ini.

            “Anda yang bernama Lee Sera, kan ? Silahkan lewat sini”

            Aku mengangguk dengan senyum tipis dan mengikuti instruksi wanita dalam balutan pakaian formal itu. Kantor ini tertata dengan rapi, para pekerjanya terlihat begitu professional dan terpelajar. Sehun pasti menetapkan standar tinggi dalam merekrut pegawai—Ah, pemikiran itu membuatku secara refleks merapikan pakaian ketika kami tiba di depan sebuah pintu. Bukan, bukan karena aku ingin terlihat menarik dihadapannya. Aku hanya tidak ingin terlihat berantakan diantara orang-orang berjas dan berblazer mahal.

            “Tuan Oh, Nona Lee sudah datang” wanita itu berucap sopan setelah membuka pintu, ada sekilas senyum di bibirnya sebelum meninggalkanku di ruangan itu. Aku memantapkan diri untuk melangkah masuk dan pemandangan pertama yang tertangkap oleh netraku adalah punggung Sehun yang membelakangiku. Punggung pria itu terlihat lebih tegap dan lebih lebar dari punggung anak lelaki yang sering menghiburku tujuh tahun yang lalu. Rambutnya kini berwarna hitam legam, tidak lagi dicat dengan warna-warna mencolok yang menyakiti mata.

Dia sedang berbicara lewat sambungan telepon, intonasi suaranya menggambarkan jika dia terlibat perdebatan kecil dengan seseorang di seberang sana. Aku tenggelam dalam suara itu, suara yang begitu dingin dan tegas namun cukup untuk membayar rasa rinduku. Baiklah, aku akan mengaku. Aku merindukan Sehun. Sangat merindukannya hingga menimbulkan ketakutan dalam diriku. Bagaimana jika aku tidak bisa menahan perasaanku ? Bagaimana jika hatiku menginginkannya lebih dari yang seharusnya ?

“Maaf, apa aku membuatmu menunggu lama ?” Sehun memutus lamunanku dengan suaranya. Pria itu melangkah mendekat, netranya menatapku—tepat di mata. Hal yang kemudian membuat jantung ini berdebar hingga tanpa sadar mengakibatkan kedua tanganku saling meremas.

“Tidak, justru sepertinya saya yang menganggu waktu anda” aku menjawab ditengah-tengah kegugupan. Berusaha bersikap professional dan sengaja melupakan cerita lama. Tujuh tahun telah berlalu, pertemanan yang sempat terjalin pun sudah dibumbui benci. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan saat ini, jadi untuk apa mengenang kisah lama ?

“Saya Lee Sera dari—” bibir ini baru akan berucap memperkenalkan diri sebagai awal dari perbincangan, namun Sehun memotong dengan cepat.

“Tidak perlu seformal itu” Sehun membuat gestur yang bermaksud mempersilahkanku duduk dengan tangannya, sementara dia sendiri lebih memilih bersandar pada meja kerjanya hingga kami benar-benar berhadapan sekarang.

Aku menggigit bibir. Tempat duduk itu tidak terasa nyaman lantaran pengaruh jarak—mungkin kami hanya dipisahkan sekitar setengah meter ? Aku bahkan bisa mencium aroma parfumenya yang mahal. Mengesampingkan rasa tidak nyamanku, aku memulai pekerjaanku. “Baiklah, aku akan mulai dengan pertanyaan pertama” ucapku sembari mengeluarkan notes dari tas. Aku membuka lembar kelima, hendak mencatat sesuatu namun teringat jika aku belum mengenggam pena atau pun pensil.

Aku membuka tas, kebingungan mencari alat tulis sampai suara Sehun kembali menegurku. “Tidak perlu terburu-buru.” ucapnya sembari menjulurkan pensil untukku. Kulit pensil itu berwarna abu-abu, ada ukiran inisial OSH dibagian tubuhnya. Aku menatap benda itu ragu-ragu, sebelum akhirnya menyerah dan menyambut benda itu dari tangan Sehun. “Terima kasih” ucapku berusaha menyembunyikan getaran aneh ketika tanpa sengaja jari-jari kami bersentuhan.

Seharusnya sentuhan ringan itu tidak menimbulkan perasaan asing, mengingat betapa akrabnya kami berteman dulu. Berbeda dengan Jongin yang dulu biasa bersikap dingin padaku, Sehun adalah tipikal anak lelaki yang hangat dan suka bergaul. Dia merajut pertemanan dengan banyak siswa dari berbagai kalangan. Dia tidak pernah memikirkan tugas sekolah. Dia suka berguyon, segala yang dikatakannya berupa candaan hingga aku nyaris tidak bisa membedakan kapan dia serius dan kapan dia sedang bermain-main.

Dia suka memanggilku sweetheart. Dia suka merangkulku seenaknya. Dia sering mencubit pipiku dan berkata jika aku begitu menggemaskan. Dia sering membuat lelucon penghibur ketika aku sedang berduka. Dia akan memelukku saat aku menangis. Dia selalu ada ketika aku membutuhkannya—istilahnya, jika Jongin adalah orang yang ahli melukaiku, Sehun adalah orang yang ahli mengobati luka itu.

Tapi sekarang perlakuan manis itu tidak berlaku lagi. Tidak setelah di suatu sore, kami bertengkar hebat. Pertengkaran itu terjadi atas kesalahpahaman. Sehun melihatku memeluk Jongin. Aku memang memeluk Jongin, namun itu bukan jenis pelukan antara pria dan wanita. Itu adalah pelukan pertemanan. Setelah lelah mengejar Jongin dan Jongin yang mengaku jika dia sudah capek membenciku, kami memutuskan untuk berteman.

Sayangnya, pelukan itu dimaknai negatif oleh Sehun. Dia mengira jika aku masih mengejar Jongin dan berusaha untuk mendapatkan pria itu. Sehun tidak pernah tahu jika saat itu, aku telah melupakan perasaanku untuk Jongin dan berbalik menyukainya—lebih tepatnya, aku baru menyadari jika selama ini aku mencintainya. Perasaanku pada Jongin nyatanya hanya sebentuk obsesi untuk memiliki. Sementara untuk Sehun, perasaan itu benar-benar tulus dan berbentuk cinta.

Sehun yang telah mencapai batas kesabarannya, tidak mau mendengarkan penjelasanku. Emosinya meletup-letup. Dalam pertengkaran itu Sehun mengaku jika dia menyukaiku. Ada sepercik kebahagiaan dalam dadaku ketika dia mengucap kata cinta. Aku hendak membalas pengakuan cintanya, namun belum sempat aku merealisasikan melalui untaian kata, bibir Sehun telah lebih dulu berucap. Dibumbui dengan sorot matanya yang memandangku muak “Hidupmu menyedihkan, Lee Sera. Kau mengemis cinta pada orang”

Dan dengan sebaris kalimat itu, dia pergi meninggalkanku. Dengan sebaris kalimat itu pula, aku menyimpulkan jika dia membenciku. Aku merasa bersalah telah mengabaikan perasaannya selama ini, namun juga terlalu pengecut untuk menongolkan wajah dan meminta maaf. Aku diselimuti kebingungan dan rasa sepi. Pertengkaran itu membuat Sehun menarik diri dariku. Sebisa mungkin dia menghindari kehadiranku. Ketika kami berpapasan, dia akan berlalu seperti orang asing. Ketika netra kami tak sengaja bertemu, dia secara gamblang memalingkan muka. Aku tak punya teman, aku sendirian. Keinginan untuk meninggalkan Seoul pun terlintas begitu saja dibenakku.

“Jadi…” aku kembali menggigit bibir. Daftar pertanyaan yang sudah kusiapkan mendadak hilang dari ingatan. Kehadiran Sehun membuat konsentrasiku kacau. Apalagi, ketika kenangan masa lalu berulang dikepalaku—dadaku sesak.

“Jangan menggigit bibirmu” Sehun berucap. Membuat alisku refleks berjengit lalu berubah menjadi kernyitan di kening. Dia memalingkan wajah, saat fokusku beralih padanya. Aku menghela napas, berusaha tidak peduli dengan peringatannya. Aku harus segera menyelesaikan wawancara ini dan kembali ke Manhattan secepat mungkin. “Apa yang memotivasi anda hingga menjadi pengusaha sukses di usia semuda ini ?”

Sehun tidak menjawab secepat yang aku harapkan. Alih-alih merespon pertanyaanku, netranya kini bergulir mengamati wajahku. Membuatku semakin tidak nyaman dengan keadaan saat ini. “Apa kau tidak ingin tahu kabarku ?”

Hatiku bergetar mendengarnya. Kini giliran netraku yang mencecar parasnya dengan rasa tidak percaya. Perasaan bahagia itu ada saat mengetahui dia masih mengingatku dan berbicara layaknya teman yang kembali bertemu. Namun disisi lain, ada sedih yang terpendam. Perasaanku untuknya tidak boleh berkembang.

Aku berdeham untuk mencairkan suasana. Dalam benak menyemangati diri untuk menyelesaikan interview ini secepat mungkin “Baiklah jika pertanyaan pertama tidak menarik minat anda untuk menjawab, saya akan beralih ke pertanyaan kedua. Bagaimana cara anda memonitor pegawai sehingga memiliki tenaga kerja yang professional ?”

“Aku mengejarmu ke bandara. Tapi terlambat, kau sudah pergi” Sehun menjawab di luar konteks. Jawaban yang membuat ku semakin sulit untuk berkata-kata. Dua untaian kalimatnya sukses membuat wajahku memanas. Rasanya seperti ada cairan yang ingin menerobos keluar dari pelupuk mata.

Aku membasahi bibir yang mendadak terasa kaku untuk bergerak merangkai kata. “Oh Estate Holdings bergerak di bidang properti. Apa anda memiliki rencana untuk menanam saham di bidang lain seperti… agensi hiburan ? Akhir-akhir ini Korea Selatan begitu dikenal berkat industri hiburannya

“Aku belum terikat dan tidak memiliki kekasih. Aku menunggumu kembali” kini netranya menatap lurus padaku. Maniknya yang berwarna cokelat gelap memancarkan sorot merindu. Aku tertegun pada keindahan manik itu. Sepasang manik yang dulu memandangku begitu lembut, kini kembali memandangku dengan cara yang sama setelah tujuh tahun berlalu. Ada rasa tidak percaya sebenarnya, namun ini terlalu nyata untuk kuanggap mimpi. Aku terbuai untuk sesaat, lantas buru-buru menyadarkan diri. Ini salah, aku tidak boleh memanjakan perasaanku.

Aku memejamkan mata, menggigit bibir tanpa sadar. Aku ingin mengendalikan diri sebelum kabur dari ruangan ini. Namun apa yang kudengar dari suara Sehun, malah semakin memperburuk keadaan. “Jangan menggigit bibirmu” dia menggeram. Secepat kalimatnya mengudara, secepat itu pula aku merasa tubuhku tertarik dan sesuatu yang lembab menyentuh bibirku. Aku hilang akal atas apa yang terjadi, kesadaranku kembali saat satu lumatan kecil diberi Sehun pada bibir bawahku. “Jangan menggigit bibirmu, sweetheart” dia berbisik di atas bibirku. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis.

To be continued…

A/n: maafin aku yang belom selesai namatin cerita lama eh udah bawa cerita baru lagi:( maafin juga kalo cara aku menceritakannya terkesan maksa. Ini tuh Cuma cerita pendek kok, mungkin bakal selesai 3-5 chapter tapi ga tau ya selesainya kapan hehe..

Scene di atas ngekopi scenenya fifty shades, tapi kelanjutan cerita ini ga bakal kayak fifty shades. Sehun ga akan meranin karakter Christian Grey dan Sera ga bakal meranin karakter Anastasia Steele. Cerita ini tuh cuma sebates FZBK—Friendzone Belom Kelar(?). Udah ya itu aja, semoga menghibur malam minggu kalian hehe see ya ^^

Interested ? Leave comments below. I’ll protect some parts:)

Advertisements

14 comments

  1. Hiii ka ,keeknya aq dah pernah baca ff kaka yg insane dehh tapi nga tu dah komen belom hahah ,dannnn ini ada ff seru atu lg dari kaka ,aq dah lama ga bca2 ff ..oya keknya aq komen di blog sblah,kalo nga salah deh ya hehehe ,,nextnya fighting ka ,

  2. suka banget ama ceritanya….
    sehun cool bgt deh, aq jadi ngebayangin dia pas nanti main di “dear archimedes” 🙂
    ada nyesek nya juga baca cerita ini, perasaan mereka dalem banget ya, sampe trenyuh aq 😥

    semoga sehun dan sera bisa bersama lagi 🙂
    harus happy ending ya kak 🙂 #maksa

  3. ternyata emg ambil beberapa part dari fifty shades of grey, kupikir sehun jg jadi christian grey di cerita ini(its fine aku jg blm cukup umur) (padahal bohong) (nyatanya udh 17thn) (udh pernah nonton jg)

  4. jadi aku suka bgt cerita dimana sehun itu punya karakter jd pimpinan perusahan, krn aku mungkin udh jatuh sedalam itu ya sama pesona sehun yg pke suit/jas,dasi dan segala tetek bengek yg dipakai sama pimpinan perusahaan, tp ini emg serius klo pesona sehun pakai hal itu bener gk bisa diabaikan begitu aja oleh gadis normal kya aku:D

  5. Kyaaaaa…. Aku suka nih jalan ceritanyaaaa,. Dasar sehunnn, coba aja dulu dia mau dengerin seraa, pasti mrk sekarang udah pacaran yang bikin iri prang lain ehh, ohh my god, panggilannya biay sera aja sweetheart, uhhh so sweet bgt sii sehunnn

  6. Eeeehhhmmm,,, dari partnya 1 nya aja keliatan bakalan asik nih ceritanyaaa
    dan menurutku juga gak terlalu berat konfliknya,,, manis juga ceritanyaaaa
    d tunggu next chap

  7. Eeeehhhmmm,,, dari partnya 1 nya aja keliatan bakalan asik nih ceritanyaaa
    dan menurutku juga gak terlalu berat konfliknya,,, manis juga ceritanyaaaa
    d tunggu next chap….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s